Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 38 Pertemuan Kedua


__ADS_3

Tidak Sulit untuk menemukan tempat yang pernah kukunjungi sebelumnya. Aku mengetahui lokasinya secara intuitif. Selain itu, tempat itu juga dimana aku merasakan keberadaan yang familiar tersebut. Walau begitu, tetap dibutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di tempat itu, jika kita menggunakan kecepatan pria dewasa yang berjalan kaki, hanya karena luas gua bawah tanah ini. Aku mungkin perlu sedikit waktu lebih lama karena harus menghabisi Goblin kutemukan. Bagaimanapun juga, mereka adalah poin-poin ku yang berharga.


Beruntungnya mereka cukup lemah hingga aku tak perlu membuang terlalu banyak tenaga. Agar raid ini berjalan seefisien mungkin, aku berfokus pada penggunaan [Presence Concealment] dan teknik serangan kritis tipe assassin. Dengan cadangan mana yang berkali-kali lipat dari level 50 biasa, aku bisa mengaktifkan skill tersebut beberapa minggu tanpa istirahat. Pada dasarnya tidak terbatas.


Untuk keefektifannya sendiri, aku bisa berdiri tepat didepan para goblin tersebut tanpa mereka sadari. Memenggal kepala mereka tepat didepan mata mereka, dan mereka tidak akan pernah menyadari keberadaanku. Tentu saja, level mereka masih rendah dan tidak terlalu bisa dijadikan patokan. Untuk saat ini, aku berada di level yang menyatu dengan area di sekitarku, sehingga mata telanjang dan skill deteksi tingkat rendah tidak bisa mendeteksi keberadaanku.


Untuk saat ini, tidak ada goblin yang melebihi level 31, dan hanya beberapa saja yang mencapai level 30. Tidak perduli dilihat dari sisi manapun, mereka akan mati hanya dengan satu kali serang. Dan aku, benar-benar mengincar titik lemah mereka, yaitu leher atau dada.


Contohnya saja...


Aku sampai di ruangan yang dihuni banyak goblin dan goblina. Pertama aku memastikan jumlah dan lawan yang ada. Kemudian berjalan masuk hanya dengan skill [Presence Concealment] aktif. Para Goblin tersebut masih berinteraksi dengan santai, tertawa ria, dan bertingkah semaunya. Tanpa berlama-lama, aku langsung menghunuskan pedangku. Langkah kakiku berjalan semakin cepat, hingga itu nampak seperti menghilang dari pandangan. Kemudian, aku langsung memotong salah satu kepala goblin. Tanpa melihat kebelakang, aku menuju ke korban ke dua... ketiga... keempat... kelima... dan seterusnya hingga semuanya mati.


Menariknya, mereka semua tumbang hampir secara bersamaan. Hanya beda beberapa detik saja.


Windows timbul didepan pandanganku satu demi satu dalam kecepatan tinggi di sisi kiriku. Memberitahukan sesuatu kepadaku.


<< Selamat, anda telah mendapatkan julukan "Goblin Slayer" Efek semua stat meningkatkan 100% ketika melawan Goblinoid >>


<< Selamat, anda mendapatkan julukan "Shadowless Assassin". Efektifitas skill tipe deteksi, persepsi, dan persembunyian meningkatkan sebanyak 500% >>


<< Karena julukan Shadowless Assassin, anda mendapatkan skill [Death Strike] >>


Hm, bukankah itu agak terlambat. Apa sistemnya di update tanpa aku ketahui? Mengingat sifat Ren yang agak ceroboh, mungkin dia lupa beberapa hal lainnya. haissh...


Aku harus mengecek sistem lagi nanti. // Berfikir demikian, aku melanjutkan penyeranganku.


Beberapa ruangan telah aku lalui tanpa adanya masalah sedikitpun. Semuanya berjalan masih seperti pertama kali. Tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaanku bahkan goblin 30 yang berspesialisasi dalam assassinasi dan sensor.

__ADS_1


Tidak banyak yang bisa kudapatkan dari para goblin, jadi aku membiarkan mayatnya begitu saja.


Setelah waktu yang cukup lama, aku akhirnya sampai didepan pintu ruangan itu. Pintunya ditutup oleh sepasang pintu ganda yang terbuat dari besi. Besar dan tinggi, membuat siapapun yang melihatnya merasa enggan untuk mencoba membukanya. Penampilan tersebut terkesan sangat mengintimidasi. Tentu saja, aku membukanya dengan sedikit tekanan di kedua telapak tanganku.


