Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 21 Cahaya


__ADS_3

Setelah hari itu, tiba-tiba dunia ini berubah menjadi abu-abu dan gelap. Cahaya dari obor tidak bisa menghalau kegelapan di ruang bawah tanah. Rasa dingin di dadaku terasa jauh melebihi dinginnya di ruangan itu. Walau ada lebih dari satu orang disana, namun ruangan itu lebih sunyi daripada kuburan. Dimana setiap suara yang dibuat membuat kami berdebar dan ketakutan. // Perasaan yang telah lama hilang tiba-tiba muncul kembali hari ini.


Entah itu karena dia bertemu dengan seseorang yang sama dengannya atau karena lawan yang tengah dihadapinya saat ini. Apa yang dia rasakan saat ini, mirip dengan rasa ketidakberdayaan yang dia rasakan sebelumnya. 'Inikah perbedaan antara ranah pahlawan? antara individu kuat dan individu lemah?' pikirnya.


Tuannya bukankah orang yang baik, ataupun jahat. Dia mengetahuinya karena sering berinteraksi dengannya. Meskipun sikapnya kekanak-kanakannya dan penampilannya yang menyerupai anak kecil, dia tahu kalau tuannya seperti monster yang tidak merasakan emosi. Senyuman dan perilaku vulgarnya hanyalah topeng untuk menutupi dirinya yang sebenarnya. Oleh sebab itu, tuannya tidak pernah mengeluarkan aura menindas yang sedikitpun.


Selama ini ia belum pernah bertemu seseorang yang lebih kuat darinya yang benar-benar berniat untuk membunuhnya. Olah karenanya, perasaan itu timbul sekali lagi. 'perasaan lemah dan tak berdaya itu memang mudah membuat orang ketagihan' Saga tersenyum setelah mengetahui alasan rasa cemasnya.


Dia tidak takut dengan Orge merah itu, meski ada perbedaan besar antara keduanya. Karena dia memiliki alasan untuk berdiri tegap dan mati dengan bangga. Ya, Saga sudah memiliki alasan itu sejak lama. Sebenarnya ini cukup menyedihkan karena tuannya belum pernah memerintahkan apapun kepadanya.


"Apa kau sudah siap? Walau tidak ada bedanya antara sudah atau belum, toh, aku bisa mengalahkan kalian semua dengan mudah." Kata sang Orge dengan seringai lebar.


Saga hanya tersenyum sebagai tanggapan atas komentar tersebut. Faktanya, dia memang tidak cukup kuat untuk mengalahkan si Orge merah tanpa menggunakan mode [Night Watcher]. Jika itu orang lain, tidak, cara bertarung seseorang biasanya tergantung dari entitas yang melakukan kontrak dengannya. Dalam dominan mimpi dan rahasia, ada aturan tidak tertulis dimana seseorang harus berjuang dengan kekuatannya sendiri untuk menyelesaikan suatu masalah, hingga titik ia tidak bisa berjuang lagi. Baru setelah itu mereka akan menggunakan [Night Watcher] mode.


Uniknya, itu yang selalu dilakukan oleh para pelayan Ren, tidak terkecuali Saga dan Antares.


"Nah, tidak peduli apapun yang terjadi aku akan tetap selamat, hingga aku sempat berfikir kalau semua itu adalah kutukan. Lupakan mari kita mulai saja, [Mana Burst]." Sebenarnya tidak ada alasan untuk mengatakan nama teknik atau skill yang digunakan. Namun dalam hal ini, itu seperti aba-aba kepada lawan kalau persiapa salah satu pihak telah selesai.

__ADS_1


"Kalau begitu aku harap kamu bisa menghiburku, [Mana Burst]." Sang Orge mengambil tombak yang terbuat dari kobaran api padat.


[Mana Burst] merupakan skill dasar yang dipelajari oleh semua orang. Meningkatkan daya serang adalah satu hal, namun lebih penting meningkatkan daya tahan tubuh.


Saga melesat bagaikan halilintar yang turun dari langit. Walau dia baru memasuki ranah pahlawan, namun atribute kecepatan yang dimiliknya secara otomatis berada di angka 31, karena [Diverse Parameter]. Ditambah dengan buff yang diberikan Thalia, dia sudah berada dua langkah dalam ranah para pahlawan. Dengan kata lain, dia bisa bergerak secepat halilintar dengan kekuatan fisik semata.


