
Hiiro melepaskan anak panahnya yang menyerupai meriam energi. Anak panah tersebut menciptakan ledakan besar berelemen angin, sayangnya itu ditahan oleh seorang Goblin dengan perisai. Hiiro tidak sempat mendecakkan lidahnya ketika Noril datang dan memotong kepala goblin tersebut.
[Astral Form] sangat berguna ketika hendak membunuh lawan. Ketika menyerang, pisau yang dipakai Noril akan berlalu melewati senjata, pelindung, dan kulit lawan, langsung memotong otot, tulang, dan nadi dalam tubuhnya. Pada faktanya itu sangat efektif hingga tidak terhitung jumlah lawan yang tumbang dalam ampunan Noril. Itu juga alasan mengapa dia memiliki kode nama "Ghost".
Dalam sekejap mata, 32 Goblin telah mati di tangannya, membentuk jalan besar ditengah-tengah kerumunan.
"Tunggu, lepaskan aku Samantha!"
Samantha menarik Arthia keluar dengan paksa tepat dibelakang Noril. Karena perbedaan stat kekuatan antara keduanya, Arthia dapat melepaskan dirinya dengan mudah. Dia segera mengaktifkan [Mana Burst] dan pergi menyusul Arthur.
"Arthia!" Samantha berteriak histeris saat itu terjadi. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Kau pikir kita bisa meninggalkan ketiga orang itu disini? Tidak, kau pikir akan terjadi keajaiban yabg membuat kita semua bisa pergi dari sini? Memang menyenangkan bersama kalian, tapi aku akan pergi dulu dari sini." Hiiro segera melesat setelah monolog panjang tersebut.
"Hiiro, kau pengkhianatan!" Samantha hanya bisa berteriak saat ini. Setelah sekian lama bersama, dia tidak habis pikir bagaimana pria itu dapat meninggalkan rekan-rekannya begitu saja.
"Jadi apa yang kalian lakukan selanjutnya?" Suara orang tua yang tenang bergema dari sebelahnya, membuat Samantha terkejut.
"Kamu tidak ikut pergi kakek?" terlepas dari mulutnya. Dia terkejut ketika melihat orang tua itu masih berada disini.
"Nah, aku terlalu lemah untuk pergi seorang diri, selain itu, ada seseorang yang harus kubunuh." Samantha merasa merinding ketika melihat senyuman kakek tersebut.
"Kamu bisa pergi terlebih dulu Samantha, toh tidak akan ada yang menangis jika aku mati hari ini." Thalia segera berbalik badan dan pergi.
"Apa boleh buat kalau begitu. Sigur, apa kau sudah mati?" Suara Noril terdengar sangat pelan namun itu sampai di telinga semua orang.
__ADS_1
"Raaar!!" Auman besar meraung dari salah satu sisi gua, disertai ledakan besar dan teriakan para goblin. Percikan halilintar menyambar kemana-mana seolah tengah mengamuk.
"Masih sehat rupanya. Pergilah Samantha, kamu masih harus menemukan seseorang kan?" Noril menatapnya dengan sekilas kemudian dia pergi.
Samantha terdiam. Dia mengingat wajah seseorang yang samar di pikirannya. Sudah lama waktu berlalu, entah bagaimana dia masih ingat wajah itu. Rambut hitam panjang, wajah bulat, dan mata coklat yang terang. Kulitnya sedikit kecoklatan karena sering berada di bawah terik matahari. Dia akan tersenyum manis ke pada Samantha. Kemudian gambaran itu menghilang...
"Maaf, bisakah kamu menunggu sedikit lebih lama, kakak?" Samantha berbisik kepada udara. Lalu dia pergi bersama yang lain.
Pada akhirnya, semua orang pergi untuk menghadapi monster tersebut. Meski mereka tahu, kalau kematian mereka sudah dekat.
"Ahahahaha! bukankah ini menarik! Performa kecil kalian benar-benar menghiburku!" Si Orge yang tengah menghadapi rentetan serangan antara Arthur, Percival, Arthia dan Noril tertawa keras. Dia memperhatikan serangan orang-orang tersebut, namun masih bisa mengawasi apa yang terjadi di sekitarnya. Dia bahkan tidak ragu untuk menengok ke sampingnya, membiarkan lehernya terbuka lebar. Seolah mengundang seseorang untuk menyerangnya. "Kalian, jangan biarkan pemanah itu pergi."
"Ceikeikic!"
Setengah dari Goblin yang ada di ruangan tersebut pergi, untuk mengejar Hiiro yang pergi.
Si Orge melesat kearah Percival dengan kecepatan yang masih terlihat mata. Percival hanya bisa tersenyum pahit, sementara dia mempersiapkan tombaknya. (bang!) kedua senjata beradu satu sama lain. Percival mengeretak kuat hingga urat kepalanya terlihat, dan kakinya harus terdorong beberapa langkah ke belakang. Beruntungnya Arthur datang dan membantunya, mengalihkan perhatian si Orge kepadanya sementara Percival mengambil nafas. Akan tetapi, pemuda tersebut hanya berhasil menahan serangan si orge sebanyak 3 kali.
