
( bam! bam! bam! )
Dalam kedalaman gua bawah tanah, kegaduhan dapat terdengar dengan jelas. Sesekali dinding-dinding gua akan bergetar hebat, menjatuhkan serpihan bebatuan ke lantai. Semua penduduk dalam gua tersebut melihat ke sumber getaran tersebut dengan gelisah, ada juga beberapa yang segera lari untuk menyelamatkan diri sendiri.
Sumber dari kegaduhan itu sendiri tidak lain ialah seorang anak kecil yang baru menginjak usia 12 tahun dan seekor orge yang berwarna merah kecuali selaput putih di matanya. Keduanya beradu kekuatan dan teknik layaknya dalam kecepatan melebihi cahaya. Sebagai efeknya, lapisan ruang-waktu dalam ruangan tersebut mengalami kerusakan dan retakan di beberapa tempat.
( bam! bam! bam! )
Kilatan cahaya hitam dan merah menari dalam sepanjang ruangan. Menghindari satu serangan kemudian menyerang balik beberapa saat kemudian. Setiap kali senjata diayunkan, setiap energi dashyat akan dilepaskan. Menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Mengubah tanah dan dinding menjadi cairan merah menyala yang mengeluarkan suhu panas. Suhu setiap ledakan energi tersebut dapat dengan mudah melebihi ledakan nuklir yang mengubah mineral di sekitarnya menjadi berlian. Namun karena efek magis, mineral tersebut justru berubah menjadi cairan merah-oranye.
( bam! bam!! bam! )
Meski suhu dalam ruangan tersebut kian memanas, kedua individu tersebut nampak tidak terpengaruh sedikitpun. Mereka tetap tenang layaknya danau, meski dihadapkan dengan serangan yang mematikan.
( bam!!! bam! bam!! )
Antares terus saja menekan sang orge dengan teknik yang dia ketahui. Dengan sebagian pertempuran tersebut diserahkan kepada intuisinya. Dengan mengalirkan mana pada telapak kakinya, Antares tidak perlu khawatir dirinya tenggelam dalam cairan lava. Dia bisa mendarat dimana saja, permukaan lava, dinding, hingga langit-langit, setelah itu Antares akan langsung menerjang ke arah sang orge. Sementara itu sang orge harus memilih pijakannya dengan hati-hati atau akan tenggelam.
( bam! bam!!! bam! )
Setelah puluhan serangan kedua orang tersebut akhirnya mengambil satu langkah ke belakang. Sampai saat ini keduanya masih nampak seimbang. Walau terdapat banyak luka disana-sini, tidak ada yang benar mengalami luka serius. Akan tetapi dari semua pertukaran serangan tersebut membuat keduanya tahu kalau Antares mulai berada diatas angin. Serangannya bertambah kuat, refleknya juga bertambah cepat, dan tekniknya jauh lebih baik daripada pertama kali. Baik itu teknik, serangan, skill, ataupun mentalitas, semuanya membuat si orge menelan ludah. Sampai-sampai so monster mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ritual berdarah itu benar-benar berhasil atau tidak? Lebih dari, sampai saat ini, anak itu belum menggunakan armor hitam itu lagi.
"Hei, mengapa kita berbicara terlebih dulu? Seperti, gencatan senjata?" si orge tersenyum dengan canggung, sementara dalam hati dia mencari cara untuk keluar dari tempat ini hidup-hidup.
__ADS_1
Antares di lain sisi sudah mengatur kembali nafasnya yang tersengal. Dia melihat orge tersebut dengan serius, tidak membiarkan satupun gerakan terlepas dari matanya. Kemudian dia mengambil satu nafas panjang, sebelum mengangkat pedangnya dalam posisi netral.
Api magis berwarna hitam mulai membakar badan pedang Antares, akan tetapi tidak menyebarkan suhu panas sedikitpun. Seolah api tersebut hanyalah ilusi yang digunakan untuk mengerjai orang. Akan tetapi, setiap sel dalam badan si orge seperti berkedut hebat. Seperti sabit kematian sudah sangat dekat dengan urat lehernya.
Sang Orge segera membuat pelindung energi, memperkuat dirinya dengan beberapa mantra yang dia ketahui. kemudian mengaktifkan skillnya. Dia tidak menunggu Antares untuk bergerak, dan melepaskan serangannya terlebih dahulu.
