
"Siapa sebenarnya dua orang itu." tanya salah satu pelayan yang mengenakan seragam pelayanan tradisional berwarna hitam dan putih.
"Kakek itu nampak sangat perkasa, andai saja ia beberapa tahun lebih muda." sahut pelayan lain sembari membayangkan wajah Steve.
"Sementara itu anak kecil itu sudah bisa menggunakan sihir dalam usia belia." Si pelayan berniat melaporkan kejadian ini kepada majikannya. Para bangsawan itu akan tertarik dengan talent langka sepertinya. Dan mungkin si pelayan akan mendapatkan beberapa koin emas, sebagai imbalan.
Bukan hanya dia, tapi semua orang juga memikirkan hal serupa.
"Hei, apa kamu kenal dengan dua orang tadi? Dari pakaiannya, aku yakin dia berasal dari keluarga kelas menengah, kan?" tanya salah satu pelayan kepada pelayan yang bekerja di toko. Pertanyaan itu menarik perhatian semua orang, yang langsung saja menajamkan indera pendengarannya untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.
"Ya, mereka adalah ..."
Dan, si pegawai itupun segera menceritakan pengalamannya ketika bertemu monster serigala bulan. Yang membuat para pendengar berdecak kagum dan menahan nafas.
Mereka tidak tahu kalau ada sosok tak mata yang ikut mendengarkan cerita tersebut.
Dalam ruang kerja Bernard, 3 cangkir teh telah disiapkan diatas meja kayu coklat tua. Sekilas, Antares melihat ada banyak rak yang dipenuhi buku menghiasi ruang tersebut. Tidak lupa sebuah vas berisi tanaman hijau yang menyejukkan mata diletakan di sudut ruangan.
"Saya sangat senang karena kunjungan anda, kakek Steve. Kalau tidak, mungkin saya harus membayar upeti yang tidak perlu kepada para preman tersebut. Ah, itu membuatku bertanya-tanya, mengapa mereka menggunakan nama anda?"
"Jujur saja aku juga tidak tahu. Kami baru saja tiba beberapa hari yang lalu bersama rombongan kalian. Yang kita tahu, ini berhubungan dengan organisasi gelap Serigala Hitam. Lebih dari itu, aku tidak mengetahui apapun." Kata kakek tersebut sembari memicingkan matanya kearah anak yang duduk disebelahnya.
Bernard melihat gerakan lembut tersebut dan segera tersadar. Dia mengangguk beberapa kali sembari mengangkat cangkirnya.
"Kurasa memang itu masalahnya. Mungkin mereka sadar kalau anda merupakan seorang petarung yang hebat, kakek. Oleh sebab itu mereka menggunakan cara semacam ini."
"Ah, aku tidak paham." (Steve)
"Masalahnya adalah, apakah para preman itu juga mendatangi kios yang lain ataukah milikku saja? Apabila mereka mendatangi kios yang lain, mau tidak mau anda harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Tentu saya bisa membantu anda mengurus perkara ini, namun begitu anda bebas, mungkin nak Antares tidak akan pernah ditemukan lagi." Pria paruh baya tersebut menatap anak manis yang tetap diam semenjak tadi. Sikapnya cukup tidak biasa untuk anak seusianya, namun Bernard tidak berniat mencari lebih jauh.
__ADS_1
"Maksudnya, mereka ingin menculikku tapi takut dengan mu, kakek."
"Ah, lalu kita harus bagaimana?" Tidak ada perubahan yang berarti pada mimik wajah Steve, sehingga tidak diketahui apakah dia berpura-pura tidak mengerti atau memang bebal. Jujur, pemandangan tersebut membuat Bernard sedikit tersenyum.
"Biarkan mereka.
mencobanya." Kata Antares tanpa banyak ekspresi.
"Hm, biarkan mereka menculikmu kah? Baiklah, aku akan mempercayakannya orang-orang tak tahu malu itu kepadamu." Steve mengangguk pelan, yang mana membuat Bernard sedikit tebatuk.
"Apakah itu tidak apa-apa? Gerombolan Serigala Hitam memiliki seorang petarung yang setidaknya setara dengan petualang kelas Adamantium dipihaknya. Mungkin nak Antares tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melarikan diri!"
"Adamantium kah, aku tidak yakin seberapa kuat mereka. Namun, aku yakin visa mempercayai kemampuan anak ini. Ah, ngomong-ngomong soal petualangan, apakah kamu tahu tentang Red Vortexs?"
"Maksudmu kelompok petualangan yang baru saja diangkat menjadi kelas adamantium itu? Ya aku rasa mereka masih menjalani misi untuk saat ini." Bernard sedikit memicingkan matanya.
