
Sang monster mengayunkan tombaknya, menciptakan kobaran api yang panas namun padat mengelilingi dirinya. Menahan ketiga orang untuk terus maju. Api dengan dua jenis formula yang berbeda menghantam tembok seperti gelombang pasang menabrak karang, menciptakan lidah api yang berkobar tak terkendali. Kemudian si monster mengarahkan tombaknya keudara, membelah pilar cahaya yang jatuh tepat diatasnya.
Lemah, mereka sangat lemah. // Pikir sang monster sembari memperhatikan tingkah antik para manusia tersebut. // Mungkinkah aku menaruh kekuatan terlalu berlebihan hingga membunuh pria itu dengan satu tendangan? Dia dan anak kecil berambut emas itu memberikan getaran yang serupa. Aneh.
Indera persepsinya tiba-tiba terpicu, sang monster langsung melompat kebelakang tanpa berfikir dua kali. Sesaat kemudian, akar pohon setebal piton merobek tanah dan meliuk berusaha menangkapnya.
Trik murahan, komentarnya dengan dengusan kecil. Si monster mengangkat lengannya, tombak merah tersebut melayang diatas telapak tangannya dengan cahaya terang. Kemudian tombak tersebut terbang ke titik hitam aneh yang bersarang ditubuh setiap mahkluk hidup. Si monster tidak tahu efek sebenarnya dari kemampuan tersebut, namun itu cocok mendeteksi musuh dibalik penghalang.
Si monster bisa melihat jelas bagaimana pria itu menghindari tombak api yang tiba-tiba datang kearahnya.
Dinding api tersebut akhirnya hancur setelah si monster menunggu cukup lama. Dia cukup terkejut saat melihat orang yang masuk pertama kali bukanlah manusia, melainkan wanita mudah yang berwarna biru transparan. Cukup aneh melihat bagaimana pakaian dari wanita tersebut akan selalu melayang seperti berada dalam air.
"••~••~••••••~••~•~" (♪)
Wanita tersebut bernyanyi dengan sudara yang sangat merdu. Bahkan meski si monster tidak memahami arti dibalik kata-katanya, dia mau tidak mau merasa terpikat kepada wanita tersebut. Intuisinya mengatakan kalau wanita tersebut bukanlah mahkluk kehidupan normal, namun siapa yang peduli dengan itu? //Aku juga sudah mulai bosan dengan para pelacur itu.
Kumpulan air dalam bentuk bulan sabit terbentuk didepannya, kemudian terbang kearah si monster. Meskipun demikian, gumpalan air tersebut menguap terlebih dahulu sebelum mengenai kulitnya yang belum pulih sepenuhnya.
Membosankan, haruskah aku membiarkan para bawahan menghajar mereka? Selain pemuda berambut putih yang telah mati, hanya anak berambut emas itu saja yang terlihat kuat. Mereka setidaknya berada dilevel Goblin Battle Master. Tapi tidak lebih dari itu. // Si monster mengayunkan tangannya, melemparkan bola api kearah wanita muda tersebut. Kobaran api memadat, berubah menjadi rantai panjang berwarna merah cerah.
Sementara wanita tersebut berjuang melepaskan dari rantai api yang melilitnya, seorang pemuda berambut merah berantakan yang nampak marah menerjang ke depan dengan raungan keras. Pemuda tersebut melompat dengan kapak besar diatas kepalanya. Si monster menciptakan tombak api yang lain dengan segera, kemudian dia menahan kapak pria tersebut dengan satu tangan, nampak tidak terkesan sedikitpun.
"Raaaaahhh!!!"
Sekali lagi persepsi bahayanya terpicu namun ketika dia hendak berpindah posisi, ayunan kapak besar telah menghalangi jalan si monster Orge. Menghalau ayunan kapak tersebut merupakan hal yang sepele, tetapi satu detik tersebut sudah lebih dari cukup bagi akar-akar itu untuk melilit kakinya. Awalnya hanya 2 lilitan akar, kemudian bertambah dan terus bertambah hingga itu menyerupai pohon besar yang terbuat dari gabungan akar. Bahkan, si monster ragu apakah itu masih bisa disebut sebagai akar.
Arthur telah sampai di sisi kiri si monster, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Kobaran api dapat terlihat jelas pada badan pedang tersebut. Sementara itu, Antares berada di sisi kanan si monster mengangkat tangan kirinya. Percival dan yang lainnya berdiri di belakang sang Barbarian. Pria yang selalu terlihat marah itu sendiri justru mundur.
Persepsi bahayanya terpicu sekali lagi. Kali ini jauh lebih intens dari sebelumnya.
