
Sehari sudah berlalu sejak pertempuran dengan gerombolan Goblin tersebut. Para penjaga yang terluka sudah bisa bergerak lagi, sebagian besar. Seluruh Penduduk sudah kembali dari gua bawah tanah. Dan kini, mereka tengah memakamkan mereka yang gugur dengan gagah berani.
Steve, Eru, dan penduduk desa lainnya berdiri didepan 27 makam yang masih basah diatas bukit. Nama mereka terukir dalam batu nisan dalam bentuk beraneka ragam, seolah diambil begitu saja dari pinggiran sungai. Suara isak tangis terdengar sangat jelas dalam kesunyian tersebut. Anak-anaknya yang ditinggalkan ayahnya. Istri yang meratapi kepergian suaminya. Saudara yang tidak bisa lagi bercengkrama. Dan rekan yang tidak akan bertemu lagi. Semua orang menunduk untuk menyampaikan perpisahan untuk kalinya.
Kejadian semacam ini sudah sering terjadi, sampai titik dimana upacara pemakaman tidak lagi bisa menenangkan hati yang masih hidup. Hasilnya, kini mereka yang meninggal hanya dihantarkan dengan wajah murung dan keheningan.
Setelah itu semua orang akan pergi satu demi satu, dengan kepala tertunduk, atau sesekali menengok kebelakang. Namum langkah mereka tidak melambat sedikitpun.
Tidak dipungkiri, manusia merupakan mahkluk yang lemah. Mereka tidak memiliki sisik yang kuat ataupun badan yang kokoh. mereka juga tidak memiliki cakar di jari-jari mereka ataupun mata untuk melihat dalam gelap. Kulit mereka tidak bisa berubah warna ataupun memiliki kemapuan alami seperti spesies lainnya. Tanpa kekuatan yang cukup, kamu hanya akan menjadi mangsa dalam dunia yang kejam ini. Semua orang mengetahui fakta tersebut. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menjadi kuat. Apa daya, mereka yang lemah berakhir tertarik pada mereka yang kuat layaknya ngengat yang tertarik pada api.
Namun, orang kuat itu belum tentu saint, kadang mereka tidak lebih dari serigala yang mengenakan bulu domba. Sebagaimana perkataan orang bijak, ada dua jenis penguasa didunia ini yaitu monster yang dapat mengendalikan dirinya sendiri. Sementara yang kedua ialah orang sesat yang berkedok sebagai penyelamat.
Tentu saja dunia itu adil. Semua orang memiliki batasannya masing-masing dan semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk melampaui batasan tersebut.
Steve melihat orang-orang itu dengan ekspresi datar. Dia sudah menghadiri ribuan pemakaman selama hidupnya, hingga membuat hatinya mati rasa. Selain itu, setelah pertempuran selesai kini tersisa pekerjaan yang menumpuk. Dia lebih suka fokus pada masalah selanjutnya daripada merenungi musibah dimasa lalu, tidak, dia harus melakukannya untuk bertahan hidup.
Kebanyakan monster tertarik dengan bau darah, bahkan darah goblin sekalipun. Jika tidak ditangani dengan benar, maka akan lebih banyak pemakaman dimasa depan. pemakaman dimana jasad yang dimakamkan mungkin tidak sepenuhnya utuh. Dan mungkin, tidak akan ada yang menangisi kepergian mereka.
"Bukankah lebih baik untuk istirahat sejenak kakek? Luka di badanmu belum sepenuhnya mengering." Salah penjaga akhirnya berani berbicara setelah sampai di kaki bukit.
Steve berhenti, menengok ke kiri dan kanannya. Orang-orang mulai menyebar, kembali ke rumah masing-masing. Beberapa akan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Menyisakan si kakek dan 30 orang lainnya.
"Tanpa adanya bocah itu, aku justru tidak bisa tidur dengan tenang." Kata Steve dengan wajah serius.
"Ah." Adalah reaksi semua orang yang merasa tidak suka dengan komentar Steve, namun juga mengakuinya. Memang benar, semua orang terlalu mengandalkan Steve dan Antares.
"Jangan khawatirkan itu, kami cukup kuat untuk menghadapi beberapa Orc dan binatang magis." Kata salah satu penjaga sembari memukul dadanya dengan kepalan tangan.
"Itu benar, kami juga sudah bisa menggunakan talent!" Seru penjaga yang lain.