Arthia menciptakan 3 lembing kristal, kemudian melemparkannya kepada si Orge. Monster tersebut menghindar dengan mudah seperti sedang memamerkan ketangkasannya. Sementara Thalia terus menyembuhkan mereka semua dan memperkuatnya.
Nori dan Samanthal datang setelahnya menyerang dengan Talent yang dibumbui Art. Rentetan serangan Samantha berhasil memberikan beberapa goresan kepadanya, yang menyerap energi kehidupan si Orge cukup banyak tanpa ia sadari. Sementara itu fokus sepenuhnya untuk menghindari serangan tak tertahankan dari Noril. Jujur saja itu sedikit membuatnya kesal. Tidak peduli apakah itu serangan fisik atau sihir, semua itu hanya akan menembus badan Noril tanpa meninggalkan bekas apapun.
Kombinasi tersebut terus berulang hingga Sigur selesai membantai semua goblin yang ada di ruangan itu, dan kini berjalan kearah si Orge dengan badan setengah hancur.
"[Breath of Verdant World]" Thalia segera menyembuhkan Sigur dan yang lain sekaligus memperkuat mereka.
__ADS_1
Setelah semua lukanya sembuh, Sigur segera menerjang kearah si Orge dengan segenap kekuatannya.
"Cih, Jujur saja, aku mulai iri dengan [Rage Enhancement]-nya!"
(Clang! Clang! Clang! Bang!)
Gerakannya sederhana dan mudah ditebak, namun jika itu sampai mendarat, maka akan menghasilkan luka yang cukup besar. Sigur akan mengangkat kapaknya tinggi-tinggi keudara, kemudian mengayunkan turun ke kepala Orge. si monster akan menghindarinya, lalu si kapak akan turun ke tanah membuat lubang besar disana. Lalu si Orge akan menusuk pundak atau lengannya dengan tombak apinya.
Kemudian Percival akan menyerang, dan Si Orge akan melompat keudara. Steve menembaknya dengan anak panahnya yang diperkuat [Mana Burst] dan seni bela diri. Namun si Orge akan menghalaunya dengan kobaran api.
Sedikit demi sedikit, kekuatan Sigur menjadi lebih kuat dan lebih cepat. Badannya juga akan menjadi lebih besar seperti dipenuhi oleh kumpulan energi. Arthia segera merapalkan mantra penguatan kepada Sigur, sementara Thalia menyembuhkan luka yang dia terima akibat serangan si Orge.
Noril dan Samantha akan menyerang sang Orge setelah ia mendarat dengan Seni bela diri yang bertumpuk-tumpuk. Tentu saja sang Orge akan menghindari keduanya, dan melakukan serangan balik kalau bisa. Kemudian diikuti oleh Arthur dan Sigur.
60 menit kemudian
Sigur masih menyerang si Orge dengan membabi buta. Gerakannya tidak melambat sedikitpun bahkan dengan badan yang dipenuhi luka. Itu bukan hanya disebabkan oleh serangan si Orge namun juga tekanan yang oleh talentnya sendiri. Sementara itu, Thalia dan Arthia sudah tidak sanggup menyembuhkan si Orge. Mereka terduduk dengan wajah pucat dan nafas berat.
Itu juga sama untuk Crimson Vortex yang lainnya. Semuanya sudah terkapar di tanah karena kehabisan stamina dan mana. Perbedaan kekuatan antara mereka terlalu jauh. Tidak ada yang bisa mereka lakukan bahkan dengan semua Skill dan Art yang mereka miliki. Tidak ada sama sekali. Noril dan Samantha mungkin memiliki kesempatan untuk menang, namun mereka tidak memiliki cukup mana untuk membuat keajaiban itu terjadi. Sigur juga memiliki kesempatan yang serupa, dengan support yang baik. Pada intinya, mereka semua terlalu lemah bahkan sebagai team! itu saja! Setelah si Orge memotong kedua kaki Sigur, pertempuran itu dimenangkan oleh sang monster secara mutlak. Selain luka yang diderita akibat serangan Saga, dia hanya mengalami goresan kecil di sana sini yang langsung sembuh beberapa saat kemudian.
"Oh, kalian sudah kelelahan? Sayang sekali, padahal aku baru saja berkeringat." Si Orge mengangkat tangannya, kemudian rantai api keluar dari tanah disekitar para manusia tersebut. "Sebaiknya aku memotong tangan dan kaki kalian. Kukuku, aku akan menikmati teriakan kesakitan kalian. Selain itu mengapa mereka belum kembali juga?"
Para manusia itu hanya bisa meringis ketika rantai tersebut mulai mengikat mereka. Sementara sang monster kembali ke tahtanya yang setengah hancur entah sejak kapan. Melewati mayat para Goblin dan Goblina yang terpotong dan terbakar. Dia duduk disana layaknya raja tak terkalahkan.
(Bersambung...)
__ADS_1
♦♦♦