__ADS_1
"Terbakarlah, [Prometheus]!" Pemuda pirang berarmor coklat tersebut berteriak hingga ke ujung paru-parunya. Dia mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah tanpa menahan dirinya. Melepaskan gelombang energi api yang menyerupai laser.
Anak kecil berambut emas di sisi lain melepaskan gelombang besar api disertai badai petir. Dibandingkan dengan serangan Arthur, gelombang api milik Antares nampak jauh lebih mengerikan.
Tidak hanya sampai disana, pilar cahaya jatuh dari langit dan pilar petir menyembur dari tanah. Semuanya pada saat yang bersamaan.
Si monster berusaha menggerakkan anggota badannya, namun perlu 0,01-1 detik untuk menghancurkan lilitan pohon tersebut. Ketika si monster terbebas, dia sudah bermandikan serangan dari berbagai macam arah yang membentuk tornado api dan halilintar.
"Kriekeve!"
"Cekikekikece!"
Si monster bisa mendengar teriakan kekaguman dari bawahannya. Sementara yang lain bersemangat untuk melihat tuannya keluar dari tornado api tersebut tanpa luka.
Pada faktanya, itulah yang terjadi.
♦♦♦
Teriakan pecah dari para goblin. Semuanya bersorak untuk Orge merah tersebut.
Arthur menelan ludahnya sendiri dengan keras. Badannya yang gemetar segera menjadi tenang dengan cahaya hijau yang menyelimutinya.
Apa-apaan monster itu! Bagaimana dia tidak terluka sedikitpun? Bukankah Saga berhasil melukainya beberapa saat lalu? // Arthur menjerit dalam hatinya.
Sosok yang berdiri didepannya itu seperti menjadi lebih besar dan besar seiring berjalannya waktu. Kekuatan, ketangkasan, skill, dan stamina jauh diluar batas manusia biasa. Dia bahkan tidak berkeringat sedikitpun!
"Kalau begitu, sekarang giliranku yang menyerang." si monster menekuk lututnya.
Tiba-tiba saja waktu seakan melambat, sangat lambat hingga membuat Arthur ketakutan.
__ADS_1
Orge tersebut menghilang dari pandangan Arthur. Ketika si pemuda hendak menoleh ke sekitarnya, Mana tombak telah menusuk badan Antares. Anak itu memuntahkan cairan merah gelap dengan mata melotot. Kemudian anak itu tersungkur ke tanah setelah Orge tersebut mencabut tombaknya.
"Antares!"
"Aaaaaaargh!!" Sigur meraung keras sambil berlari kearah Orge tersebut. Kecepatan itu mampu mengungguli kuda perang terbaik dengan mudah, namun dihadapan sang monster itu bukanlah apa-apa. (Bam!) Dan Sigur terpental ke tombok gua. Menyebabkan gempa kecil sekali lagi.
"Kita harus lari dari sini!" Hiiro berkata dengan panik.
"Pergilah, aku akan menahannya disini dengan Arthur. Benarkan kapten?" Percival menatap Arthur dengan ekspresi paling serius yang pernah ia tampilkan.
Arthur melihat tangannya sendiri yang terus gemetar sampai saat ini. Kemudian dia mengepalkannya, "Arthia pergilah bersama mereka."
"Tidak!" Jawab sang gadis dengan tegas. Arthur menatap Arthia, begitu pula sebaliknya, membuat suasana tersebut semakin tegang.
"Oh, tidak perlu bertengkar. Kalian bisa membunuh siapapun yang melarikan diri." Perintah sang monster kepada seluruh goblin yang hadir pada saat tersebut.
Kemudian semua Goblin mulai bergerak mempersempit ruang gerak para petualang.
"Noril, aku serahkan sisanya kepadamu." Arthur berkata dengan nada lirih. Tidak ada jawaban dari pihak lain, namun Arthur tahu kalau dia akan melakukan segala sesuatu yang dia bisa untuk menyelamatkan rekannya.
Noril bergerak ke sisi lain para Goblin tepat ke depan satu-satunya lorong ke dunia luar. Aura gelap segera menyebar dari tubuhnya. Gelap dan tebal tapi elastis menyerupai tentakel makhluk tak dikenal.
"Pergilah!"
Arthur berteriak sembari berlari kearah Orge merah tersebut ditemani Percival. Noril sendiri melesat ke kerumunan Goblin tanpa ekspresi, untuk sesaat penampilannya itu jauh lebih menakutkan daripada monster itu sendiri.
(Bersambung...)
♦♦♦
__ADS_1