Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 32 Falldown


__ADS_3

Api merah yang menyala-nyala perlahan menghilang. Akan tetapi, ketegangan dalam dada kami justru meningkat. Sang monster melompat dengan segenap kekuatannya, meninggalkan retakan besar di tanah yang sebelumnya ia pijak.


(clang)


Sigur langsung maju ke depan, menahan serangan sang Orge dengan kapak besarnya. Kedua kekuatan yang saling beradu menghasilkan gelombang kejut kuat yang menyebar ke seluruh penjuru. Tekanan dari serangan monster tingkat atas tidak bisa diremehkan. Dalam kekuatan penuhnya, bahkan efek sampingnya sanggup menghempaskan Arthur, Percival, Noril, Steve dan Thalia hingga ke ujung lorong. Terutama karena Saga, Arthia, dan aku terfokus untuk menyerang si Orge. Lebih buruk lagi, mereka mungkin bisa mati hanya karena terkena side-efek dari serangan si Orge.


Ketika seseorang mencapai level 60, dia mampu menempuh jarak 300,000 m/d dengan kekuatan fisik semata. Sedikit lebih lambat dari kecepatan cahaya. Membuat pertempuran yang terjadi selanjutnya jauh melebihi pemahaman dari ras manusia biasa. Bagi orang luar, pertempuran tersebut tidak lebih dari pertunjukan cahaya yang indah dan sulit dipahami.


Namun seseorang yang sedikit lebih kuat akan menyadari bahaya dari kilatan cahaya tersebut.


Sebenarnya, kecepatan cahaya merupakan puncak dari level 60, tapi hanya sedikit orang mampu mencapainya. Alasannya ialah, ketika seseorang berada dalam kecepatan cahaya, panca indra akan kesulitan mendeteksi lingkungan di sekitar mereka. Membuatnya buta dan tuli. Oleh sebab itu, sosok kelas atas seperti Orge merah tersebut memiliki satu skill serupa, yaitu [Magic Sense].


Aku juga tidak tahu dengan pasti. Rasanya seperti inderaku menjadi sangat sensitif ketika berpacu dalam kecepatan tinggi. Suara angin yang diterobos paksa mengahasilkan efek seperti kaca yang pecah. Segala sesuatu disekitarnya menjadi jauh lebih gelap dan lambat. Warna itu sendiri seolah menghilang dari dunia ini. Meski demikian, badan kami, senjata kami tidak kehilangan warnanya. Seolah terdapat benda tipis dan lengket yang membuatnya tetap menyatu.


Kapak yang besar dan panjang terayun ke arahku dengan kecepatan tinggi, namun aku membiarkannya berlalu tepat disatas badanku tanpa menahannya sedikitpun. Kemudian aku melakukan serangan balik dengan melemparkan bola api-petir ke area dada di bawah lengan. Bola api terasa seperti bergerak lambat sampai itu ditahan oleh perisai merah yang terbuat dari energi dan materi. Lalu ledakanpun terjadi. Seluruh badan Orge tersebut dilalap api yang membara.


Arthia tidak melepaskan kesempatan tersebut dan melepaskan serangannya energi magis disertai retakan petir jatuh dari langit-langit tepat diatas si Orge. Namun si monster belumlah tumbang. Dia segera melompat ke belakang untuk mengambil jarak, tapi Samantha sudah menunggunya disana.


"[Dance for the Fallen]."


Nama yang panjang...// pikirku sembari melihat serangan kombo Samantha yang bertubi-tubi. Dari penglihatanku, itu bukanlah serangan sayatan biasa, tapi juga ditambah efek penyerapan energi kehidupan dari talent -nya.


"Raaaaawwwr!"


Sang Orge meraung keras, menciptakan ledakan sonik yang mendorong Samantha mundur untuk beberapa meter. Gumpalan darah muncrat dari bekas lukanya akibat getaran dari teriakan tersebut, namun si Orge terkesan tidak peduli sama sekali.


"Kalian... Kurang ajar!" Mata si Orge tiba-tiba berubah merah darah, dan badannya mengeluarkan aura merah menyala. Untuk suatu alasan luka di seluruh badannya perlahan menghilang. Kemudian dia meraung sekali lagi.


"Apa-apaan itu? Dia masih bisa bertarung?!"


"Oh, Ayolah!"

