Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 30 Night Watcher


__ADS_3

*Antares PoV*


Ketika seseorang menggunakan teknik tertentu untuk memperkuat dirinya sendiri, biasanya mereka akan mendapatkan buff sekian persen. Sehingga seseorang mungkin akan menjadi sedikit lebih kuat. Hal tersebut juga terjadi pada ku dan Saga. Masalahnya, peningkatan ini lebih di tujukan pada level, dimana setiap naik level kekuatan seseorang akan meningkat secara eksponensial. Jadi, ini lebih dari sekedar 2 atau tiga kali lebih kuat. Jujur, kalian akan lebih mudah memahaminya jika aku bilang, setiap stat akan di gandakan selama penggunaan skill. Jadi Saga memiliki stat yang setara dengan seseorang level 60, tinggal satu langkah lagi menuju ke alam para demigod.


Selain itu, setelah ini aku tidak berniat menyembunyikan kekuatanku lagi. Jadi, kemenangan sudah dipastikan akan didapatkan.


"Ayo pergi."


Saga mulai berjalan didepanku dengan langkah perlahan. Badannya yang tinggi dan dan pelindung yang lebar membuat Saga terlihat seperti tembok baja yang akan melindungi orang berharga baginya. Sensasi tersebut diperkuat lebih jauh lagi dengan aura menekan yang dipancarkan olehnya. Perasaan tersebut sedikit membuatku iri. Walau pada sisi lain, aku tidak ingin memiliki tanggung jawab sebesar itu dipundakku.


Mengusir pemikiran tersebut, aku berfokus pada musuh yang mungkin datang dari berbagai arah. Berdiri didepan, Saga terus melepaskan laser cahaya yang merenggut nyawa goblin yang menghadang. Dengan perbedaan kekuatan yang nyata, bola sebesar setetes air yang dilemparkan Saga sudah lebih dari cukup untuk membunuh para goblin dalam sekejap.


Kami melalui beberapa lorong, siku, dan persimpangan sebelum akhirnya sampai di ruangan yang cukup besar. Terdapat beberapa goblin yang tengah beradu pedang. Dilihat dari proporsi badan dan gerakannya, mereka setidaknya level 31 dari kelas Warrior.


"Siapa kalian!" Goblin itu bertanya dengan bahasa manusia.


Aku tidak ingin menjadi tidak sopan, tapi aku langsung membakar habis semua yang ada di ruangan tersebut dengan [Firestorm]. Mereka tenggelam dalam lautan api, kemudian menghilang dari dunia ini dalam sekejap.


Sepanjang waktu itu Saga tetap diam, mungkin karena merasakan perubahan emosi pada diriku. Nah, lebih dari setengah perubahan ini disebabkan oleh Ren. Jadi aku akan menyalahkannya tidak peduli apapun yang terjadi. whatever.


Tidak aku sangka, kobaran api tersebut meluas hingga ke lorong dan memasuki ruangan yang lain. Pengumuman terus muncul pada layar HUD milikku.


Ah, apakah aku sudah bilang sistem ini tidak bisa mengidentifikasi data lawan? Aku lupa. Tapi, setidaknya aku masih bisa melihat Hp milik mereka. Aku juga menggunakan kekuatan setara dengan lv 60.


"... Ayo pergi." Kata Saga setelah diam sejenak.

__ADS_1


Aku memberikan anggukan kecil padanya, dan hanya mengikutinya dalam diam.


Kami bertemu dengan anggota Crimson Vortex yang lain setelah beberapa saat, tidak jauh dari penjara bawah tanah. Aku tidak terkejut setelah melihat beberapa orang menggunakan Night Watcher mode. Menyipitkan mataku, ada 3 orang yang menjadi Night Watcher. Sigur si Barbarian, the Reaper Samantha, dan Fairy Flower Arthia. Semuanya mengenakan pakaian dengan tema hitam gelap dan detail yang menggambarkan elemental mereka. Putih-silver untuk Arthia, ungu pucat untuk Samantha, dan merah-darah untuk Sigurd. Hm? nampaknya Arthur syok saat melihat Arthia menjadi Night Watcher? hehe, menarik.


Dilihat dari kondisi mentalnya dan keadaan kami, tidak ada alasan bagi Artia untuk menolak tawaran Ren, jadi mengapa Arthur begitu terkejut? Arthur sendiri nampaknya masih kebingungan. Percival juga dalam kondisi yang sama.


