
Sang orge akhirnya ditumbangkan. Dengan statusnya sebagai monster berlevel tinggi, semua orang mendapatkan exp yang cukup banyak untuk level up beberapa kali. Aku sendiri langsung melompat 30 level dari level 9. Jelas ini membuatku terkejut. Walau efeknya tidak begitu signifikan padaku, namun, untuk orang lain ini bagaikan matahari terbit dari barat. Steve, Arthur, Percival, dan yang lainnya hanya bisa terdiam membisu. Masing-masing dari mereka setidaknya memasuki level 40-an, dengan Saga yang paling tinggi mencapai level 51. Masih menjadi yang terkuat.
Tentu saja, semua ini terjadi karena mereka pada dasarnya manusia pilihan yang memiliki talent. Kalau tidak, titik tertinggi yang bisa mereka raih mungkin hanya 31-35 saja. Batasan itu sendiri akan ditiadakan jika seseorang menjalin kontrak dengan entitas tertentu.
Level up yang luar biasa tersebut juga berdampak pada penampilan mereka. Pendekar seperti Arthur, Saga, dan Percival menjadi sedikit lebih besar. Tetap proposional tetapi dipenuhinya kekuatan, seperti senjata yang ditempa dengan baik. Sigur menjadi jauh lebih besar sebagaimana Barbarian pada umumnya. Para wanita juga mendapatkan nilai plus pada penampilan mereka, bagaikan bidadari yang turun dari surga. Ya, ungkapan tersebut tidak terlalu berlebihan. Noril, mengalami hal yang serupa dengan Arthur. Steve sendiri nampak seperti beberapa tahun jauh lebih muda. Badannya ramping karena keahlian utamanya adalah pemanah. Sementara aku sendiri, aku tidak tahu. Tidak ada cermin disini. Tetapi, pandangan para gadis itu kepadamu sedikit berubah.
Untuk kekuatan sendiri. Level 41 memiliki daya serang setidaknya 500 megaton tanpa skill. Daya tersebut bisa lebih kuat lagi bila menggunakan skill seperti [Mana Burst] dan buff sihir. Benar, satu-satunya alasan mengapa dunia ini belum hancur ialah, adalah hukum yang menekan efek penggunaan mana sampai titik tertentu saja. Bahkan jika sihir yang setara dengan bintang Neutron digunakan, area ledakannya mungkin hanya sampai beberapa kilometer saja, tergantung dari kemampuan pengguna. Agak rumit memang. Lagipula sihir itu sendiri seperti hack dalam sistem.
Oleh sebab itu, aku sedikit merasa bebas, dan all-out ketika menggunakan kemampuanku. Ah, batas maksimal dari skill-ku saat ini hanya 600-700 kilometer saja.
Sebenarnya saat ini keadaan sedang heboh, namun aku tidak mau menjelaskannya. Tentu yang paling heboh ialah Percival.
Setelah semuanya reda, kami pergi ke berbagai area untuk membersihkan Goblin yang tersisa dan menjarah semua barang yang ada. Tidak banyak yang bisa diambil dari para goblin, jadi aku menikmati waktu membunuh mereka. Kembali ke ruang penyimpanan, kami membungkus semua emas, perak, dan sedikit magic item dalam beberapa kain besar. Lalu kami mengunjungi ruangan yang dipenuhi oleh mayat, untuk mengecek telur diatas tahta, hanya untuk dikejutkan dengan menghilangnya telur tersebut. Semuanya hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. Spekulasi bersliweran di kepala kami, namun hanya itu saja. Dan, atas apa yang terjadi sebelumnya, mereka memilih meninggalkan mayat Hiiro di tempat ini.
Aku tidak berkomentar apapun, tapi aku membuat catatan untuk mengunjungi tempat ini nanti.
"Akhirnya kita bisa pulang!" kata Percival dengan penuh semangat.
"Heh, bukankah kita sudah beristirahat cukup lama di dunia mimpi?" celetuk Arthur.
"He-he-he, itu berbeda. Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat dengan tenang di sekitar "Dia"?" Percival mendecakkan lidahnya.
Semuanya hanya tertawa kecil, walau kami juga menyetujui pernyataan tersebut. Tidak, mungkin satu-satunya orang yang bisa santai di sekitar Ren hanyalah Night Watcher. Ya, itu tergantung dari Ren juga sih. Kepadaku, dia bisa menjadi sangat toxic dan kalem pada saat yang sama.
