Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 28 Cerita sang petualang


__ADS_3

"Karena kalian lemah, maka kalian harus lebih realistis, bukankah begitu?" Tidak banyak emosi yang ditampilkan oleh Ren, atau dia sangat pandai menyembunyikannya. Namun Itu pernyataan itu benar-benar menusuk hati semua orang disana.


Antares dan Saga tidak terlalu peduli dengan kebebasan karena tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, keduanya tak akan bisa lepas dari Ren. Layani dengan sepenuh hati atau diperbudak selamanya. ungkapan tersebut cukup tepat untuk menggambarkan keduanya. Bahkan Ren, memiliki pemikiran yang serupa.


Namun, untuk tentu itu berbeda dengan orang-orang yang lain. Mereka lebih memilih kebebasan lebih dari apapun.


"Nah, akan kukatakan sekali ini, apakah kalian ingin membuat kontrak denganku? Ah, aku tidak memaksa kalian, jadi pikirkanlah baik-baik."


Arthur dan yang lain terdiam. Mereka bingung. Di satu sisi mereka sadar kalau diri mereka sangat lemah saat ini, namun di sisi lain mereka tidak tahu apapun tentang entitas didepan mereka saat ini. Ren sendiri juga tidak terlalu peduli dengan tawarannya sendiri, dan memilih untuk tetap diam.


"Yah, suasana makan malam ini tiba-tiba jadi berat. Mengapa kalian tidak menceritakan petualangan kalian? Aku masih penasaran dengan monster apa saja yang kalian kalahkan selama misi." kata Antares dengan nada anak-anak yang khas, sampai titik dimana beberapa orang mungkin menganggapnya sarkastik.


"Hm! Meski kami terlihat seperti ini, kami sebenarnya sangat kuat lho. Dulu kami pernah bertarung dengan harimau besar di dekat desa Rembayung, undead di medan perang Nor More, dan naga merah di Utara, kau tahu?" Saga tersenyum dengan bangga, yang segera menular ke anggota lain, Percival. "Kamu mau dengar bagaimana kami mengalahkan naga itu, Antares?"


"Waktu itu, kami mendapatkan misi untuk melindungi desa tertentu dari migrasi Orc bersama beberapa anggota yang lain. Cukup aneh bagaimana kami bisa mendapatkan ijin untuk mengikuti ekspedisi tersebut, padahal kami masih rank perak."


"Bukankah kalian masih grup rank perak?" Antares berseru.


"Hm? tidak, kami sudah mencapai rank platinum." Saga mengeluarkan sebuah lempengan logam yang terbuat dari platinum yang dijadikan sebagai kalung. "Kau lihat, kami ini sangat kuat. Menurut standar manusia."


"Hey, Antares bagaimana kamu berfikir kalau kamu hanya rank Silver? Maksudku, memang benar seharusnya kami masih berada di rank silver." Samantha bertanya dengan penasaran.


"Itu karena anak-anak di desa mengatakan kalian bahkan bisa mengalahkan Giant Bear dan Basilisk. Jadi kupikir itu pencapaian tertinggi kalian." Antares menjawabnya dengan polos.


Percival dan Ren tidak bisa menahan tawanya. Sementara yang lain hanya tersenyum.

__ADS_1


Memang benar, pernyataan itu tidak salah. Karena Giant Bear dan Basilisk normal hanya berada di tingkat bahaya 30an. Mereka bergerak sendirian dan tidak begitu kuat untuk rank Gold keatas. Namun mengalahkan mereka tetap menjadi prestasi yang hebat untuk petualang rank silver.


"Oh, sayang sekali aku tidak disana untuk melihat wajahmu saat itu." Ren berkomentar ringan diikuti oleh Percival.


"Jujur saja, entah bagaimana aku bisa membayangkannya. Ah, maaf menyela." katanya sembari menundukkan kepalanya yang dijawab dengan anggukan ringan.


"Entah mengapa... itu sedikit membuatku emosi." Antares memasukkan sesuap makanan kedalam mulutnya.


