Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 18 Mimpi dan Harapan.


__ADS_3

"Kalian mau tahu rahasianya?"


"Tentu saja!" Percival dan Hiiro berteriak bersamaan.


"Kami menambahkan beberapa rempah segar yang hidup disekitar sini seperti seledri dan daun bawang...." Kemudian sang penjaga menjelaskan semua jenis bahan yang digunakan, proses pembuatan, hingga penyajian dan sebagainya. Sementara Percival, Hiiro, Thalia, dan Athia mendengar dengan seksama, seolah tengah menghadiri kelas.


"Jadi? Bagaimana kamu bertemu dengan Dewa Mimpi?" Arthur bertanya kepada Saga yang tengah menikmati sup kentangnya dalam diam.


(Gulp...) "Hm, itu dimulai ketika aku dijual ke pedagang oleh orang tuaku. Sebagai anak termuda di keluarga, aku dianggap sebagai beban dalam keluarga yang cukup berkurang. Awalnya kami merupakan keluarga yang harmonis, dengan segala kesederhanaan yang kami nikmati. Setiap hari kami hanya makan sup kentang tanpa rasa dan roti keras yang terbuat dari kulit gandum. Namun, semuanya tiba-tiba berubah setelah ayah tidak kembali dari peperangan. ..." Saga bercerita hampir tanpa emosi, seolah dia tengah menceritakan tentang orang lain. "Kondisi kehidupan desa yang berat membuat ibu akhirnya jatuh sakit. Orang tua yang kuat mengetuk rumah kami tidak lama kemudian. Keduanya mengobrol panjang lebar didalam rumah sementara aku dan saudara-saudaraku menunggu di luar. Setelah itu, aku dibawa oleh pria berbadan besar tersebut. Ah, waktu itu usiaku baru 7 tahun."


Cerita klasik yang terlalu sering terjadi di keluarga yang miskin, sampai Arthur tidak lagi merasakan simpati kepada orang-orang itu. Cerita Saga yang langsung ke pada intinya tanpa bumbu drama sedikitpun membuatnya tambah tidak menarik. Namun, Arthur tahu seberapa besar rasa sakit yang dideritanya ketika akhirnya mengetahui tentang kebenarannya.


"Setelah itu, mereka memakaikan kerah kepadaku, memandikanku, kemudian memajangku di aula bawah tanah dalam keadaan telanjang. Itu lebih seperti event besar yang terjadi setiap tahun sekali, yang dihadiri orang-orang gemuk yang mengenakan topeng. Tatapan mereka seperti ular yang menakutkan, sementara senyuman mereka seperti benda menjijikkan yang tengah menjilati badanku. Tentu saja, ada banyak anak dari berbagai usia dan kelamin yang ada disana."


"Singkat cerita, aku dibeli oleh seorang pria berpakaian bagus yang agak kurus. Dia membawaku ke mansion besar di tepi hutan. Kemudian, aku menerima perlakuan yang normal untuk sebuah budak. Yah, ketika siang hari aku akan dipasangi alat sihir tertentu sedangkan malam hari dia akan melakukannya secara langsung. Kemudian sebulan berlalu begitu saja, dia mulai kehilangan ketertarikannya kepadaku dan membawa anak baru. Aku di lemparkan ke ruang bawah tanahnya yang dipenuhi bercak darah dan anak-anak yang sudah menyerah untuk hidup. Setiap hari seseorang akan datang untuk melakukan apapun yang mereka inginkan, mulai dari permainan, hadiah, hukuman, atau sekedar menyiksaku saja. Lalu, ketika kewarasan terakhirku mulai menghilang, dia datang. Aku tidak melihat rupanya, tapi aku tahu kalau dia anak kecil. 'Apa kamu masih ingin hidup?' tanya anak itu padaku. Saat itu aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemah. 'Apa kamu bersedia menjadi pelayanku?' tanya anak itu lagi. Aku sempat berfikir kalau mereka ingin memainkan permainan yang baru. Dengan segala trauma yang telah tertanam dalam fisik dan mentalku, aku hanya bisa mengangguk pelan. Ren menyeringai, aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahi dia tengah menyeringai. 'Kalau begitu, mulai dari sekarang kamu adalah milikku' dia seperti menyatakan itu kepada dunia. Setelah itu, tanda ini terukir di leherku..." Saga berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Ah, dia juga pergi ke anak-anak lain dalam ruangan tersebut dan menyatakan pertanyaan yang hampir serupa. Dari semuanya mengiyakannya tanpa mengetahui kalau kami baru saja membuat kontrak dengan keberadaan transendental."

__ADS_1


"Jadi, dia tidak datang sampai kamu berada di ambang kehancuran? Bukankah itu agak terlalu kejam?" Arthur tidak habis pikir dengan pikiran keberadaan yang disebut dewa Mimpi tersebut. "Tunggu sebentar, apakah kamu baru saja memanggil namanya begitu saja?"