"Kalian bahkan tidak bisa menggunakan teknik yang dipelajari anak 10 tahun, sombong amat!"
Itu bukan saja menusuk hati para penjaga, namun juga telinga mereka.
Steve segera pergi ke post Utara tanpa menghiraukan orang-orang tersebut. Sementara para penjaga hanya bisa mengekor pada kakek tersebut dengan patuh dibelakangnya. Tidak perlu waktu lama untuk sampai di sana, dengan pemandangan berdarah yang bisa dikenali dari kejauhan. Darah, mayat dan berbagai jenis senjata yang telah rusak parah. Tentu saja itu adalah senjata yang digunakan para Goblin.
Orang-orang yang tengah mulai membersihkan tempat tersebut berhenti sejenak untuk menyapa Steve. Walau sikapnya agak acuh, bagi penduduk desa Steve merupakan seorang pahlawan. Steve memberikan salam balik kepada para pekerja dengan ringan, kemudian memfokuskan perhatian pada semak belukar untuk beberapa saat.
Sementara para penjaga tidak mengganggu Steve, justru memilih membantuk memindahkan mayat goblin kedalam gerobak.
Tidak perlu waktu bagi sekumpulan serigala liar untuk mengamati tempat ini, karena habitat mereka yang dekat. Biasanya hanya mereka yang sudah tua atau cidera saja yang datang kemari, namun bahkan mereka masih bisa melukai penduduk. Terutama jika datang dalam jumlah besar. Beruntungnya, usia dan luka mereka memberikan sedikit pelajaran kepada para serigala, sehingga mereka tidak akan bergerak kecuali memiliki yakin bisa menang. Keberadaan Steve disini, sudah lebih dari cukup untuk menahan mereka.
Pendeknya, Steve harus berdiam diri post ini seharian, atau digantikan dengan seseorang yang setara kuatnya.
Berkat pertempuran tadi malam, banyak penjaga yang naik level. Mereka menembus level 4 langsung naik level 8. Sedangkan Steve sendiri mencapai level 11. Jadi pada dasarnya, ada beberapa orang yang sekuat Steve beberapa hari lalu, namun mereka tidak akan sanggup menghadapi monster seperti Goblin Barbarian itu. Oleh sebab itu, Steve harus sedikit memaksakan diri, setidaknya sampai anak itu bisa beraktivitas kembali.
Dan begitulah, 3 Hari berlalu begitu saja.
♦♦♦
Aku tidur dengan sangat nyenyak tanpa mimpi sedikitpun. Rasanya seperti tenggelam dalam kegelapan. Saat bangun, badanku terasa pegal semua hingga sedikit gerakan akan membuat bunyi retak yang nyaring.
Hal pertama yang masuk kedalam pandanganku ialah langit-langit dari genting merah yang ditopang oleh potongan balok kayu. Lemari dan rak di letakan pojok ruangan berdinding kayu. sementara bau tanaman herbal yang dihaluskan menggelitik hidungku. Lebih dari itu, aku bisa merasakan kehangatan yang tidak dari selimutku dengan perasaan lembut menyentuh kulitku. Membuka selimut putih yang menutupi setengah badanku, aku bisa melihatnya. Benda putih halus nan lembut yang menjadi idaman banyak pria.
Dia tidur tepat disampingku dengan proteksi minimal, seolah memberikan undangan kepadaku. Pikiran untuk 'menyentuhnya' sesaat berkilas dikepalaku untuk alasan yang membingungkan. Bukan hanya itu, aku juga penasaran bagaimana bentuk dan kelembutan dari bagian dibawah sana.
Badannya ramping namun tidak kurus. Lengannya yang ramping hanya berisi otot tanpa lemak berlebihan, tato melingkar biru-gelap dan detail putih dibahunya seolah menjadi perhiasan yang sempurna. Rambut hitam-keunguan yang panjang terurai diatas kasur. Tidak lupa suara nafasnya ketika tertidur bagaikan mantra yang menghipnotis orang-orang.
__ADS_1
*deg! Deg! DEG! *
Gulp...
Aku ingin menyentuhnya... Dia tidak marahkan.. Heh, kurasa tidak...
Ketika melihat wajah dari gadis itu, semua niat itu seakan menguap begitu saja.
"Ren..."
