
Melihat bangunan besar yang menyajikan berbagai macam barang tersebut, membuat Antares cukup terkejut. Bahkan Steve sempat mengira kalau dirinya berdiri dalam sebuah gudang kerajaan daripada toko. Itu lebih mirip seperti 4 bangunan besar yang dijadikan satu. Satu untuk bahan pangan, satu untuk ransum militer, dan satu untuk perhiasan.
Apakah bisnis di Rimun semenguntungkan itu? // tanya Antares dalam hati. Kalau dilihat sekilas, setiap ruangan dipenuhi oleh tipe orang yang berbeda. Bangunan satu dipenuhi oleh pelayanan yang membeli bahan pangan untuk tuannya. Bangunan dua lebih kearah remaja pria dan para petualang dalam armor mencolok. Sementara bangunan ketiga dipenuhi remaja wanita yang berasal dari kalangan kelas atas saja. Ada juga beberapa pria yang membeli cincin dan kalung dengan senyum tipis. Mungkin ia akan memberikannya kepada seseorang sebagai hadiah.
Kelas bangsawan memang beda. // komentar Antares.
"Ayo masuk, kuharap ia tidak sibuk." Setelah memandangi cukup lama, keduanya segera masuk ke salah satu skat. Yaitu yang paling sebelah kiri, skat untuk bahan pangan.
Begitu masuk, mata semua orang tertuju pada Antares. Wajahnya yang selembut sutra, halus sempurna tanpa cacat, dihiasi sepasang permata biru gelap serta rambut emas membuat siapapun yang melihatnya akan berdegup kencang. Begitu mata mereka bertemu, pelayan itu akan mengalihkan pandangannya sembari tersipu malu.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu kakek Steve, dek Antares?" tanya salah satu pelayan toko dengan senyuman hangat. Ia merupakan salah satu pelayan yang ikut dalam ekspedisi beberapa hari yang lalu. Jadi ia sudah mengenal keduanya. Ia sudah melihatnya keberadaan kedua orang tersebut semenjak Steve dan Antares berdiri diam di depan toko, namun memilih untuk tetap diam.
"Yo mbak Delly apa kabar? kamu terlihat sangat sibuk seperti biasa." Tanya Antares dengan bersemangat yang mana membuat wajah keras wanita muda bernama Delly tersebut sedikit melunak.
Sementara itu, para pelayan yang melihat interaksi dengan keduanya saling berbisik-bisik dengan antuasias
"Terimakasih kepada tuan Gustav, saya hidup berkecukupan. Juga terimakasih kepada anda berdua kami bisa sampai di kota Rimun dengan selamat." Katanya sembari membungkukkan badan.
"Tidak perlu dipikirkan, tapi boleh aku tanya, apakah bangunan sebelah juga milik nak Gustav? dan apa toko ini selalu ramai?"
"Ya, salah satu nilai jual dari pedagang ialah namanya. Dan tuan sudah dikenal dalam circle kelas atas sebagai pedagang jujur yang menjual produk berkualitas. Jadi toko akan selalu ramai setiap hari. Toko di sebelah, juga menjadi hak miliknya secara permanen."
"Itu wajar saja setelah melihat isi kereta itu."
"Hehe, kami perlu bekerja ekstra untuk menjaganya tetap dalam kondisi terbaik. Oh ya, ada apa kalian gerangan kemari? Apakah kalian ingin bertemu dengan tuan Gustav? Ataukah justru membeli perlengkapan untuk ekspedisi?" Ia tahu, keduanya merupakan seorang pengembara yang sangat kuat. Terutama si kakek, jadi dia berfikir Keduanya hendak melakukan ekspedisi lainnya.
"Tidak, kami ingin bertemu pak Gustav, apakah beliau ada? Kalau dia sibuk, kami bisa menunggu sembari melihat-lihat." Antares melihat beberapa bahan yang cukup sulit untuk ia temukan secara alami hutan, seperti garam dan gula, daging monster yang hanya dihidup di daerah selatan, sayuran yang hanya tumbuh di dataran tinggi, dan sebagainya.
"Baik, saya akan segera kembali." Delly membungkukkan badannya sekali lagi, kemudian ia segera pergi melewati pintu belakang.