__ADS_1


Arthia segera melepaskan serangan dalam bentuk gelombang energi yang dibalas oleh serangan serupa oleh monster tersebut. Nampak jelas kalau dia menjadi lebih kuat, mungkin sekitar 50-100%. Beruntungnya, perbedaan level tersebut tidaklah terlalu besar.


Dia hampir menembus level Demi-god? Kita harus segera membunuhnya saat ini juga! // Bukan hanya aku yang memiliki pemikiran seperti itu. Saga dan Sigur langsung melompat dan menghujani si monster dalam puluhan rentetan serangan. Serangan mereka nampak membabi buta, tidak mempedulikan keadaan disekitarnya. Karena efek family friendy yang aktif.


Aku juga berniat melakukan hal yang serupa, [Wind of Decay]. Angin dingin yang lembut berhembus ke segala penjuru, seperti alunan melodi sebelum tidur nyenyak yang panjang. Setiap benda yang terkena oleh angin tersebut perlahan mulai berubah menjadi butiran debu halus, tidak peduli apakah itu batu dan besi, atau bahkan bagian dari mahkluk hidup.


"Skill yang mengerikan! Pantas saja dia tidak pernah menggunakannya!" Percival tidak bisa menahan dirinya untuk berseru.


"Kau benar, tapi, mengapa angin ini tidak melukai kita?" Steve menampilkan ekspresi bingung.


Perisai energi merah yang terus melindungi si monster tidak sanggup untuk menahan hujan serangan tersebut dan mulai rusak. Tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Saga dan Sigur terus menyerang dengan segenap kekuatannya. Arthia dan Samantha juga ikut bergabung dalam upaya pertempuran jarak dekat.


Haruskah aku menggunakan [Hell Flame]? kurasa tidak perlu. Lagipula tinggal beberapa puluh serangan lagi hingga monster tersebut dilumpuhkan. // berfikir demikian, aku memperkuat efek dari angin pengurai ini, membuat jauh lebih kuat dan mematikan.


10 menit kemudian, Monster itu akhirnya tumbang dalam gua dipenuhi oleh pasir halus berwarna abu-abu. Lanskap gua tersebut benar-benar berubah total. Tahta batu, jalan berundak, dan batuan stalakmit yang menghiasi batu menghilang sepenuhnya, digantikan oleh permukaan bebatuan yang halus dan mengkilap. Tidak ada mayat goblin, pakaian ataupun senjata yang tersisa. Bahkan peralatan milik Orge merah itu juga rusak parah.


Disisi lain, perhatianku teralihkan oleh notifikasi yang terus timbul di layar hud.


<< Goblin Mantle telah didapatkan >>


<< Goblin Sword telah didapatkan >> *??


<< Goblin Axe telah didapatkan >> *??


<< Goblin Bone telah didapatkan >> *??


<< Goblin Meat telah didapatkan >> *??


<< Goblin Magic core telah didapatkan >> *??


...

__ADS_1


...


...


Itu membuatku sedikit pusing.


"Kamu baik-baik saja Anta?" Arthur menepuk punggungku dengan lembut. Mungkin.


"Aku baik-baik saja." Jawabku singat


"Yah, aku tidak terkejut jika kamu tiba-tiba merasa gelap setalah bertarung seperti itu. Tadi itu lu- gillaa!"


Tidak, aku justru merasa kelelahan jika terlalu banyak berinteraksi dengan manusia seperti mu, Percival. Tapi, aku juga menyukai perasaan positif itu. Itu bisa menular.


Melihat kedepan, sepertinya para pahlawan kita juga terlihat kelelahan. Semuanya terduduk di lantai dengan lemas.


"Fuuh~ Akhirnya dia mati juga. Tadi itu menegangkan sekali!"


Benar, tekanan mental itu masih tetap ada bahkan jika kamu menjadi Night Watcher, hanya saja sedikit ditekan ketika dalam kondisi tertentu.


"Aku tidak percaya kita bisa mengalahkan monster sekelas Orge tersebut! Apa kamu melihatnya tadi Arthur?"


"Aku melihatnya, dan aku tidak bisa memahaminya sama sekali. Itu lebih seperti anak-anak yang sedang pamer dengan skill barunya."


"Walau kamu berbicara seperti itu, tapi aku sangat memperhitungkan semuanya kau tahu?!" Samantha sedikit tidak terima dengan komentar tersebut.


"Hahaha, benarkah?"


Melihat interaksi mereka untuk suatu alasan membuatku capek. Dahlah...


(bersambung...)

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2