
Impresi pertama Arthia dan kawan-kawan memasuki rumah itu ialah "whoooaaa...."
Mereka seperti berada di dunia mimpi, tidak, ini memang mimpi. Dunia lain? ya ini bisa dibilang dunia lain. Hmmmmm, dunia lain diam dunia lain!
Dimulai dari, "Lihat semua buku itu!" Thalia membuka salah satu buku kemudian menutupnya setelah melihat berbagai macam tulisan asing didalamnya.
"Magic item yang sangat kerena! lampunya bisa mati-nyala hanya dengan satu ketukan!"
Hingga, "Dimana airnya? Apa-apaan ini? Bagaimana mandinya?" Ketiganya yang sudah mencapai kamar mandi hanya berdiri terdiam disana.
Para wanita itu seperti manusia gua yang datang ke dunia modern. Dimana ekspresi mereka berubah satu demi satu. Arthia mengambil shower yang tergantung di dinding, kemudian melihatnya dengan teliti.
"Kau tahu itu benda apa?"
"Oh tidak... Tidak sama sekali." Jari Arthia menelan salah satu tombol tanpa sadar, kemudian air menyemprot dengan suara yang khas.
"Ahh!" Samantha dan Thalia menjerit secara bersamaan.
Di sisi lain, Arthur yang tengah mengobrol dengan Saga mendengar teriakan tersebut langsung berdiri dan meraih pinggangnya hanya untuk meraih udara kosong. Untuk sesaat dia lupa telah menaruh pedangnya di tempat lain. Saga yang reaksi Arthur itu hanya cekikikan.
"Ga usah khawatir, mereka mungkin sedang coba-coba." kata pemuda yang tengah menggunakan clemek putih tersebut.
"Coba apa?" tanya Arthur dengan wajah polos. loading... "Oh, aku paham. Man, mungkin aku juga akan bereaksi yang sama dengan mereka. Ah, kau yakin tidak ada yang berbahaya di tempat ini, Saga?"
Saga kembali fokus ke penggorengannya, "Satu-satunya bahaya di tempat ini hanyalah Ren. Selama kau bisa jadi baby sitter yang baik, kau akan keluar dari dunia ini dengan selamat. Oh ya, satu tahun di dunia ini setara dengan satu jam si dunia nyata. Setidaknya untuk saat ini."
"Beneran mimpi." Arthur sekali lagi berekspresi bodoh. "Tapi, jujur saja, aku masih tidak percaya kamu berani memanggil entitas sekelas dewa dengan nama aslinya. Kau tahu, apa yang akan dikatakan kuil? 'jangan menyebutkan nama tuhan' atau apalah itu."
"Dewa berbeda dengan tuhan. Dan setiap dewa memiliki kepribadiannya masih-masing. Seperti yang kamu bilang, kami hanya bertindak sesuai dengan keinginan Ren. Contoh saja, apa yang terjadi di gua goblin hari ini. Pada saat normal, aku akan langsung bangkit jadi Night Watcher begitu nyawaku masuk kondisi kritis. Namun, Ren mencegahnya untuk suatu alasan."
"Jadi Ren ingin kamu mati?"
"Hahaha, sayangnya Night Watcher tidak bisa mati kecuali hari tua." Saga tertawa lepas dengan sedikit ekspresi sedih. "Jadi setelah ini selesai, aku dan Antares akan segera bangkit lagi. Walau itu mungkin sudah sangat terlambat."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Jujur saja, aku tidak bisa memikirkan rencana apapun untuk keluar dari keadaan kami saat ini. Dengan adanya kamu dan Antares, semuanya akan berjalan lebih mudah." Arthur sedikit menundukkan wajahnya.
"Jadi mengapa Penguasa Dunia Mimpi memanggil kami?"
"Yang pasti dia akan bertanya soal kontrak tuan dan pelayan. Selain itu... Dia mungkin hanya bosan saja. Biasanya dia akan bertindak berdasarkan insting, tidak pernah memikirkan rencana apapun."
Arthur hanya bisa terdiam dan memasang ekspresi tidak percaya. Walau dia tahu Saga bukanlah tipe yang akan berbohong untuk hal seperti ini, tapi sulit rasanya untuk mempercayainya.