Bahkan dalam wujudnya yang seperti gadis remaja, Ren tetaplah permata yang terindah. Namun semua nafsu yang terkumpul dalam tubuhku langsung berubah menjadi energi yang berbeda. Ini merupakan salah satu harga dari menjadi pelayannya. Pada dasarnya, hampir mustahil bagiku untuk memiliki nafsu atau hasrat berorientasi seksual yang berlebihan kecuali dengan 'istriku' karena harga itu tadi. Itu berarti Ren tidak tidur sepenuhnya dan tengah memantraiku dengan sihir atau skill tertentu.
Aku hanya bisa menghela nafas berat.
Aku segera beranjak dari ranjang. Gerakan tersebut membuat luka di dadaku sedikit terasa nyeri yang membuat sudut mulutku berkedut. Sejenak, memoriku saat bertarung dengan kawanan Goblin itu mengalir layaknya air terjun yang menghantam kepalaku. Jujur saja, aku sangat ingin ada system didunia ini sehingga aku bisa melihat skill baru yang kudapatkan.
<< User Interface Diaktifkan >>
OoH!! oh..?
"Tentu saja aku bisa melakukannya." Suara lembut dan agak melengking yang khas terdengar dari belakangku.
Duduk disana, aku bisa melihat Ren masih dalam wujud perempuannya, menyangga kepalanya dengan kedua lututnya, sementara tangannya merangkul ke depan. Rambutnya yang dibiarkan terurai seperti menjadi penyempurna dari penampilan tersebut. Aku bisa melihat jelas tato biru cerah di pergelangan kaki kanannya.
"Ren, jangan bilang sistem ini milikmu? tapi mengapa baru sekarang?"
"Kamu tidak pernah memintanya sejak saat itu." Katanya dengan senyuman lembut di wajah.
Aku pikir kamu bisa membaca pikiranku. Haruskah aku mengatakan sesuatu yang memalukan semacam itu kepadamu? , Tidak melihat apa yang telah kamu lakukan selama ini, mungkin itu adalah jawaban terbaik yang bisa kupikirkan. Juga, aku masih belum lupa bagaimana kamu mengambil semua kartu dari [World Memory] kecuali Steve! Beruntung aku masih bisa menggunakan [Firestorm]! Aku merasa seperti seluruh ekspresi rontok dari wajahku.
"Buka User Interface."
<< User Status
Name : Antares Oliviera
umur : 11 tahun
Ras : Manusia
Julukan : *Nightwatcher *Pelindung Desa Astera *Pahlawan *Pelayan Dewa Mimpi
Job/class :
- Guard (lv 1)
- Watcher (5)
- Fighter (Lv 2)
- Weapon Master (lv 5)
- Elementalist (lv 1)
Stat :
- Strength : 14
__ADS_1
- Vitality : 14
- Dexterity : 14
- Mana : 14
- Intellect : 10
Special Skill :
- World Memory
- Variabell Collapse
Active Skill :
- Mana Burst
- Firestorm
- Hell Flame
- Wind of Decay
- Way of Cut
Art :
- Heart Break (new)
- Shield of Faith (new)
- Persona (new)
- Dash (new)
Passive skill
- Sword Affinity (new)
- Thought Acceleration (new)
- Mind Eyes (new)
- Detect Presence
- Dark Vision
- Natural Body
>>
Nampaknya aku mendapatkan banyak skill baru. Itu masih belum termasuk kartu dari [World Memory]. Mungkin aku harus mulai berkelana untuk mendapatkan kartu dari karakter yang jauh lebih kuat lagi. Ah, sebentar lagi akan ada peperangan, seharusnya itu 3 bulan lagi, Tepat di bulan pertama musim dingin. Aku bisa memulainya dari sana. Heh, aku ingin tahu seberapa kuat 7 kesatria dari Isyin.
Waktu baru berjalan satu sampai dua detik ketika semua pemikiran itu diproses dalam otakku. Sebelumnya, aku bisa membutuhkan waktu hingga 10 detik untuk menyelesaikan imajinasiku. Dengan kebiasaanku yang suka mengelana, skill seperti [Thought Acceleration] merupakan sebuah penyelamat.
Ren tetap diam selama itu, tapi aku masih bisa menebak pemikirannya, "apapun rencanamu aku akan memastikan kamu bersusah payah, hehe."
__ADS_1