Suara besi yang bergesekan terdengar seperti menyayat hati dan telingaku. Kemudian pemandangan itu terpantul di depan kedua mataku.


Mayat yang penuh darah dan kurus dibawah lampu kemerahan dari bola magis. Wajah yang mengeras masih memancarkan kesan ketakutan dan penderitaan mereka diakhir hayatnya. Semuanya membentuk dua buah gunung kembar. Dengan genangan darah merah memanjang hingga tahta batu layaknya karpet kebesaran.


Tanganku langsung mengepal bersama dengan mengerasnya rahangku saat aku melihat mereka. Bagaimana aku tidak merasa marah, ketika melihat wajah orang-orang yang aku kenal! Ada beberapa warga desa Astera disini! Pria, wanita, orang tua, bahkan anak-anak semuanya tidak terkecuali!


"Ahahahaha! Aku tidak menyangka akan mendapat kunjungan hari ini!"


Suara tawa terdengar bersama dengan kalimat yang ceria. Dia duduk diatas singgasana batu yang dilumuri berwarna merah dengan satu kaki diatas kaki yang lain. Nampak santai dan malas dalam neraka ini.


"Bangsat...!" Kata-kata terlepas dari mulutku, bersama dengan suara gertakan gigi gerahamku.


Pria muda itu nampak berada diantara akhir dua puluhan, tinggi dan tampan Rambut merahnya yang panjang yang indah. Hanya saja, wajahnya nampak pucat seperti lama tidak melihat matahari.


Dia adalah red Orge yang baru saja hidup kembali. Dia nampak lebih kuat dari sebelumnya, dengan aura merah yang merembes keluar dari badannya terlihat jelas meski dengan mata telanjang. Badannya jauh lebih tertempa dari sebelumnya, seolah menyembunyikan energi yang dahsyat. Dia juga sudah berhasil memasuki ranah setengah-dewa level 61.


"Bagaimana? apa kamu menyukai, tubuh baruku, bocah manusia?" Kata sang orge disusul dengan tawa keras.


Aku ikut tertawa. Tawa yang panjang dan keras seperti orang gila. Tawa yang membuat perutku sakit. Tawa yang membuatku menutupi wajah dengan telapak tanganku.


"Terimakasih."


"Kau sudah gila. Terimakasih?"

__ADS_1


"Benar, aku berterimakasih. Karena aku mendapat kesempatan kedua untuk membunuhmu!" Aku memperlambat kata-kataku mendekati ujung kalimat. Kemudian aura membunuh meledak dari tubuhku.


Wajah sang Orge berubah dingin, bersamaan dengan aura merah kental yang juga meledak dari dalam badannya.


Kedua aura bertabrakan satu sama lain dengan intensitas tinggi, mengetarkan segala sesuatu di ruangan tersebut. Permukaan genangan darah yang tenang kini dipenuhi riak air yang riuh dan kacau. Sementara kami hanya diam.


Kami mencoba saling mengalahkan satu sama lain dalam duel aura. Aku melepaskan satu lagi kekuatanku hingga menyentuh level 81. Baru setelah itu, auraku mulai menekan aura sang Orge.


"Bagaimana mungkin, ini..." Jeritnya dengan suara yang gemetar.


"Tidak ada yang mustahil didunia ini, kecuali satu hal. Membunuhmu adalah salah satunya." Kataku tanpa mengendurkan tekanan aura yang kulepaskan.


"Jangan sombang, bocah!" Aura sang Orge menjadi lebih kuat lagi. Tekanan itu sangat kuat hingga auraku terdorong hingga belakang.


Aku segera membuka beberapa level yang tersegel hingga level 91 untuk mendorongnya kembali. Perbedaan level ini diperlukan karena perbedaan kualitas antara kami berdua.


"Kamu! Bagaimana bisa kamu menahan kekuatan seorang Demigod tanpa kekuatan suci!"


Aku mengeluarkan pedang kelas legendaris yang kubeli dengan semua poin yang ada. Energi magis mengamuk ketika aku mengalirkan mana ku kedalam pedang tersebut.


"Kamu tidak perlu mengetahuinya, mode on. Jadi diam dan matilah! [Heart Break]!"


Ledakan energi menghempaskan segala sesuatu di ruangan bersama dengan dua kekuatan yang saling berbenturan.


(bersambung...)


♦♦♦

__ADS_1


__ADS_2