Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 19 Night Watcher


__ADS_3

"Lalu apa yang kalian lakukan setelah itu?" Percival bertanya dengan mata berbinar.


"Setelah itu, yah, kami membunuh semua orang di mansion tersebut. Lalu kami pergi begitu saja. Kemudian kami berkelana ke berbagai tempat, melakukan hal-hal yang kami sukai seperti berdagang, mempelajari sihir, atau menjadi petualang sepertiku. menariknya tidak ada satupun dari kami yang tertarik untuk masuk ke lingkaran kelas atas. Malahan mereka lebih suka hidup didesa seperti dengan sederhana. Begitulah, cerita selesai, dan lembaran barupun dimulai." Saga sampai diakhir ceritanya.


"Jadi apa saja yang Dewa Mimpi perintahkan pada kalain?" tanya Thalia dengan kebingungan.


""Tidak ada, dia hanya akan datang dan pergi sebagaimana anak kecil pada umumnya."


"Benarkah? Aku tidak bisa mempercayainya. Maksudku, mengapa seorang dewa turun ke dunia fana? Dan lebih dari satu kali, pula." Hiiro tidak bisa memahaminya sama sekali, itu sama dengan semua orang yang berada di tempat itu. Sementara Saga hanya menyangka bahunya dan menghabiskan makanannya.


"Nah, lupakan itu, selama dia tidak melakukan hal-hal yang jahat, maka tidak masalah bagiku." Steve menyela renungan semua orang tanpa rasa bersalah. Pada faktanya, dia cukup penasaran dengan entitas yang disebut Dewa Mimpi dan Kerahasian ini.


Setelah itu semua orang saling berbagi cerita tentang berbagai hal dan rumor yang mereka dengar. Sampai semua sup di panci habis tak bersisa.


Kemudian satu jam pun berlalu.


Seorang anak dengan rupawan dengan rambut emas keluar dari rumah yang nampak sederhana. Meski ukuran badannya yang relatif kecil, namun aura misterius seperti memancar darinya. Seolah anak itu sendiri menyatu dengan alam disekitarnya. Dia memiliki kulit bersih yang agak kecoklatan karena sering bekerja diladang, rambutnya krem-keemasan berkibar bersama angin, sementara matanya biru-kehijauan seperti danau.


"Apakah semua Night Watcher akan terlihat rupawan seperti itu?" Kata Hiiro sembari beralih antara wajah Saga dan Antares. Sementara semua anggota Crimson Vortex mengangguk dengan kuat kecuali Saga.


"Yo, apa yang terjadi? Ah, kalian petualang yang dibicarakan semua orang itu?" Tanyanya dengan suara khas yang belum pecah. Dia menyapu pandangannya ke semua orang, dan berhenti di leher Saga untuk sejenak.

__ADS_1


"Apakah itu asli?" tanyanya lagi.


"Ini asli, perkenalkan aku Saga tanpa nama belakang. Senang bertemu denganmu." Saga tersenyum lebar dengan mata sedikit mengerut.


"Begitukah, namaku Antares, kuharap kita bisa bekerjasama dengan baik." Antares mengangguk pelan. "Jadi, berasumsi kalian tengah menunggu seseorang? Apakah penyerangannya sudah selesai?"


Dia pandai dan kuat. Dilihat dari cara berjalannya, dia mungkin tipe petarung jarak dekat. Kemampuannya setidaknya berada di rank Orichalcum atau lebih tinggi lagi. Dua mungkin lebih hebat dari Saga dalam mode Night Watcher-nya? // Arthur mendapatkan gambaran singkat tentang anak bernama Antares tersebut.


Tidak, mana yang terkandung dalam dirinya sangat besar! Mungkinkah dia tipe all-round Magic Knight? Bisa saja karena dia tidak membawa perlengkapan apapun. Atau mungkin seorang Monk? // Arthia dan Thalia mendapatkan gambaran yang berbeda.


"Nah, sebenarnya kami datang kemari untuk mendapatkan bantuan. Monster di dalam sana jauh lebih banyak dan kuat dari yang kami asumsikan sebelumnya..." Arthur segera menjelaskan apa yang dilihatnya. Mendengar itu wajah kepala desa dan para penjaga lain yang hadir berubah pucat hingga nampak akan pingsan kapan saja.


