Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 13 Menyembuhkan sekaligus mematikan


__ADS_3

Aku kembali tepat sebelum matahari mencapai titik tertinggi. Dibandingkan saat musim panas, siang ini tidak terlalu panas, malahan terasa sejuk.


Sepanjang perjalanan aku melihat orang-orang yang tengah memanen gandum, kentang dan berbagai macam biji yang mereka tanaman beberapa bulan sebelumnya. Orang dewasa menarik gerobak yang dipenuhi karung besar sementara anak-anak duduk diatasnya, bersenda gurau dengan riang. Sedangkan ibu mereka mengikuti dibelakang sembari mengendong sayuran yang kebetulan tumbuh diladang. Kehidupan mereka jauh dari kata mudah, akan tetapi mereka masih bisa tersenyum dan tertawa. Entah itu positif atau negatif, perasaan itu akan menyebar layaknya riak pada permukaan air. Melihat mereka, senyuman tanpa sadar telah terbentuk di wajahku.


"Antares, kamu dari mana?" Suara yang kukenal terdengar dari sisi sebaliknya. Menoleh kearah sumber suara tersebut, Febri dan teman-temannya datang kepadaku dengan tangan melambai diudara.


"Oh itu... cuma jalan-jalan." Aku sedikit tersedak dengan kalimatku sendiri.


"Hm, yang bener?" Kata salah satu anak.


"Mencurigakan." Kata anak lain dengan seringai nakal.


Semua anak itu terdiam sejenak, kemudian berkata dengan wajah serius bersama-sama, "Kamu habis dari hutan!"


Aku membuang muka sebagai respon alami. Sempat terlintas dibenak, apakah mereka tidak memiliki kegiatan lain selain mencoba pergi ke hutan?


"Huh, siapa bilang aku habis dari hutan? Ngapain aku pergi ke sana?" Sebenarnya aku bisa saja bilang iya dengan ekspresi serius, tapi mengingat kepribadian mereka.... mungkin lebih baik aku tidak mengatakannya.


"Jangan bohong, aku bisa mencium aroma alam liar di badanmu!" Salah satu anak maju dan mulai mengendusku seperti seekor anjing.


Aku mencubit hidung anak itu dengan sedikit kuat. Kemudian tersenyum selembut mungkin, "Mungkin itu hanya imajinasimu saja~ ahahahaha. Ngomong-ngomong, apa yang ingin kalian lakukan?"


Semuanya orang menatapku dengan mata menyipit, yang mana membuat ujung mulutku berkedut dengan hebat. Beruntungnya, Febri yang polos segera menjawab pertanyaanku.


"Kami ingin melihat para petualang yang datang bersama kepala desa!"


Oh mereka datang?


"Berapa banyak imbalan yang diberikan kepala desa? maksudku, kapan mereka datang?"


"Mereka baru saja sampai, saat ini para petualang tersebut tengah berkeliling untuk mencari tahu situasi di desa."


"Hei kamu tahu, kudengar mereka petualang terkenal yang bisa mengalahkan Giant Bear dan Basilisk!" ujar si anak dengan bersemangat.


Basilisk merupakan monster kadal dengan tatapan petrifikasi, mirip gorgon dalam mitologi yunani. Mengalahkannya tidak begitu sulit, selama kamu tahu kelebihan dan kelemahannya. Pada umumnya, Giant Bear dan Basilisk memiliki rating bahaya yang setara. Tentu saja rating bahaya ini tidak sepenuhnya benar, karena akan selalu ada unik individu diantara kumpulan monster. Dalam sistem Ren, mereka berada di level 9-10. Jauh lebih lemah dari Goblin Warriors, meski perbedaannya hanya 1 level, perbedaan itu bagaikan langit dan bumi, secara metafora.


Rank silver? Apa mereka mau bunuh diri? Apakah kepala desa ke tipu daya? Tidak, para petualang hanya bisa mendapatkan request melalui guild, selain mereka hanya ada para worker yang lebih mirip pekerja ilegal.

__ADS_1


"Benarkah? Bukankah mereka sangat hebat?" Aku tersenyum dengan tulus. Jujur saja, aku merasa kehilangan diriku sendiri, mungkinkan sifat kekanak-kanakan Ren menular padaku? Ini berbahaya!


"Benarkan~ aku tidak sabar melihat mereka membasmi para goblin itu!"


"Sekarang kita tidak perlu lagi khawatir dengan serangan seperti kemarin! Ack--" salah satu anak menyikut anak yang berbicara itu.


Hm? "Apa kemarin ada serangan lagi?"


"Err, tidak kok... Aku bilang dua hari yang lalu. Iyakan?"


"Iya benar."


Melihat mereka sejenak, aku bisa mengerti mengapa mereka berbohong. Atau mereka tidak diperbolehkan mengatakannya padaku? Tidak bukan itu, bukankah terlalu banyak serangan akhir-akhir ini? Apakah ada penguasa baru di hutan? Semoga saja tidak, ini membuatku merasa gelisah. Tanpa kusadari aku membuat helaan nafas berat.


"Jadi kalian akan langsung bertemu para petualang itu?"


"Ya tentu saja, kamu mau ikut Antares?"


"Aku akan bergabung lain kali, bibi Urdu sudah menungguku."


