Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 5 Tarian dibawah rembulan


__ADS_3

(telah direvisi)


Ketika bulan mulai tergelincir dari titik tertingginya, suara lonceng menyebar hingga titik paling ujung dari desa Astera. Semua orang terbangun dengan malas, lalu ketakutan mulai mengambil alih pikiran mereka. Tidak menutup kemungkinan kalau beberapa orang akan tetap terlelap tak mempedulikan dunia, karena kelelahan.


Meski sudah bertugas ketika siang, Steve masih tetap bangun dengan bersemangat. Dia tidak mengeluh sedikitpun, malahan terukir diwajahnya seringai lebar layaknya binatang buas. Ia menguap sejenak, kemudian segera keluar sembari meraih sebuah busur besar di sisi ruangan.


Keadaan diluar sangat kacau. Dimana semua orang bergegas untuk pergi mengevakuasi diri. Bukan tidak mungkin desa ini akan musnah dalam semalam, sehingga mereka membawa perbekalan yang cukup untuk sampai ke desa sebelah. Steve hanya mengamati mereka dengan sedikit mendecak lidah kepada para pria yang berlari didepannya. Dia tidak terlalu peduli dengan penduduk desa yang lemah, karena mereka memang lemah. Paling baik mereka mungkin akan berguna untuk menjadi perisai daging. Walau begitu, bukan berarti para pria itu bisa pergi begitu saja ketika bahaya mendekat.


""Kakek! syukurlah anda sudah bersiap!" Seorang penjaga dengan baju pelindung kulit berkata dengan agak tergesa-gesa. Wajahnya nampak pucat kehabisan nafas, dan noda darah nampak jelas di pakaiannya.


"Oh, apakah anak itu sudah kuwalahan?" Kata Steve dengan nada ceria. Jujur saja, hampir sulit untuk menemukan hari dimana anak itu kesulitan. Namun kalimat selanjutnya segera membuat perasaan kakek tersebut membeku.


"Ya, dia sedang menghadapi 3 Goblin Warrior dan satu Goblin Barbarian di post utara saat ini!"


"Haaa!! Kamu berguraukan?!"


Momok mengerikan yang disebut Goblin Warrior bukanlah nama yang asing bagi Steve. Fakta kalau salah satu dari mereka muncul sudah menjadi alasan yang cukup untuk untuk membunyikan lonceng itu. Dalam pertempuran langsung satu lawan satu, Steve masih percaya diri mampu mengalahkan Goblin Warrior.


Dan kau bilang anak itu tengah menghadapi 3 sekaligus? Mengingat bagaimana kepribadian Antares, dia pasti menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan! Bajingan itu!


"Ayo Pergi!" Seru Steve sembari berlari kearah yang paling berisik tanpa menengok kebelakang.


Sementara kecepatannya sebagai Ranger mampu membuatnya menempuh jarak 100 meter dalam 12 detik. Dia masih membutuhkan waktu untuk mencapai post utara.


Goblin Barbarian? Aku merasa pernah mendengarnya. Kalau tidak salah itu salah satu jalur evolusi dari Goblin Warrior. Dikatakan kalau setiap dari mereka cukup kuat untuk bertarung melawan para kesatria terlatih dengan seimbang. itu berarti mereka setidaknya monster rank 5, atau mungkin 6. Ini buruk! kuharap kamu masih hidup, bocah!


Setelah beberapa saat, sekelompok orang yang berbaris rapih akhirnya terlihat. Mayat Goblin nampak berserakan disekitar mereka, namun anehnya tidak ada yang lain. Seolah pertempuran itu sendiri sudah dimenangkan. Akan tetapi, ilusi tersebut dibuyarkan dengan cepat oleh suara raungan dan besi yang saling beradu.


"Apa yang terjadi, oi?" Steve menarik salah satu penjaga di bagian paling belakang.


"Oh, kakek! Kamu akhirnya sampai juga! Syukurlah!"

__ADS_1


"Berhentilah menangis dan jelaskan situasinya kepadaku!"


"Bukannya Eru sudah mengatakan semuanya?"


"Jelaskan lagi!" Seru Steve dengan sedikit melirik ke samping.


"Kamu tidak mendengarnya ya." Wajah si emosional si penjaga segera runtuh sedatar papan kayu. "Huu... Nampaknya ini gelombang yang besar seperti 2 tahun lalu, hanya saja jauh lebih besar. Kami sudah menghalau sekitar 50an goblin, menyisakan pasukan utama mereka di sisi seberang. Saat ini kedua sisi tengah menarik pasukan, dan Antares sedang melakukan pertandingan dengan 3 Goblin Warrior di depan sana. Total keseluruhan dari kelompok diperkirakan berkisar 300an goblin."