"[Spartan Rage]!" Sang Orge meraung keras.
Sang Orge muncul di depan Antares dalam sekejap mata, melepaskan teknik serangan beberapa kali dalam satu sekejap, seolah ada beberapa orang yang menyerang pada saat bersamaan. Di lain sisi, Antares tidak terkejut sedikitpun, dia menghindar setiap serangan tersebut dengan sangat minimal, hingga beberapa helai rambutnya terpotong. Kemudian dia melakukan satu serangan besar terhadap sang Orge.
"Kekuatan penuh, [Hell Flame]" Suaranya tenang seperti angin musim gugur. Dipenuhi dengan pesona anak remaja.
Akan tetapi serangan tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Satu ayunan, satu gelombang energi, dan tatanan realitas dalam ruangan tersebut terbakar sebagaimana kertas yang dilahap api.
Dari luka tersebut api hitam yang tidak panas sama sekali melahapnya dengan penuh semangat. Bersama dengan dinding gua di belakangnya. Sementara lava yang memenuhi lantai ikut berubah menjadi hitam, terbakar oleh api magis tersebut. Antares mengamati bekas dari monster yang terbelah dua dari bahu hingga pinggangnya. Ekspresinya nampak membeku dalam ketakutan. Luka fisik semacam itu tidak akan terlalu berbeda bagi mereka level 61 keatas. Namun skill [Hell Flame] sedikit istimewa. Api hitam tersebut bukan hanya membakar tubuh fisik namun juga kesadaran dan jiwanya. Itu juga membakar sistem regenerasi dan konsep kehidupannya, membuat target mati untuk selama-lamanya, dan tidak bisa dibangkitkan kembali.
Setidaknya dengan cara biasa. Entitas yang melebihi level 101, bisa melakukan sesuatu diluar nalar dan imaginasi, seperti Ren contohnya.
<< Red Orge telah terbunuh, anda mendapatkan 1,1529215e20 / 1,152Qt exp. 6100 poin telah didapatkan >>
<< Anda telah mencapai level 45 >>
<< Selamat, anda mendapatkan julukan "King Slayer" >>
__ADS_1
<< Selamat, anda mendapatkan julukan "God Slayer" >>
<< Selamat, anda mendapatkan julukan "Limit Breaker" >>
<< Selamat, anda mendapatkan julukan "The One Who Create Miracle >>
<< Selamat, anda mendapatkan "Blood-stained Horn" >>
"Akhirnya selesai, huh (pant)" Antares melihat pengumuman tersebut untuk sekilas.
Antares melihat sekelilingnya dan tidak yang tersisa disana. Hanya badan orge dan senjatanya yang sudah setengah hancur. Akibat dari pertarungan tersebut, medan di dalam gua berubah total dan mungkin tidak akan kembali seperti sedia kala. Ruangan tersebut akan berubah menjadi zona panas yang bisa menciptakan kawah baru. Sisi positifnya, tidak ada gas berbahaya yang tercipta.
Sementara itu, dunia dengan cepat memperbaiki susunannya kembali hingga tidak meninggalkan bekas seditpun.
Antares mengangkat tangannya, kemudian beberapa buah bunga terbentuk di atas tangannya. Dia tidak menangkapnya, membiarkan kelopak bunga tersebut berjatuhan ke dalam lava pijar. Bunga tersebut tenggelam beberapa saat sebelum akhirnya menghilang menjadi partikel hitam.
Antares menutup mata, berdiam diri sembari mendengar suara percikan api yang membakar bunga tersebut.
Waktu berlalu cukup lama, sebelum Antares akhirnya keluar. Namun dia melihat sekali lagi ke belakang dengan mata linang untuk terakhir kalinya. Kemudian dia menutup pintu tersebut dengan setetes air mata mengalir di pipinya, sembari berbisik, "sampai jumpa, selamat tinggal."
Gelembung oranye terbentuk beberapa kali dalam lava pijar tersebut. Bersamaan dengan padamnya api hitam yang membakarnya. Sementara badan si orge beserta senjata telah berubah menjadi partikel halus yang bertaburan diudara tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
Antares mengambil nafas panjang untuk kesekian kalinya, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1