
"Ah, maaf kami sedikit emosional disana." Arthur akhirnya melepaskan Arthia dari dekapannya. Sembari menggosok air mata yang mengalir di matanya.
"Nah, tak masalah. Kalian bisa melakukannya sedikit lebih lama lagi." Percival tertawa kecil.
"Tidak perlu, bagaimana dengan keadaannya? Aku tidak mendengarkan tadi." Arthia menggosok wajahnya dengan kedua tangannya.
Semua orang melihat kearah Noril, kemudian pemuda menjelaskan apa yang di ketahuinya. Sedikit demi sedikit, semua orang terjatuh dalam kesunyian. Tempat ini, gua ini, tiba-tiba saja kesunyian ini terasa sangat mencekam.
"Aneh, bagaimana bisa semuanya tiba-tiba menghilang? Atau mungkin kita yang justru menghilang?" Arthia mencoba mencerna keadaan tersebut dengan punggung tangan di dagunya.
"Kamu tahu mantra tipe ilusi yang bisa membuat sesuatu semacam ini?"
"Aku tahu beberapa mantra yang membuat target jatuh ke dunia ilusi, tapi semua mantra itu hanya menargetkan 1 sampai 2 orang saja. Jadi, mungkin pengguna sihir ini sangat kuat hingga mampu menarik kita semua. Seorang setengah dewa contohnya."
"Itu tidak mungkin kan? Jumlah total mereka tidak lebih dari 5 orang, maksudku untuk spesialis ilusi. Seperti Lord of Nightmare, atau Eyes of Illusion...?"
"Bagaimana dengan Dewa Mimpi dan Kerahasian?"
Tiba-tiba saja semuanya tersentak.
"Ah! Aku lupa soal dia..."
"Benar, jadi kita berada di dunia mimpi saat ini?"
"Kurasa memang itu yang terjadi, lagipula Saga dan Antares yang merupakan pelayannya tiada di tempat ini."
"Apakah itu berarti kita akan menghadap dewa betulan? Bukankah itu agak, kau tahu, mengerikan?"
"Sayangnya, kita tidak memiliki cara untuk keluar dari dunia ini!"
"Tidak, bagaimana ini!"
"Alu tidak mau mati!"
Eksistensi dewa bukanlah hal yang rahasia, namun hanya sebatas mengetahuinya dan bertemu dengannya langsung adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Mereka terdiam menunduk untuk waktu yang sangat lama kemudian, sampai ada seseorang berkata...
"Ayo bertemu dengannya."
__ADS_1
"Haaa! bertemu dengannya? lu gila ya!" Percival yang biasannya kalem mendadak keceplosan.
"Tunggu, suara ini?!"
Melihat ke sumber suara, mereka segera melihat pemuda berrambut putih yang khas. Berdiri mengangkat kedua tangannya seperti ingin memeluk seseorang.
"Hahaha, ayolah, lagian ngapain diam aja disitu. Toh, kalian juga gak bakalan bisa kabur dari sini." Saga tertawa lepas.
""Saga!""
"Lu masih hidup? Ehem, maksudku, bagaimana kamu bisa ada disini? Ah, lupakan." Percival bertanya dengan nada cepat, kemudian dia baru mengingat sesuatu.
"Hai, mas Saga, apa kabar?" Samantha seperti sudah lama tidak bertemu satu sama lain.
"Hai juga, kamu merindukanku Samantha, hehehe." jawabnya dengan riang.
Thalita akhirnya bernafas lega setelah mendengar jawaban pemuda tersebut. Begitu juga dengan Arthia dan Arthur.
"Mas Saga, kamu tahu kita dimana? Maksudku, kami melihat kamu mati dengan kedua mata kami." (Arthur)
"Eh, sebenarnya aku belum mati, hanya saja Ren menahan kebangkitanku. Ha, apa boleh buat kalau kamu memiliki teman yang toxic seperti dia..Ah, bisa dikatakan aku mati sih.."
"Untuk suatu alasan keduanya memiliki kemistri yang cukup aneh. Ayo ikuti aku."
Saga kemudian menuntun mereka menuju ke suatu tempat. Lorong itu sendiri terlihat sangat gelap, dengan obor sebagai sumber pelita setiap beberapa meter. Menyisakan beberapa meter kegelapan hingga sampai ke obor yang lain. Itu karena goblin memiliki kemampuan alami untuk melihat dalam gelap yang tidak begitu dapat diandalkan.
Setelah beberapa langkah, lorong gelap panjang tersebut mulai mengalami fenomena janggal. Kembang api yang dihasilkan oleh kobaran api mulai mengambang diudara seperti kabut. Kabut yang bercahaya. Sekilas itu seperti obor tersebut mulai membakar langit-langit gua. Setelah kembang api mencapai atap, mereka akan turun sedikit demi sedikit seperti salju. Menerangi seluruh titik dalam gua batu. Semua orang tidak berkata-kata menyaksikan pemandangan tersebut.
"Apa ini, apa yang terjadi? Semua ini seperti menolak hukum alam, aku bahkan tidak bisa merasakan fluktuasi mana!" Arthia berseru
"Mungkin karena dia dewa dalam domain kerahasian? Kau tahu, disembunyikan?" Arthur bertanya dengan wajah serius.