"Ya, mungkin seharusnya aku menyebutkan monster lain saat itu. Dan kalau kami tahu ada kamu di desa, kami tidak perlu repot-repot datang kemari." kata Arthur.


"Hm, itu keputusan sepihak dari kepala desa. Lebih dari itu, aku juga tidak yakin dia akan berkomunikasi dengan ku untuk masalah seperti ini. Bukankah begitu kek?"


"Tidak juga, aku sepenuhnya fokus ke hutan beberapa hari belakangan."


"Itu pasti melelahkan, setelah pertempuran ini, kamu bisa beristirahat dengan tenang, kakek Steve." Saga meneguk anggur merah yang sudah disediakan. "Setelah itu, kamipun pergi ke utara bersama rombongan petualang."


"Hei, kamu tidak perlu menceritakan bagian itu!" pipi Arthia sedikit memerah.


Melihat reaksi Arthia yang sedikit berlebihan, Antares merasa ada peristiwa lain yang terjadi di sana. Tapi, mungkin lebih baik untuk tetap diam untuk saat ini.


"Beruntungnya, mereka jadi mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan petualang lain dan dapat satu atau dua masukkan dari mereka. Jadi ekspedisi tersebut berubah menjadi perjalanan pelatihan mereka. Ah, waktu itu kami hanya memiliki 4 anggota, Arthur, Arthia, Percival, dan aku."


"Kalian bisa mencapai rank silver hanya dengan 4 anggota? bukankah kalian terlalu hebat? Bahkan kalian belum memiliki healer, kan?" Steve menyela.


"Arthia bisa menggunakan mantra penyembuh level satu. Selebihnya kami sepenuhnya bergantung dengan magic item dan potion." (Saga)

__ADS_1


"Bukankah potion terlalu mahal untuk digunakan secara berkelanjutan?" Samantha tiba-tiba merasakan kehilangan yang sangat besar.


"Benar, karena itu kami menggunakannya seminimal mungkin. Dan kami beruntung karena Saga dapat menggunakan semua magic item yang diperlukan dengan talentnya." Jawab Arthur.


"Nah, itu karena tidak ada yang bisa menggunakannya disana, jadi persyaratan khusus itu ditiadakan untuk sementara." Lagipula arti talent miliknya adalah memberikan harapan.


"Singkat cerita, kamu sampai di desa tersebut. Tempatnya berbatasan langsung dengan hutan besar yang memisahkan kerajaan dan rangkaian pengunungan utara. Dengan keadaan setengah hancur. Penduduk desa yang menyambut kedatangan kami tidak terlihat seperti manusia. Kulit mereka pucat, badannya kurus seperti kulit dan tulang, dan wajah mereka seperti 10 tahun lebih tua daripada umur seharusnya. Tidak ada satupun orang yang tersenyum, bahkan anak-anak sekalipun. Itu karena mereka selalu hidup dalam ketakutan dan keputusasaan."


"Mengapa mereka tinggal di sana?" Antares berusaha menanyakan pertanyaan bodoh tapi tidak menyentuh subjek sensitif sebisa mungkin.


"Mereka budak kriminal. Dan ada tambang emas disana." jawab Saga. "Kamu tidak tahu itu?"


"Tidak, aku juga baru tahu ada budak di negeri ini." kata sembari melirik kearah Ren.


"Apa? kamu milikku, namun bukan berarti aku menganggap mu budak." katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Tidak, kupikir itu sama saja." Saga berterus-terang.


"Mungkin itu sama saja." Kata Ren sembari mengangkat bahu.


Kata-kata itu membuat semua orang tersenyum pahit. Jika itu manusia biasa, setidaknya akan ada satu atau dua orang yang menegurnya di ruangan itu. Akan tetapi Ren memiliki otoritas sebagai eksistensi tingkat tinggi. Bagi mereka, manusia tidak lebih dari alat yang bisa dibuang dan serangga yang bisa dibunuh kapan saja.


Dunia itu tidak adil, tetapi ketika semua orang merasakan ketidakadilan tersebut, maka dunia itu adil.


(bersambung...)

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2