__ADS_1
Steve berdiri bersandarkan tembok, melihat anak kecil itu keluyuran dalam toko, memilah bahan yang menarik perhatiannya. Tidak berselang lama, sekelompok preman datang ke toko tersebut. Membuat kegaduhan dalam toko. Steve hanya mengernyitkan dahi ketika ia melihat para penjaga dan preman tersebut berseteru. Para pelayan yang ada segera menjauh agar tidak terlibat dalam perkelahian, sementara itu lara prajurit yang dibanggakan dukedom masih belum juga datang.
"Ada apa ini, apa alasan kalian membuat kekacauan disini?" Suara yang khas datang dari belakang. itu adalah pria paruh baya yang lebar, Bernard Gustav.
"Gustav apa kamu sudah pikun? Kamu belum membayar utangmu untuk bulan ini, jadi boss mengirim kami kemari untuk menariknya?."
"Oh, hutang? Mengapa aku belum pernah mendengarnya. Siapa nama boss yang memberikan hutang padaku itu?"
"Namanya Steve Emmanuel yang hebat! Dia adalah pria yang sudah menaklukan Naga seorang diri."
Bernard sedikit terkejut ketika preman paling besar itu mengatakan nama yang familiar. Begitu pula Steve yang menonton dari tadi di sudut. Sementara itu Antares mencoba untuk tetap berwajah datar dengan sudut mulut yang naik turun.
"Aku percaya, aku tidak berhutang uang padanya. Selain itu, beliau tidak akan mengirimkan orang-orang barbar seperti kalian kemari untuk melakukan hal sepele seperti ini."
"Tidak peduli alasannya, pokoknya kamu haru bayar 500 keping emas sekarang juga, atau kami akan hancurkan tempat ini!" ancamnya lagi.
"Bocah, beraninya kamu menertawakan kami! Apa kamu mau rumahmu dihancurkan oleh Steve!?"
"Ya benar, hancurkan rumahnya, dan serahkan anak itu kepada boss!" kata preman lain.
"Ini, apakah mereka orang-orang anda kakek?" Tanya Gustav yang agak terkejut. Delly belum sempat menyebutkan nama kedua tamu tersebut ketika pelayan lain merangsek masuk dan mengadukan apa yang terjadi.
"Kamu kenal mereka Antares?"
"Ha.... perutku sedikit sakit. Hm, aku kenal mereka, kalau tidak salah anggota dari geng Serigala Hitam yang menguasai dunia bawah." mendengar kata serigala hitam, wajah semua orang tiba-tiba menjadi pucat. "Jadi, aku rasa tidak masalah untuk memanggil penjaga dan menjebloskan mereka ke penjara."
"Apa kamu sudah gila! Aku tidak tahu darimana kamu mendengar nama tersebut, tapi sebaiknya kamu tidak berkata sembarangan." Salah satu palayan yang hadir memarahi anak itu dengan keras.
Karena memang nama tersebut sedikit tabu dikalangan kelas atas.
__ADS_1
"Jadi begitu rupanya..." Namun Bernard justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Semuanya, tanggap anak dan kakek tua itu! Bawa mereka kepada boss!"
"Siap!"
Steve hendak melangkah maju, hanya untuk ditahan oleh tangan Antares. Ia melihat senyuman tipis di wajah si anak, kemudian memutuskan untuk mundur.
"Jangan buat terlalu banyak kegaduhan." pinta Steve.
"Tidak perlu khawatir, [Transmutation]." Antares merapalkan salah satu mantra tingkat rendah yang ia ketahui.
Lingkaran sihir terbentuk di depan telapak tangannya, kemudian cahaya kemerahan menyelimuti tubuh para preman tersebut.
Untuk sesaat, semua orsng terkejut karena anak tersebut mampu menggunakan sihir tingkat 2 diusia yang masih 10-12 tahun tersebut. Kemudian mereka terkejut karena ank tersebut mengubah para preman tersebut menjadi siput. Pelayanan yang memarahinya beberapa saat yang lalu juga berkeringat dingin ketikan melihat kejadian tersebut.
"Seharusnya kamu menyisakan satu orang untuk diinterogasi." tegur Steve.
"Kurasa itu tidak perlu, karena pak Gustav sudah tahu siapa dalang dibalik semua keributan ini." katanya dengan nada polos.
Pernyataan tersebut membuat Gustav sedikit terkesiap. Begitu juga dengan orang-orang yang berada disana.
"Nah, mari kita bicarakan itu didalam. Mari masuk Kakek Steve, nak Antares."
Nama yang keluar dari mulut Bernard tersebut membuat semua orang terpelongo sekali lagi.
(bersambung...)
♦♦♦
__ADS_1