
"Mengapa tempat itu dipenuhi budak kriminal, apakah itu tempat pengasingan atau semacamnya?"
"Benar, tempat tersebut merupakan tempat pengasingan, untuk para penjahat yang membahayakan kedaulatan negara. Namun, fidak, lupakan itu." Saga sedikit keceplosan dan belibet. "Kami akhirnya tinggal di desa itu selama seminggu kalau tidak salah. Bangun di pagi hari, lalu bertarung kawanan Orc yang datang seperti tiada habisnya sampai malam tiba. Itu adalah hari-hari yang sangat melelahkan. Ah, saat itu juga kami mendapatkan 2 anggota baru, Hiiro dan Thalia. Kemudian Sigur ikut bergabung di hari terakhir." Salah satu nama yang disebutkan itu membuat wajah beberapa orang berubah pahit.
"Jadi dimana kalian bertemu naganya?" tanya Antares.
"Kami bertemu saat perjalanan pulang. Tiba-tiba saja, suara udara yang terbelah terdengar dari atas langit. Kamidia seekor naga setinggi 3 meter terjun tepat diatas kami. Semua orang terpaku pada saat itu, ketakutan sekaligus takjub dengan keberadaan sang naga. Jika naga itu hanya menginginkan kuda, maka kami akan membiarkannya. Toh, kami juga masih punya perjalanan panjang. Namun dia mungkin ingin harta yang dibawa Hiiro, jadi kami harus bertarung melawannya. Jujur saja, aku merasa seperti orang bodoh saat itu." Saga bernafas dengan berat.
"Kamu terpukul mundur lalu mengaktifkan [Night Watcher]?" Antares tidak menahan pertanyaannya.
"Benar~ dan kami bisa mengalahkan naga tersebut setelah pertempuran panjang. Ah, aku memberikan jantung dan matanya kepada Ren, kalau kamu bertanya tentang mayatnya. Sisanya kamu serahkan kepada guild untuk membuat armor kita." Kata Saga sekaligus menutup cerita tersebut.
Antares segera melihat Tuannya, dan bertanya pertanyaan yang menggemparkan semua orang. "Jadi kamu memiliki naga merah sekarang?"
"Tidak, Anta, yang Saga serahkan hanya jantung dan matanya, bukan naga hidup." Percival merasa kesulitan dalam menjelaskan. Sementara semua orang memberikan anggukan kepalanya.
"Yang benar, ah."
Ren tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum kepada anak itu. Itu bukan senyuman tulus ataupun senyuman kejam yang biasanya, namun sebuah senyuman yang sulit dijelaskan. Melihat senyuman itu, Antares juga menjadi bingung sendiri, jadi dia tidak menanyakannya lebih lanjut.
"Jadi kalian diangkat menjadi petualang kelas platinum? Argh, berapa banyak uang yang dihabiskan kepala desa minggu ini?" keluh Antares dengan nada tak berdaya.
"Mengapa justru kamu yang mengkhawatirkan masalah semacam ini?"
"Tidak, tidak ada apa-apa." Katanya dengan nada monoton tanpa emosi yang justru nampak komikal.
Kemudian mereka meneruskan obrolan malam itu sampai larut malam. Itu waktu yang sangat lama, walau bulan tetap tidak berpindah dari posisinya. Dimana yang bergerak hanyalah butiran bintang yang membentuk rangkaian motif seperti kanvas terus bergerak dengan lambat. Hembusan angin menerpa rumput dan bunga malam. Juga, orang-orang di rumah Ren.
Arthur dan Arthia ingin segera pergi dari sana dan kembali ke gua, namun Ren tidak mengijinkannya. Jadi mereka menghabiskan sedikit waktu untuk menenangkan diri dan membuat persiapan matang. Toh, Ren tidak memberikan item apapun pada mereka. Selain itu, Waktu di dunia ini berbeda dengan dunia utama.
Dimana satu jam di dunia utama, setara dengan setahun di dunia ini.
__ADS_1
"Bukankah lebih baik jika kamu mengatakannya secara langsung?" Antares mengamati dunia luar dari beranda lantai dua, bertumpu pada pagar kayu.
Ditemani oleh seorang entitas tingkat tinggi berwujud manusia yang diam sejak keduanya sampai disini. "Apa kamu suka hidup di desa Astera?"