__ADS_1
Nah, lebih penting dari itu. Aku harus menyiapkan mentalku sendiri. Setiap kali aku melangkahkan kakiku, jantungku terasa berdebar keras. Hingga aku merasa tingkat detak jantungku mungkin menembus 200 poin. Tidak, mungkin itu terlalu berlebihan.
"Apa yang terjadi?"
Pernyataan tersebut seakan menyentakku kembali ke kenyataan.
"Bau darah dan...!"
Kami segera berlari menuju ke desa dipenuhi kegelisahan. Dan ketika sampai disana, aku hanya bisa terdiam...
Bangunan dari kayu yang unik itu kini tidak bisa lagi dikenali. Menara tinggi yang sering kutempati telah runtuh. Aroma amis logam seolah menusuk otak kami sampai ke ubun-ubun. Senyuman orang-orang yang berlalu lalang kini digantikan oleh geraman binatang buas.
"Apa-- apa yang terjadi...?" Arthia terjatuh pada lututnya, tidak percaya dengan apa yang diperlihatkan oleh matanya.
Nyatanya, bukan hanya dia. Kami semua merasakan perasaan yang serupa. Kami mungkin belum keluar dari dunia mimpi. Kami mungkin belum sepenuhnya terbangun. Kami mungkin masih terjebak dalam gua goblin bawah tanah... …………………
"Antares…"
Panggilan tersebut terdengar semu. Aku tidak menghiraukan mereka, mengangkat kaki kananku, dan memasuki area dalam desa.
Bayangan tiba-tiba terbentuk di ujung mataku, orang-orang yang mengenakan pelindung kulit tengah mengobrol bersama rekan-rekannya disebelah menara yang hancur. Bayangan lain membentuk anak-anak yang berlarian dengan senyuman lebar, tanpa beban sedikitpun. Kemudian para wanita yang datang dan pergi membawa bakul dipenuhi sayuran. Warga desa yang aku kenali timbul satu demi satu. Melihat kepadaku. Tersenyum kepadaku. Sebelum akhirnya menghilang kembali.
♦♦♦
__ADS_1
"Aku hendak marah kepadanya, namun, dia jauh lebih kehilangan daripada aku."
"Benar, tidak peduli bagaimanapun, dia masih anak-anak."
Semua orang terdiam, hanya memperhatikan anak kecil yang melangkah diantara reruntuhan dalam sunyi. Tidak ada yang menghentikannya, entah itu para orang dewasa di sana ataupun binatang buas didepannya. Seperti seseorang yang melakukan penghormatan terakhir kepada mereka yang telah tiada.
"Ayo pergi."
Mengikuti pemimpin mereka, semua orang memasuki reruntuhan desa yang telah belum lama mereka singgahi.
Tidak lama waktu berselang bagi para Crimson Vortex, namun senyuman mereka akan selalu membekas di ingatan.
Bagi Steve sendiri, desa ini merupakan tempat yang tak bernilai. Setiap rumah yang berdiri, setiap lumut di tumbuh, dan setiap penghuni yang ada, tidak ada yang jauh lebih berharga dari semua itu. Sayang sekali, dia harus melihat semua itu menghilang tempat dihari tuanya.
Mungkin aku memang harus pensiun dan menikmati hari tuaku // Kalimat tersebut terbesit dalam pikirannya.
Antares mengelilingi desa dengan harapan untuk menemukan satu atau dua korban selamat, walau dia tidak merasakan keberadaan siapapun dengan indra persepsinya. Sementara semua orang hanya mengikutinya dalam diam.
Tidak ada isak tangis, tidak ada jeritan, tidak ada ratapan. Hanya kesunyian yang tidak pernah berakhir.
Antares sampai didepan pintu rumahnya. Tidak banyak yang tersisa dari rumah kayu tersebut. Bangunan yang biasa ia tinggali tersebut seolah berubah menjadi rumah angker yang dipenuhi noda darah dan kesunyian. Anak tersebut menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian masuk melalui pintu yang setengah hancur.
…… ……… ……… …… ……… …… ……… ……… ……
__ADS_1
(bersambung...)
♦♦♦