"Hu? 'Sakarang katakanlah seperti yang kukatakan, Night Watcher' katanya dengan suara lembut namun kekanak-kanakan. Ketika kami mengatakannya, kekuatan yang dahsyat tiba-tiba mengalir dalam nadi melalui tanda ini. Kami, anak-anak tak berdaya yang selangkah lagi menuju kematian tiba-tiba memiliki kekuatan yang hebat. Kami sangat terkejut, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lalu kami mendongak ke atas. Pada saat itulah pertamakali aku melihatnya, wajah rupawan bagaikan mutiara dan mata merah cerah bagaikan bintang malam. Ketika dia tersenyum, aku merasa seluruh cahaya didunia ini menghilang karena iri. 'Aku adalah pemilik kalian yang baru, panggil saja aku Ren' begitulah katanya. Sejak saat itu kami terbiasa memanggilnya sebagai Ren."


"Begitukah? Rasanya agak sulit dipercaya." Arthur memberikan komentar ringan.


"Tidak, dia bahkan tidak mengatakan Nama Kehormatannya! Apakah itu mungkin? Saat bertemu dengan Dewi Liira, dia lebih kearah, 'Thalia putri ku, apakah kamu tidak mengenaliku?' semacam itu."


"Benar, mengapa hal pertama yang dia katakan, 'Apakah kamu masih ingin hidup?' Bukankah dia lebih terdengar seperti kau tahu, setan yang menggoda manusia?" Athia menambahkan, sementara Samantha mengangguk kuat dibelakangnya.


"Dan saat perkenalan, mengapa dia justru berkata, 'Aku adalah pemilik baru kalian, namaku Ren?' bukan seperti 'aku dewa mimpi dan kerahasian' atau sejenisnya?" Percival sedikit memiringkan kepalanya.


"Yang aku tahu, Ren sangatlah kuat dan dia tinggal si Dream World itu saja. Dia tidak pernah mengatakan apapun kepadaku dan hanya berprilaku toxic disekitar kami. Itu saja."


"Itu tidak membantu sama sekali, Thalia, Samantha, kalian tahu sesuatu?"

__ADS_1


"Kami memiliki banyak kasus yang berhubungan dengan Night Watcher. Sementara tidak ada dokumen yang terpercaya mengenai Dewa tersebut. Dia tidak memiliki kuil, tidak ada pendeta yang menyebarkan ajarannya, dan tidak event tertentu untuk memperingatinya. Seolah-olah Dewa Mimpi dan Kerahasian itu sendiri sama sekali tidak ada. Bahkan kita tidak tahu kapan dia menjadi dewa." Thalia menggelengkan kepalanya.


"Di dunia bawah, seorang Night Watcher sering disetarakan dengan dewa Kematian itu sendiri. Tidak peduli seberapa besar hadiah yang janjikan, tidak akan ada yang berani mengambilnya bila targetnya terkonfirmasi sebagai Night Watcher. Seperti yang Thalia bilang, setidaknya ada 102 Night Watcher yang diketahui hidup saat ini ditambah mas Saga dan Antares. Jumlahnya bisa lebih dari itu, namun tidak diketahui pastinya. Sebagian dari mereka memiliki objektif yang sifatnya pribadi, sementara sisanya hanya hidup seperti manusia normal. Tidak ada aktivitas apapun yang bersifat kultus baik secara nyata ataupun rahasia, tidak ada sama sekali. Seolah mereka tidak mengenal satu sama lain."


"Aneh, biasanya para dewa akan mencoba mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin. Namun Dewa Mimpi dan Kerahasian tidak melakukannya, seolah dia hanya datang bila ada seseorang yang menarik perhatiannya saja. Terlebih lagi, dia bahkan mendatangi budak biasa yang tidak memiliki kekuatan, harta, dan kekuasaan apapun yang cukup berpengaruh di dunia nyata. Ini tidak masuk akal." Arthur menggelengkan kepalanya.


Semua orang termasuk para penduduk yang mendengarkan percakapan tersebut juga ikut terdiam. Mereka seperti mendengarkan sesuatu yang surreal, dan sulit dipahami. Kata-kata yang mereka dengarkan seperti masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Kemudian lupa setelah beberapa menit berlalu.


"Apakah dia pernah memerintahkanmu melakukan sesuatu yang jahat?" Steve bertanya pada Saga dengan tatapan tajam.


"Itu tergantung dari perspektif masing-masing orang, namun sebenarnya, dia tidak pernah memaksakan sesuatu kepada selain dilarang minum alkohol, membuang waktu, mencari-cari keburukan orang lain dan hal kecil seperti itu."


"Bagaimana dengan melawan musuh dan sebagainya?"


(Bersambung...)

__ADS_1


♦♦♦


Mengapa Ren dianggap dewa? Jika dia seorang dewa, maka nama kehormatannya seharusnya Eternal Darkness, End of Everything, Singularity of All


__ADS_2