"Anak itu masih hidup?" Steve merasa tidak percaya dengan penjelasan si penjaga.


"Aku bisa mengalahkan beberapa Goblin Warrior rank 4 sendirian, jadi kumpulkan semua kekuatan kita saat sampai saat itu tiba, begitulah katanya." sahut sang penjaga


"Lanjutkan tugasmu."


"Siap pak!"


Steve memberikan anggukan kuat kepada penjaga didepannya. // Jika ini keadaan normal, mereka pasti akan gemetar ketakutan hingga selangkangannya basah. Terutama jika harus menghadapi Goblin Barbarian yang perkasa. Anak itu sudah melakukan tugasnya dengan baik, meski masih bau kencur. Mungkin inikah yang disebut kecemburuan untuk orang-orang yang berbakat? Ah, bagaimana anak itu masih tetap rendah hati dengan bakat seperti itu? Haruskah aku membuatnya sedikit 'percaya diri'?


*klang! klang! klang! bam......!*


Wajahnya tidak berubah? Tidak, mata itu, Trance! Disaat seperti ini? Bajingan! // tanpa terasa mulut Steve telah tertarik menjadi seringai lebar.


Steve seakan kehilangan kata-katanya. Dihadapan musuh yang jelas diketahui jauh lebih kuat, seseorang biasanya akan panik dan membuat banyak kesalahan yang tidak perlu. Namun keadaan itu berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat saat ini. Antares memasuki kondisi fokus, dimana perhatiannya hanya tertuju kepada setiap serangan yabg datang kepadanya. Pada saat itu, setiap indra dalam tubuh seperti menembus ranah baru dimana segala sesuatu disekitarnya bergerak melambat. Dia akan menghindari mata kapak di depannya dengan gerakan minimal, kemudian dia langsung melakukan serangan balik dengan gerakan diagonal dari bawah. Tentu saja itu tidak cukup untuk menjatuhkan Goblin Warrior, karena dia langsung melompat ke belakang.


Seni bertarung tidak jauh berbeda dengan seseorang yang berjalan diatas tali. Posisi, gerakan, keseimbangan, serangan, bertahan, maju, dan mundur, semuanya terjadi dalam waktu singkat dan bersamaan, dimana sedikit kesalahan akan mengurangi daya yang dihasilkan dari suatu gerakan. Belum lagi memikirkan strategi yang tepat dan membaca strategi lawan dalam satu waktu akan membuat otak kuwalahan. Oleh sebab itu, biasanya para petarung akan membagi proses tersebut menjadi dua. pertama ialah gerakan dasar yang diserahkan kepada alam bawah sadar dan reaksi. Dan kedua, sesuatu yang diproses secara langsung dan sadar. Keadaan ini akan sedikit berbeda ketika seseorang memasuki keadaan trance, dimana pikiran itu sendiri tidak berfungsi dan semuanya digerakkan oleh alam bawah sadar. Dengan begitu, sedikit distrupsi bisa membuatnya terjatuh.


Steve tidak terlalu terkejut dengan performa Antares yang jauh melebihi levelnya. Seseorang bisa melawan monster yang berlevel lebih tinggi dalam rentang tertentu dengan kecakapan yang cukup. Bahkan dirinya yang lebih lemah dari petualang kelas Besi bisa dan mampu untuk mengalahkan Goblin Warrior dengan teknik bela diri saja.


Nampaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan bajingan kecil itu, heh. Dasar, bajingan! //Steve tidak bisa menahan senyumannya. Kemudian ekspresinya segera mengeras. // Masalah utamanya, ialah dia.


Perhatian Steve tertuju kepada Goblin kecil dengan perawakan besar. Hanya mengenakan celana pendek atau mungkin hanya kacut, dan pedang yang lebih besar darinya. melihatnya saja sudah membuat pria tua itu merinding ketakutan. Semakin ia memperhatikannya, sosok goblin tersebut seperti menjadi lebih dan lebih besar hingga mencapai tinggi 5 meter.

__ADS_1


Tidak peduli dengan seberapa besar potensi yang sanggup di keluarkan oleh Antares setelah trance, tapi Goblin itu lawan yang sangat merepotkan! // Trance memang memberikan sedikit peningkatan performa bertarung seseorang, namun efeknya tidak begitu besar.


Sedikit demi sedikit, arus pertarungan antara Antares dan 3 Goblin Warrior mulai berubah. Antares yang awalnya terpojok kini mulai mendominasi.


Semuanya akan jauh lebih rendah jika anak itu bisa menggunakan semua kartunya. Namun Ren mengacau disaat kritis seperti biasa. Saat ini Antares hanya bisa mengungkapkan kartu dari Steve saja. Walau begitu, semua itu sudah cukup bagi Antares.