"Tidak perlu seribet itu, sampaikan saja kepada mereka, Antares Oliviare dikejar serigala, itu sudah cukup." kata Antares dengan wajah lelah.
Yeah, aku bisa membayangkannya dengan jelas. // pikir Bernard dalam hati.
"Baiklah, saya akan menyampaikannya kepada mereka. Apakah kalian, memiliki hubungan tertentu dengan mereka?"
"Iya, tapi tidak juga. Kami hanya pernah bertemu sekali. Mereka terlihat seperti pemuda yang dipenuhi energi saat itu. Tidak takut untuk menantang bahaya, tapi juga tidak sembrono. Perlu aku akui, mereka party yang hebat." Steve terkekeh sembari menceritakan pengalamannya bersama para anak muda itu.
Bernard mendengarkan cerita kakek tersebut dengan seksama, sebagaimana anak-anak yang di ceritakan dongeng. Steve tidak menceritakan bagian dimana semua orang dipanggil di dunia mimpi. Bagaimanapun juga Steve tidak memiliki hubungan khusus dengan Ren, jadi dia merasa takut untuk menceritakannya. Bagi manusia biasa, Ren merupakan eksistensi yang keberadaannya terlalu menakutkan untuk dibayangkan. Bisa-bisa Steve tidur di kasurnya malam ini dan tidak akan pernah terbangun lagi.
Itu juga yang sering terpikir oleh Antares, akan tetapi tuannya tiba-tiba datang dan mengikatnya. Itu sudah hampir seperti rutinitas yang keduanya jalani.
Hm, akhir-akhir ini dia jarang mengunjungiku. Apa ada masalah yang terjadi diluar sana? memang dia sangatlah kuat, tapi, bukanlah entitas terkuat. Ren, kuharap kamu baik-baik saja... // Antares berdoa kepada satu-satunya tuhan yang ia percayai.
__ADS_1
"Ah benar juga, Antares berniat untuk membuka toko kecil-kecilan di distrik barat. Apakah kami tetap harus mendaftar di asosiasi dagang?" tanya Steve yang tiba-tiba teringat sesuatu.
"Memang benar, tidak peduli dimanapun, kalian harus mendaftar di asosiasi. Proses pendaftarannya tidak rumit kok, nanti saya bisa mempersingkat waktunya. Kalau boleh saya tahu, bisnis apa yang hendak kamu buka, nak Antares?"
Hm, sebenarnya ada terlalu banyak bisnis yang ingin aku buka. Namun untuk sementara, mungkin aku harus membuka semacam bar? tidak, yang itu saja.
"Aku hanya ingin membuka rumah makan saja, untuk langkah kecil."
"Oh, saya tidak sabar untuk mencicipi makanan anda dimasa depan. Apakah kamu sudah mengetahui bangunan dan lokasi untuk tokonya?" katanya dengan senyuman lebar.
"Ya, aku berfikir untuk membukanya di jalur W
Endigo tidak jauh dari pasar tradisional."
"Hm, mengapa justru tempat tersebut? bukankan lebih baik jika kamu membukanya diarea sekitar Merak Hijau? Disana ada banyak pengunjung dari luar kota setiap harinya."
"Tidak, disana sudah ada terlalu banyak penginapan yang menyajikan makanan atau bar, jadi persaingan disana akan terlalu ketat. Sementara itu, diarea Endigo tidak terlalu banyak persaingan, lagipula aku berniat menjual makanan cepat saji yang murah untuk penduduk. Jadi, disana merupakan pilihan terbaik."
"Begitu rupanya, baiklah saya bisa mengurusnya. Saya rasa semua prosedur tersebut akan selesai dalam 2-3 hari, atau bahkan lebih cepat. Tunggu kabar baik dari saya." Bernard tersenyum lebar sekali lagi.
Antares dan Steve menghabiskan waktu sedikit lebih lama kemudian sampai keduanya mengucapkan selamat tinggal. Antares mengambil jalan kanan yang mana sedikit memutar. Berkeliling di distrik timur mencari wadah, baru setelahnya keduanya kembali ke penginapan Merak Hijau.
Sementara itu, salah seorang pelayan keluar dari toko gustav dengan sepucuk surat menuju ke guild di area tengah.
Disisi lain, Antares bisa merasakan keberadaan beberapa pengintai disekitarnya dengan sangat jelas. Itu membuatnya sedikit memicingkan mata, tapi ia masih membiarkannya untuk saat ini.
(bersambung...)
♦♦♦
__ADS_1