"Begitukah? Sayang sekali. Cepatlah sembuh agar bisa bermain lagi dengan kami!"


"Tidak hari ini, dan cepatlah pulang! Ah benar, Kentang dan sayuran yang kamu tanam sudah dipanen oleh para warga kemarin. Kepala desa yang mengurus sisanya. Kami pergi dulu!"


"Oh, makasih kalau begitu."


Aku tidak takut kalau kepala desa akan mengambil seluruh jerih payahku, tapi apakah semua kentang itu sudah siap panen? Aku juga lupa, Steve tidak, dia tidak memiliki pengetahuan soal pertanian. Aku akan menanyakannya nanti bersama masalah para petualang ini.


Singkat Cerita, aku sudah kembali ke rumah tabib.


"Akhirnya pulang juga, syukurlah kamu tidak tersesat di jalan." Katanya dengan agak berlebihan.


Aku sedikit mengerutkan alisku ketika mendengar kata-kata tersebut. // tidak bisakah kamu tidak membuatnya terlalu jelas? Aku tidak memiliki masalah arah seperti mate Zoro, tapi mendengarnya tetap terasa menyakitkan.


"Mungkin sebaiknya aku langsung pulang kerumah?" pikirku dengan tangan menyentuh dagu.


"Kamu bisa melakukannya jika lukamu sudah menutup." katanya sambil menggelengkan kepala. "Makanlah terlebih dulu, setelah itu aku akan mengganti perbanmu."

__ADS_1


Makanan yang disodorkan oleh bibi lebih menyerupai sup kentang dan bubur gandum, hanya saja dengan bau obat herbal yang menyengat. Aromanya sangat tajam hingga membuatku mual.


"Baiklah..." Aku memaksa asam lambung yang sudah mencapai ujung tenggorokan untuk turun kembali, menyisakan rasa pahit dan asam di mulutku.


Memasukan sesuap bubur tersebut, rasa yang hebat dan tajam hingga lidahku tidak bisa memahaminya. Beruntungnya itu berbentuk setengah padat, sehingga aku langsung menelannya seperti minum air tanpa banyak menikmati rasanya.


"Uwehh, makasih makanannya."


<< Perhatian, efek tambahan penguatan tubuh, ekstra stamina, perangsangan regenerasi, dan percepatan peredaran darah telah diaktifkan. >>


Makasih untuk pemberitahuannya. Setidaknya aku tahu tadi itu obat beneran, walau rasa... Urk...


"Oh sudah selesai? Kamu lebih penurut dari yang kukira. Bahkan orang dewasa akan menangis dan tidak mau meminum obat itu, kau tahu."


Menghadapi senyuman Bibi Urdu, aku mencoba sebisa mungkin untuk berwajah datar. Aku tidak mau menganggapnya sebagai pujian. Tapi kalau Ren yang mengatakannya, tidak, apa yang kau pikirkan...?


"Baiklah, ayo ke kamar. Bibi sudah menyiapkan airnya."


Dalam kamar, aku duduk diatas kasur, sementara bibi membuka balutan perban satu demi satu. Dia akan terus berbicara tentang pengalamannya sebagai tabib di desa. Karena dia nampak gembira, aku hanya mendengarkannya dalam diam. Tentu saja aku akan sesekali menanggapinya, namun hampir seluruh pembicara itu hanya berlalu diotakku dan lenyap begitu saja.


Kemudian keanehan mulai terjadi.


"Badanmu memang mengesankan untuk anak seumuranmu, tapi bukankah ini sembuh terlalu cepat? Bahkan tidak ada satupun bekas luka disana!" Suaranya menggambarkan kejutan, tapi wajahnya justru nampak bersemangat.


"Entahlah, kecepatan penyembuhan memang sedikit lebih cepat dari kebanyakan orang, tapi tetap tidak secepat ini. Apa yang sudah bibi berikan 3 hari terakhir?"


Aku mengangkat tanganku dan mengaktifkan [World Memory] tepat dihadapannya. Pada titik ini tidak percuma untuk menyembunyikannya lagi, namun satu hal yang pasti, rupanya hanya aku yang bisa melihat detail dalam kartu tersebut. Sementara orang lain hanya melihat simbol atau gambar seperti berserker, archer, kartu tarot atau manusia biasa. Untuk bibi Urdu, kartunya menampilkan wanita dan beragam tanaman disekitarnya.


Herbalis dan Alchemist? Pantas saja, ramuannya memiliki efek yang melebihi normal.


"Apa yang kamu lihat?"


"Skill yang meningkatkan efektivitas obat dan ramuan."


"Benarkah?! Itu hebat! Bukankah itu berarti bibi bisa mendapatkan lebih banyak uang! Kamu hebat Ares!" Bibi memelukku dengan bersemangat. Meski aku memanggilnya sebagai bibi, usianya baru 27 tahun, jadi aku masih bisa merasakan kelembutan itu di bagian belakang kepalaku.


Itu yang kamu pikirkan? Aku juga bisa mendapatkan banyak uang dengan menjadi appraiser, tapi aku sudah terlalu kaya saat ini. Dan aku tidak mau menghabiskan semua uang itu. // Angka 68,997 poin tiba-tiba muncul dibenakku.

__ADS_1


(bersambung)


♦♦♦


__ADS_2