Tidak lama kemudian lorong gua itu sendiri seperti menghilang. Digantikan langit angkasa yang dipenuhi taburan bintang yang kelap-kelip.
"Luar biasa! Aku belum pernah melihat langit seindah ini!" (Percival)
Kemudian warna hitam didepan mereka juga mulai memudar seperti cat dalam kolam air. berubah menjadi padang rumput dan bunga terulak. Dunia itu sendiri diliputi oleh malam dan kesunyian yang tak berujung. Jika seseorang melihat lebih jauh lagi, mereka akan melihat rumah 3 tingkat yang memantulkan cahaya pucat rembulan. Terbuat dari bahan putih yang tidak diketahui, dan lantai yang sudah dikeramik. Di terasnya terdapat lampu yang memancarkan cahaya magis. dan juga taman kecil disekitarnya.
Tidak jauh dari rumah, terdapat pohon besar yang rindang namun tidak menakutkan. Dibawah pohon tersebut, terdapat sebuah kursi panjang dari kayu yang kosong. Daun dan rumput tersebut seolah dalam gerakan melambai yang konstan oleh angin malam yang selalu bertiup.
__ADS_1
"Inikah tempat tinggal dewa? Walau terlihat mengesankan, tapi rasanya agak terlalu biasa kan?" Percival tidak bisa menahan komentar tersebut. Orang-orang tiba-tiba menatap pemuda tersebut dengan tajam, sementara Saga hanya tertawa ringan.
Lebih jauh lagi, rumah itu berbentuk seperti beberapa kubus yang ditumpuk menjadi satu. Dengan cermin hitam mengkilap yang indah, detail menarik, dan minimalis. Secara keseluruhan, rumah tersebut dibuat untuk kepraktisan daripada kemewahan.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di depan teras rumah tersebut. Sepasang pilar yang terbuat dari marmer menopang atap datar entah untuk apa. Lantainya sudah ditutupi dengan keramik gelap yang bersih dan mengkilap.
Secara teknis, 3 menit belum sepenuhnya berlalu sejak mereka keluar dari sel dan pergi ke rumah ini.
Saga melepas sepatunya yang diikuti oleh semua orang, menaruhnya di rak di sebelah pintu. Kemudian dia mengetuk pintu dengan irama pelan.
"Kami masuk." Dengan suara (klek) pelan, pintu kayu itu terbuka dengan halus.
"Oi, Saga apa yang kau lakukan?!" Arthur dan Percival berseru secara bersamaan, dalam nada rendah untuk tidak mengganggu orang didalam.
"Oh, kalian sudah diundang. Tidak perlu khawatir, anggap saja rumah sendiri." Katanya tanpa beban sedikitpun. Sementara semua orang sudah berkeringat dingin ketika mereka sampai didepan rumah ini.
Begitu pintu dibuka, suara musik, pertarungan dan tawa anak-anak terdengar dari dalam ruangan. Itu seperti, "Kanan! Kanan! Musuhnya di sebelah kanan!"
"Diamlah! biarkan aku fokus!!"
"Oi,oi,oi! aaaaah!"
Salah satu suara itu milik Antares yang baru mereka kenal beberapa jam yang lalu. Tidak dipungkiri, anak itu terdengar sangat bersemangat.
Ruangan dalam rumah tersebut sangat bersih dan terang. Warna putih pucat memenuhi ruangan tersebut, dengan beberapa lukisan, rak penuh hiasan, tanaman dalam ruangan, meja kecil, dan kursi panjang yang disebut. Mereka cukup terkejut karena tidak ada ruang tamu disana. Terdapat dua anak seumuran yang duduk diatas karpet, bersandarkan sofa panjang. Keduanya memang benda hitam yang memiliki tonjolan dalam bentuk tertentu, dan setiap simbol diatasnya bersinar gelap. Selain itu, ada sebuah kantong dari bahan tak dikenal yang penuh dengan makanan tipis dan renyah. Dari baunya, Samantha teringat dengan kentang.
Mereka berdua tengah menghadap ke layar yang menempel di dinding yang berisi gambar bergerak. Gambarnya sangat bagus dan nampak begitu nyata. Namun mereka tidak bisa merasakan tanda-tanda kehidupan dari gambar tersebut, seperti gambar biasa.
"Ah, kalian masih bermain? Apakah kalian tahu sudah berapa jam kalian bermain game yang sama?" Saga mendesah berat. "Ah, jika kalian bisa mandi lebih dulu, tinggal lurus lalu belok kanan. Sementara itu aku akan menyiapkan makan malam spesial."
"Err, makasih untuk keramahannya, tapi..."
"Kalian bisa rehat sejenak, lalu kits bisa bicara nanti." Anak yang terlihat sangat rupawan seperti malaikat tengah melihat mereka dengan mata metah cerahnya. Dia memegang makanan tipis tersebut dengan tangan kanan yang nampak indah dan sempurna, sebelum ia memakannya. Lirikan tersebut seketika itu juga mencuri hati para manusia yang hadir dalam ruangan tersebut.
"B-baiklah..." Satu persatu mereka mulai menyadari siapa anak itu sebenarnya. Dan mereka memilih untuk mematuhinya, setidaknya itulah setengah alasan mereka.
(bersambung...)
♦♦♦
__ADS_1