"Hai Saga! Kami hendak ingin pergi ke tempat kalian!" Arthia menyapa dengan energik. Bahkan mata amatir sepertiku tahu kalau tidak ada rasa romantis dalam kalimat tersebut.


"Aku mengerti mengapa Sigur dan Samantha menerima tawaran dewa mimpi, tapi mengapa Arthia juga?!" Percival berseru dengan dramatis hingga air matanya keluar.


"Memangnya apa yang salah dengan itu? percaya atau tidak, kamu juga akan menerima tawaran Ren kalau kamu merasakan apa yang kurasakan saat ini!" Arthia nampak dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Aku tidak mengerti, dan kamu memanggil nama dewa itu begitu saja? apa kamu ingin mendapatkan hukuman ilahi?!"


"Benarlah? Aah maaf, aku menyebutkannya begitu saja."


"Yeah, aku merasa sangat kuat! Jauh lebih dari Saga yang biasanya. Aku merasa bisa mengalahkan Orge merah itu sendirian saat ini."


"Benarkah? itu hebatkan? Kau yakin kekuatan tersebut tidak membutuhkan harga besar?


"Kamu akan mengerti jika kamu melihatnya sendiri."


Percakapan tersebut berlangsung beberapa saat sampai kami melanjutkan ekspedisi. Sejak saat itu, Setiap lorong dan ruangan dipenuhi oleh Goblin. Aku dan Saga hanya diam dibelakang, membiarkan Sigur, Samantha dan Arthia memperlihatkan kekuatan barunya. Tentu saja, itu membuat Arthur, Percival, dan Noril melongo. Peningkatan yang luar biasa dalam waktu singkat, dan nampaknya kekuatan ketiga orang tersebut masih terus meningkat.


Nah, itu karena mereka masih level 25-27 jadi level up nya masih cepat. Sementara Exp yang mereka dapatkan sangat banyak. Itu masih terlihat normal untukku, namun tidak dengan mereka.

__ADS_1


"Haruskah aku menerima tawaran dewa mimpi?"


"Aku juga menginginkannya!"


"Lebih baik aku segera menghubunginya."


Arthur hanya mendesah, Noril berbisik-bisik, sementara Percival menatap Saga dengan wajah memelas seperti anak kecil. Sementara Steve masih diam dan kebingungan.


"Apa saja yang kalian berikan kepadanya sebagai persembahan?"


"Jiwa dan hati kami."


"Haha, itu jawaban yang sempurna. Pada dasarnya kami memberikan apapun yang memiliki nilai sejarah. Tapi dia tidak pernah menuntut apapun."


"Benar juga, kamu sering membeli patung, souvernir, figurine, buku, atau apapun dengan desain unik, Saga. Apakah Dewa Mimpi menyukai hal-hal seperti itu? Tidak, mari berhenti membicarakan tentangnya dan fokus dengan musuh didepan."


Setelah itu, kami terus menjelajahi gua goblin untuk beberapa lama. Hingga kami sampai di ruang penyimpan. Tempat dimana semua peralatan yang tersisa milik Crimson Vortex tersimpan. Sayangnya, bagian utama dari armor kulit naga sudah hancur tak bersisa. Seperti yang diharapkan dari Apostle. Menyisakan bagian lengan, pundak, dan sepatu. Juga jubah untuk Arthia, Samantha, Thalia, dan Noril.


Semua orang mendesah kecuali aku dan Steve.


Mereka kemudian menggunakan peralatan yang ada di ruangan tersebut. Aku sebenarnya bisa mengganti peralatan mereka dengan yang item yang lebih baik, tapi, anak kecil sepertiku memiliki item kelas heroik... Aku bisa membayangkan anggota militer atau organisasi bawah tanah mengetuk pintu rumahku besok. Itu akan merepotkan.


Kemudian kami segera keluar dari ruangan tersebut. Tidak lupa, aku meninggalkan satu persona di ruangan tersebut, untuk menjaga harta-benda tersebut.


Setelah itu kami dihadapkan dengan sekumpulan goblin level 25 keatas, jumlahnya sekitar belasan. Mereka berteriak dengan suara khas goblin, lalu, dibantai oleh Arthia dengan satu sihir AoE.

__ADS_1


"Sepertinya aku akan membuat kontrak dengan Dewa Mimpi."


Yeah, perasaan tersebut sangat bisa dimaklumi.


__ADS_2