Sementara disisi lain, Steve tengah melihat 'video game' yang tengah dimainkan oleh Ren, Antares, dan Percival. yang paling besar, Percival masih kesusahan untuk mengikuti permainan tersebut. Dimana dia akan mati tertembak setiap satu atau dua menit. Antares bermain dengan sangat alami, seolah dia sedang menggerakkan bagian anggota badannya. Dia memiliki kill yang sangat banyak, membunuh musuh yang terlihat dengan senapan seni otomatis yang berwarna cerah. Sementara Ren, akan memperlihatkan ekspresi tidak suka diwajahnya namun itu tidak mengurangi kesenangannya dalam bermain.
"Yah mati lagi. Gimana kalian bisa sangat ahli dalam permainan ini? seperti kalian sudah bermain selama bertahun-tahun!"
"Kami memang sudah memainkannya selama bertahun-tahun."
".... .... (Huu) Akhirnya mati juga, yah, kami sangat berbakat itu saja. Menang lagi, ini mulai jadi membosankan." Kata Ren sembari memasukan keripik kentang ke mulutnya.
Percival ingin segera membantahnya, namun dia takut menyulut amarah dewa tersebut. Bisa-bisa dia dikutuk jadi katak, dan kehilangan segala ketampanannya. Jujur saja, suasana riang di ruangan tersebut bisa jadi akward kapan saja.
"Tidak, kita udah match dengan pro sejak awal, hanya aja mereka terlalu lemah. Mau ganti Minecraft?"
"Kau tahu aku punya kecenderungan menggunakan cheat atau menjadi penghancur? Kamu mungkin bermain Minecraft tapi aku main blok game, kita didunia yang berbeda."
"Heh, ikuti aku aja. Lagian, cheat yang lo gunain juga hanya sebatas itu-itu aja kan? maksudku, kamu hanya akan bermain kreatif di survival mode." Antares masih membujuk Ren sejak beberapa menit yang lalu.
"Haish, baiklah. Ganti gamenya. Beri aku sesuatu nanti, sebagai gantinya."
"Hai, sishou!"
Jujur saja, interaksi kedua anak itu membuat Percival merinding. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Antares bertingkah seperti itu dengan seorang dewa? bukankah itu terlaku kekanak-kanakan? Ah, dia masih anak-anak. Tidak bukan itu masalahnya! Dia itu dewa kau tahu, dewa!
"Udah berapa jam kalian main game terus, apa yang tak bosan?"
Tidak kakek, tidak kamu juga! // Percival menjerit dalam hati.
__ADS_1
"Ah udah lama aku gak main game pc, mungkin beberapa menit lagi." (Antares)
"Lagian kita gak punya kegiatan lain disini, jadi lanjutkan mainnya!" (Ren)
Memang benar, selain bunga terulak dan langit berbintang tanpa ujung, tidak ada apapun di dunia ini. Bagi orang dewasa seperti Steve dan Percival, dunia ini bagaikan surga yang untuk bersantai dan menikmati hari. Sangat besar rasanya, Steve ingin bersantai diluar ditemani secangkir minuman hangat. Tapi itu tidak mungkin dilakukan tanpa ada ijin dari si pemilik rumah, bisa-bisa dia curigai mencuri sesuatu oleh Ren. Dan itu harus dihindari dengan cara apapun.
Tapi, kedua anak-anak itu sendiri hanya terfokus pada video game mereka, seolah tidak mempedulikan dunia.
Ren tiba-tiba berdiri, membuat Percival dan Steve ikut berdiri karena terkejut. Keringat dingin mulai mengucur di punggung keduanya walau mereka sedang berada di alam mimpi. Tidak, karena ini adalah domain dari Dewa Mimpi, mati disini bisa saja mati di dunia nyata.
"Kamu mau sesuatu Antares?" Tanya Ren seolah tidak memperhatikan kegelisahan yang disarankan kedua pria dewasa di ruangan tersebut.
"Hm soda pliss." kata Antares sembari melihat tuannya dengan ujung matanya.
Kemudian Ren pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Ren pergi agak jauh, Percival dan Steve segera berteriak ke Antares. "Apa yang kamu pikirkan!"
(bersambung...)
♦♦♦
Kadang, aku hanya ingin sendirian
Tanpa teman, tanpa keluarga, ataupun media sosial
Hanya aku dan diriku sendiri
Tapi, saat sendiri aku tahu itu,
Aku merasa takut sendirian.
Aku takut ...
__ADS_1