Satu monster tingkat 60 seperti Goblin Barbarian sudah cukup untuk meratakan desa ini dengan tanah. Dan kini mereka mengatakan ada monster dengan tingkat melebihi 90? Bukankah itu setara dengan monster yang dihadapi para pahlawan, orang-orang yang sudah mencapai ranah manusia tertinggi? Ini bencana!


"Hehe, ya mas Saga pasti bisa melakukannya, tapi kami akan mati sebelum dia berhasil mengalahkannya." Arthur mencela dirinya sendiri, sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Oleh karena itu, kami datang kemari! Jadi seberapa kuat kamu saat ini? Bisakah kamu menjadi umpan sementara Saga mengalahkan boss-nya?" Jika bukan karena kata-kata yang sedikit menusuk, eskpresi Percival sangat cocok untuk menjadi cover wallpaper saat ini.


"Baiklah, aku akan menunjukannya. Kalau soal seberapa kuat, aku juga tidak tahu." Saat ini Antares setara dengan level 151 dalam parameter atribut/stat. Bila ditambah Night Watcher mode maka stat tersebut akan mencapai level 302. Standar dunia, tingkat bahaya Antares setidaknya 906, melebihi dewa. Dia bisa bersaing dengan lesser god dengan mudah, tapi mengalahkan mereka akan sangat sulit. Itu seperti semut yang bertarung dengan seekor naga.


Antares mengangkat tangannya, kemudian menyalurkan mana melaluinya, menciptakan bola api padat yang diselimuti petir ilusi. Sedikit demi sedikit panas yang dipancarkan bola api tersebut semakin tinggi seiring meningkatnya jumlah mana yang mengalir ke dalamnya. Ketika selesai terbentuk, bola tersebut memancarkan suhu panas lebih dari 2000°C menurut hukum fisika.

__ADS_1


Ujung mata Steve berkedut hebat ketika melihat bola api tersebut. Sementara yang lain hanya terpukau akan kemampuan anak tersebut. Dan para petualang tahu kalau Antares belum menggunakan Night Watcher mode saat ini. Kekuatan yang ditampilkan oleh Antares untuk saat ini setidaknya setara dengan petualang level 30.


"Hei bocah, mengapa kamu kesulitan menghadapi Goblin Barbarian itu?" Steve bertanya dengan nada berat.


"Ah, Ren menyegel sebagian besar kekuatanku karena entah apa alasannya. Jadi, yah seperti itu hasilnya." Antares hanya bisa tersenyum tak berdaya.


"Benarkah? Hahaha, jadi kamu mengalaminya?" Sementara Saga tertawa keras. "Nah, itu sering terjadi jika kamu masih level rendah, jadi tidak usah terlalu khawatir. Ngomong-ngomong, untuk anak seusiamu, bukankah kamu terlalu kuat Antares? Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Lebih dari itu, mengapa kalian tidak menceritakan soal target kita? Kalian sudah punya rencana'kan?" Bola api tersebut menghilang setelah Antares menyerap kembali mana yang dia gunakan. Walau jumlah mana itu tidak lebih dari setetes air.


Athia dan Thalia dapat melihat jelas yang dilakukan Antares, dan keduanya hanya bisa terkagum. Setelah melihat kemampuan Antares saat ini, sekarang semua orang mengerti mengapa para Night Watcher disetarakan dengan dewa Kematian itu sendiri. Itu hanya sulit dipercaya bagaimana anak kecil sepertinya bisa mencapai kekuatan setinggi itu.


"Hei Saga, apa itu benar baik-baik saja?" mengetahui sifat Antares, mau tidak mau Steve harus bertanya kepada seseorang yang sama dengannya.


"Ren biasanya memberikan kami tiga hal, salah satunya adalah [Diverse Parameter] yang membantu perkembangan seseorang. Jadi dia tidak akan meledak karena terlalu banyak mana dalam tubuhnya. Secara fisik dia tidak apa-apa, namun ..." Saga mendekati Antares dan mengusap kepalanya dengan lembut, lalu berkata dengan lembut, "Ingatlah, kamu tidaklah sendirian."


Antares hanya diam, menerima perlakuan kekanak-kanakan tersebut tanpa berkata-kata.


"Aku akan selalu mengingatnya."


(Bersambung...)

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2