Seseorang akan langsung mati jika melawan lawan dengan perbedaan 10 level. jadi, Antares memiliki stat level 13 melawan 3 monster level 11-12. Bisa dikatakan kalau pertempuran ini seimbang. Namun, anak itu juga mendapatkan apa yang setiap pelayan Ren dapat, kemampuan untuk mengeluarkan hampir 100% potensinya. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia akan tetap berada dalam kondisi puncaknya. Meski ototnya terkoyak, organnya tertusuk, ataupun anggota badannya terpotong sekalipun.


Lagipula, warrior tidak bertarung dengan mana, melainkan stamina. Dan Nightwatcher menyerap energi dari kegelapan malam. Dalam sudut orang lain, itu akan terlihat seperti anak itu menjadi lebih kuat dalam pertempuran.


Semua orang bisa menjadi lebih kuat setelah melalui pertempuran hidup dan mati, hanya saja perkembangan Antares jauh lebih cemerlang.


Semua orang menahan nafas mereka untuknya, sementara musuhnya tersenyum lebar untuknya. Setiap reaksi, setiap sensasi, setiap emosi, seakan menempa otot dan tulangnya. seolah setiap sel dalam tubuhnya berteriak, 'Aku bisa melakukannya!'


1 jam berlalu, 1 Goblin akhirnya tumbang. Sayatan memenuhi tubuhnya, membuatnya kehilangan terlalu banyak darah dan membuat gerakannya melambat. Sebagai salam perpisahan, Antares melubangi dada kirinya menggunakan pedangnya.


Mengetahuinya salah satu rekannya telah jatuh, dua Goblin yang tersisa memilih mundur sejenak. Mereka mengambil nafas panjang untuk menghilangkan keletihan di badannya. Antares mengambil kesempatan itu untuk memperlebar jarak diantara mereka. Meski dia terlihat kuat, kondisinya tidak jauh lebih baik daripada para Goblin. Dia beruntung karena [Variabell Collapse] membuatnya tidak perlu merasakan kelelahan meski Hp dan Staminanya diambang 30%. Kekurangan darah tidak akan memperlambat gerakannya, jadi Antares secara otomatis mendapatkan keunggulan. Ditambah lagi kekuatannya yang terus berkembang sepanjang pertempuran tersebut, para Goblin itu harus bertarung dalam kerugian.


Keduanya melakukan kontak mata satu sama lain, lalu menatap Antares dengan serius.


"Krissa Rekresy criveuk!"


Kedua Goblin itu tahu kalau anak didepannya tidak mengerti bahasa mereka, namun itu tidak menghalangi mereka untuk memberikan pujian kepada lawan yang tangguh. Mereka juga tidak berniat untuk mundur, percaya kalau Goblin Barbarian dibelakangnya akan membalas kekalahan mereka. Kematian dalam pertempuran, merupakan sebuah kehormatan yang besar.


Goblin dengan tombak maju terlebih dahulu, menusukan pedangnya dalam gerakan lurus. Antares menghindarinya dengan satu nafas. Si Goblin langsung menariknya, kemudian mengayunkan tombaknya dengan aliran lebar. Antares menghindari dengan lompatan lebar, kemudian dia menahan bilah tombak dengan pedangnya. Goblin yang lain datang dari arah yang berbeda.


Si Goblin melompat tinggi keudara, kemudian menghujamkan kapaknya ke tanah dengan dorongan gaya sentrifugal. Kali ini Antares memilih mengambil langkah ke depan. Memposisikan dirinya dalam posisi berbahaya diapit dua musuh. Gerakan si pengguna kapak menjadi sedikit melambat karena berat dari senjatanya. Mengambil kesempatan itu, Antares segera menendang si Goblin tepat diwajah hingga terpental beberapa meter dengan jejak yang jelas di permukaan tanah. Selanjutnya Antares mengurangi jarak dengan pengguna tombak, namun si Goblin sudah menyerangnya lebih dulu. Antares sekali lagi menahan ayunan tombak tersebut dengan pedangnya. Kali ini si Goblin langsung menariknya kembali, kemudian menyerang dengan gerakan menusuk dalam rentetan panjang.


Antares terpaksa mengambil langkah mundur. Kemudian dia melakukan backflip untuk menghindari kapak yang terayun dari belakangnya. Kapak dan tombak yang saling beradu terdengar nyaring di telingan untuk sesaat. Kemudian ketiga individu tersebut saling beradu serangan dan tangkisan dalam rentetan panjang yang menegangkan.


Seperti itulah, pertempuran yang maju dan mundur berlangsung hingga salah satu sisi tumbang. Akan tetapi satu hal yang pasti, Antares mulai berada diatas angin.

__ADS_1


(Bersambung...)


♦♦♦


__ADS_2