
Tidak membutuhkan waktu lama hingga para goblin kembali dengan Hiiro yang setengah sadar. Tangan mereka diikat dan semua peralatan disita oleh para monster. Kemudian si Orge merapalkan kutukan yang membuat semua orang kehilangan indra penglihatannya.
"Hm, bawa dia ke altar." Kata si Orge dengan suara berat. Tidak ada yang tahu siapa yang dimaksud oleh Orge tersebut, akan tetapi absennya suara penolakan membuat orang-orang berfikir satu orang saja.
"Kalian bisa memakan mereka yang mati." Katanya lagi. Ketika si Orge berkata demikian, semua orang menggertakan giginya hingga itu nampak jelas di wajah mereka. Melihat ekspresi tersebut, si Orge hanya tersenyum.
"Potong kaki dan tangan mereka, kecuali mereka bertiga." Katanya lagi.
Setelah itu, mereka dipaksa untuk mendengar teriakan kesakitan dari rekan-rekannya mereka. Jeritan yang akan selalu bergema di telinga mereka dan menghantui mimpi mereka. Para goblin akan kaki dan tangan mereka selapis demi selapis hingga ke ujung. Kemudian mereka akan disembuhkan dengan sihir. Dan proses tersebut terus berulang. Entah karena metode kasar yang digunakan para Goblin, namun rasa sakit yang orang-orang itu rasakan jauh lebih besar daripada seharusnya. Sementara itu, ketika wanita yang tidak mendapatkan siksaan hanya bisa menangis pada setiap raungan yang mereka dengar.
"Kumohon hentikan! Jangan sakiti mereka lagi!"
"Oh, bukankah kamu rekan yang baik? Kau tahu, kalau bukan karena keegoisanmu, setidaknya setengah dari kalian akan selamat. Katakan padaku, apakah kamu jatuh cinta pada salah satu pria itu?" si Orge tertawa kecil.
Arthia hanya bisa mengigit bibirnya, karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Mananya sesudah sepenuhnya kosong. Bahkan dengan talent [Fairy Soul]-nya, masih membutuhkan waktu lama untuk memulihkan sihirnya. Bahkan dengan sihir yang pulih sepenuhnya, dia juga tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkan monster tersebut.
"Apa yang kau ingjnkan." Teriaknya dengan keras.
"Aku menginginkan banyak hal, dan aku ragu kamu bisa mengabulkan keinginanku." // Tidak ada alasan untuk bernegosiasi denganmu, mungkin itulah yang hendak disampaikan oleh Orge tersebut.
Arthia terdiam, namun itu hanya menunjukan kelemahannya.
"Tapi, kalian sudah membunuh terlalu banyak goblin hingga aku harus merubah rencanaku."
Goblin merupakan mahkluk yang lebih mirip parasit. Mereka lahir dengan cepat, tumbuh dengan cepat, dan mati dengan cepat. Semua informasi yang relevan segera timbul di pikiran Arthia. Membuatnya mengigit bibirnya semakin keras, hingga rasa asin dan besi yang hangat menyebar di mulutnya.
"Jangan-- AaHHH!!"
"Arthia jangan lakukan itu-- Arhgg!"
Teriakan mereka membuat luka hati Arthia semakin lebar. Sementara itu, semua orang terus mendorong Arthia untuk menolak tawaran tersebut.
"Baiklah aku akan melakukannya, dengan syarat kamu melepaskan mereka!" Arthia berteriak dengan seluruh kekuatannya. Keadaannya yang menyedihkan hanya membuat si Orge tertawa lepas.
"Ahaha, bukankah kamu menarik? Aku yakin para manusia lebih menghargai kebebasan mereka sendiri daripada orang lain. Hahaha~ Ha, katakan, siapa dari mereka yang harus kulepaskan?"
__ADS_1
Kata itu seperti memutuskan tali terakhir yang menjaga kewarasan si gadis. Membuatnya terjatuh ke lubang gelap tanpa dasar mengikuti gravitasi.
Melihat si gadis yang terdiam, ekspresi si Orge bertambah dingin. "Kurung mereka."
"Tunggu, aku belum selesai berbicara! Tunggu!" seekor goblin menarik Arthia tanpa mendengarkan rengekan gadis tersebut. Sementara gadis yang lain hanya diam, terutama Thalia.
Suara mereka mulai menghilang dari ruangan, tenggelam dalam lorong panjang gua bawah tanah tersebut.