"Aku tidak membencinya." Antares memilih menggunakan jawaban netral. "Aku tahu apa yang sedang menimpa desa, dan semuanya sudah sangat terlambat pada titik ini. Orc memang cocok dengan Dewa Perang. Bahkan Orge yang bodoh juga mendapatkan nilai plus dalam kecerdasannya."
"Pengaruhku di dunia utama hanya sebatas melalui Night Watcher. Akan tetapi, nampaknya nilai kepalaku jauh melebihi ekspektasiku sendiri. Takdir telah dipenuhi, tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan, Antares."
"Sejak hari itu, aku hanyalah milikmu masta'. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perasanku."
"Kau tahu, semakin kamu bersikap penurut, semakin besar aku ingin membully mu." kata Ren dengan ekspresi tak berdaya.
"Haruskah aku memakai telinga anjing dan ekornya? Aku yakin jiwa sadismu akan langsung keluar." Sementara Antares terkekeh kecil.
"Bahkan, perasaan tak berdaya bisa membuat orang ketagihan. Setiap sensasi yang kita rasakan, seolah membuat kita lupa akan dunia disekitar kita. Tapi kadang, kamu bisa menangis, dan tidak akan ada yang menyalahkan mu."
"Aku tahu, aku tahu... Selama ada kamu dan saga, itu sudah cukup bagiku." Antares menundukkan wajahnya, terpaku ke bawah dengan wajah diselimuti kegelapan.
"Ini sangat menyesakkan..." Antares berkata dengan suara pecah.
Penguasa Mimpi
Penjaga kerahasian
dan, Pembawa kemalangan
♦♦♦
…………
"Yosh, kami pergi."
__ADS_1
"Ya, ya, ya."
Semua orang telah berkumpul di depan rumah Ren dengan wajah cerah dan bugar. Ren tidak berkata-kata lagi saat dia menjentikan jari, kemudian, pemandangan disekitar mereka berubah seperti kain yang diangkat sangat cepat. Sesaat kemudian, mereka sudah kembali kedalam gua goblin.
Semuanya segera menengok ke kiri dan kanan, hanya untuk menemukan diri mereka berada di tempat sebelumnya. Ruang siksaan yang dipenuhi oleh darah dan potongan tubuh. Penjara bawah tanah. Atau dapur.
Para Goblin terkejut saat melihat bahan makanan mereka bergerak-gerak, kemudian laser cahaya melubangi kepalanya sebelum goblin itu sempat berteriak. Suara benda yang terjatuh seolah membangunkan mereka dari lamunan.
Apa yang terjadi? mengapa aku disini? mengapa dia jatuh dan tak bangun lagi?
Para goblin di dapur segera berteriak kacau. Beberapa berdiri dan mengambil senjatanya, berniat menusuk bahan makanan tersebut. Sementara sisanya hanya meraung-raung tidak jelas.
"Night Watcher; On" suara yang halus terdengar bergema dalam gua.
Kegelapan yang melampaui kegelapan dalam gua segera menyelimuti seenggok daging dan kepala seseorang. Kegelapan tersebut sangat pekat hingga segala bentuk kemampuan untuk melihat dalam gelap tidak berefek sama sekali. Hingga para Goblin merasa tenggelam dalam arus energi gelap tersebut. Tiba-tiba saja, arah dari arus kegelapan tersebut berubah 180° menyerang semua goblin dalam sunyi dan senyap.
"Kriesokieve? Korickriekeiev?!"
"Argh!"
Ketika gelombang gelap itu berakhir, tidak ada lagi suara yang tersisa. Tidak ada lagi Goblin yang hidup dalam ruangan menyerupai dapur. tersebut. Menyisakan sepasang mahkluk dalam pelindung hitam dengan detail merah cerah berbintik-bintik, dan emas bercahaya untuk yang lain.
"Akhirnya, aku bisa bergerak bebas." Katanya dengan suara pria yang tinggi.
"Nah, aku tidak terlalu suka model Armor yang terlalu berat." Kata sosok yang lebih kecil. Berkata demikian, penampilannya mulai berubah menyerupai gabungan pelindung pertengahan dan sentuhan Sci-Fi modern.
"Kau lebih terlihat seperti Assassin, daripada Light-armor Warrior."
"Biarlah, ayo pergi."
(Bersambung...)
__ADS_1
♦♦♦