Setiap gerakan seharusnya menghasilkan gelombang sonik yang mendorong udara disekitarnya, namun fenomena fisik tersebut diredam oleh mana yang melapisi badannya. Energi magis tersebut juga berfungsi sebagai pelumas agar seseorang bisa bergerak bebas dalam kecepatan tinggi dengan konstan.


(Clang!)


Kedua senjata berbenturan satu sama lain. Suara itu seperti besi yang bertemu dengan besi, memperlihatkan seberapa keras senjata yang dibuat oleh si Orge. Saga tidak berkedip sedikitpun, dia segera menarik kembali pedangnya kemudian menyerangnya beberapa kali lagi. (clang! clang! clang! clang! ...)


Debu tebal terbentuk di atas tanah ketika Saga melewatinya dengan tekanan kuat. Dia sedikit mengangkat tumitnya untuk mengendurkan otot-ototnya, kemudian segera mengambil sikap kuda-kuda lagi. // Dia amatir dalam pertarungan jarak dekat, namun dia bisa melihat titik lemahku. Mungkin itu spesial skill miliknya? Kali ini gunakan [Light of Dawn] kalau begitu...


[Flow Acceleration]...


Cahaya keemasan segera menyelimuti pedang Saga, kemudian Saga melesat hingga menciptakan ekor bercahaya dibelakangnya. Matanya fokus sepenuhnya kepada target, yaitu leher sang Orge.

__ADS_1


[Severing Blade]!


Saga meneriakannya dalam diam.


Si pemuda sampai didepan sang Orge hanya dalam sepersekian detik. Pedang diayunkan dengan segenap kekuatan hingga titik dimana ia akan memotong udara itu sendiri. Akan tetapi sebuah benda tiba-tiba muncul didepannya, menghentikan ayunan pedang tersebut dengan paksa. Dengan suara (Clang!) yang nyaring, energi dan cahaya menyembur keluar dari bentrokan tersebut.


"Bahkan aku akan terluka jika menerima Serang itu secara langsung, terutama bila diarahkan ke leher. Kamu benar-benar berani, ha." Aura kental memancar keluar dari badan si Orge, menekan segala sesuatu disekitarnya. Bahkan pertempuran dibawah sana dihentikan secara paksa karena semua orang bertekuk lutut, tidak sanggup menahan tekanan itu. Saga sendiri merasa kalau dirinya seperti dilemparkan kedalam magma. Keadaan yang membuatnya merasa terbakar, sembari tenggelam sedikit demi sedikit.


Keringat mengucur deras di dahi Saga sementara giginya gemeretak dengan kuat. Menggunakan pedangnya sebagai tumpuan, dia mendongak dengan jerih payah untuk melihat monster itu.


"Bukankah kau membuat ekspresi yang bagus? Mereka yang lemah haruslah merangkak di tanah." Kata-kata itu jauh lebih dingin daripada malam terdingin di musim dingin. Perasaan yang campur aduk dan saling berseberangan seakan mengoyak tubuh Saga dari dalam. Monster itu seperti predator yang bermain-main dengan mangsanya.


Aku harus melakukan sesuatu! Apa yang harus kulakukan!? // Saga tidak tahu harus melakukan apa. Tanpa melihat kebelakang dia bisa membayangkan apa yang terjadi kepada rekan-rekannya. Biasanya Thalia akan memperkuat mereka dengan mantra tertentu, namun itu tidak bisa dilakukan saat ini. Sigur bisa menjadi pengalih perhatian yang bagus, tapi sulit untuk membawanya kemari di situasi saat ini. Antares jelas sangat kuat, namun dia sangat krusial untuk menghadang mob.


Haruskah aku menggunakan [Night Watcher]? Tidak masih belum saatnya untuk itu. Aku harus menjadi lebih kuat lagi!


Ketika Saga masih berjuang untuk bangkit, Si Orge perlahan berjalan mendekat.

__ADS_1


(bersambung...)


♦♦♦


__ADS_2