"Mengapa kamu tidak langsung membunuh mereka? Aku tahu kau ingin bertanya itu, kan?" Si Orge menatap salah satu goblin Elite yang terap tinggal di ruang tahta.
"Seperti yang anda katakan, tuan."
Si Orge sedikit mengubah posisi duduknya. "A
Jujur saja, aku merasa tidak nyaman. Intuisi yang selalu kuandalk selama ini terus memberikan peringatan. Itu seperti, kematianku sudah sangat dekat."
"Apa peringatan itu berhubungan dengan orang-orang tersebut?"
"Nah lupakan itu, bagaimana persiapannya?"
"Hm, ah, jangan biarkan ada yang mengetahuinya, bahkan bawahanmu sekalipun. Hanya kau dan aku, kamu paham?"
"Ya, tuan."
"Baguslah, bagaimana dengan desa itu?"
"....."
♦♦♦♦
Suara teriakan Arthur, Percival, Sigur dan Steve terus terdengar sepanjang hari itu. Membuat Arthia kehilangan separuh kewarasannya. Ketiga gadis itu duduk terdiam dalam kurungan masing-masing dengan rantai api yang mengikat tangan mereka.
Tidak ada yang aneh kalau mereka tidak mendengar suara dari Noril. Dia dapat melepaskan diri dengan mudah dengan talentnya. Dan, mungkin dia tengah mengawasi tempat ini, menunggu saat yang tepat.
Siang berlalu, dan malam akhirnya tiba.
__ADS_1
dengan sebuah kedipan mata, semua pemandangan didepannya berubah seketika. Tiba-tiba saja semuanya menjadi sunyi. Awalnya mereka tidak menyadarinya, mengiranya sebagai halusinasi biasa. Kemudian, kesunyian itu mulai berubah menakutkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Samantha dengan mata setengah mati.
"Aku tidak tahu..." Kata Thalia dengan wajah pucat tapi datar.
"Arthia, bangunlah. Arthia, oi... " Samantha mencoba memanggil gadis penyihir tersebut. Tapi Arthia masih tetap termenung, tanpa suara.
(clang!)
Suara keras yang muncul tiba-tiba mengagetkan kedua gadis tersebut, sementara Arthia mulai mengangkat kepalanya perlahan. Berdiri disana, ialah seorang pemuda tampan bermata biru dan rambut pirang. "Arthia!" teriaknya sembari berlari menuju gadis tersebut. Kemudian dia memelukmu dengan erat.
"Art..hur... Arthur... Arthur!" Arthia segera tersadarkan dari lamunannya, sama-sama memeluk pemuda tersebut.
Semua orang terdiam saat mereka melihat kedua remaja tersebut. Kemudian suara lain yang familiar terdengar dari suatu sudut. Saat ini mereka berada di kandang besi yang diperuntukkan oleh binatang, di balik sel penjara. Itu berarti kurungan ganda. Kini kedua kurungan tersebut terbuka tanpa adanya satupun penjaga, keributan, ataupun bau aneh. Seolah apa yang mereka lihat saat ini bukanlah sesuatu yang nyata.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" Orang yang berkata demikian ialah Percival yang hanya mengenakan baju biasa.
"Bagaimana kalian bisa lepas? Dan anggota tubuh kalian...?" Samantha bertanya sembari menyentuh dagunya, tanpa menyadari kalau ikatan yang membelenggunya sudah menghilang.
Thalia terbelalak melihat semua keanehan ini, kemudian dia mencoba menggerakkan tangannya. Dan dia bisa melakukannya tanpa hambatan sama sekali. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa, dan terus melihat kedua tangannya. Bekas merah nampak jelas di pergelangan tangannya, namun tidak ada rasa sakit sedikitpun.
"Kau tahu sesuatu Noril?" Thalia bertanya ke udara.
Noril dalam pakaian biasa serba hitam berjalan keluar dari dinding. "Aku tidak merasakan keanehan apapun, namun ada tiga orang lain di sini selain kita."
"Musuh?" Sigur bertanya dengan kata pendek dan berat. Sementara Steve berdiri di belakangnya, masih tetap diam.
"Mungkin tidak, aku tidak merasakan niat membunuh sedikitpun." Kata Noril.
"Haruskah kita mengeceknya?" Samantha memberikan usulannya.
"Mari putuskan itu setelah kedua anak kembar itu menyelesaikan urusannya."
(Bersambung...)
__ADS_1
♦♦♦