
"Apa yang kau pikirkan!?" Percival menarik kerah baju Antares, melototinya dengan tajam. "Kamu ingin mati bangsat!?"
Awalnya ekspresi Antares masih santai, namun tatapannya segera berubah menjadi dingin setelah dia mendengar kalimat keduanya. Antares tahu siapa yang dia hadapi, yaitu makna dibalik kata Percival. Namun justru itulah, dia merasa amarah mulai mendidih dalam hatinya.
"Apa yang kau ketahui, Percival?" Katanya dengan ketus.
"Bangsat, apa kau sadar siapa anak itu? Bukan hanya kamu bersikap kurang ajar di depannya, kamu bahkan, kamu bahkan...! Argh!" Percival tidak sanggup mengungkapkan kata tersebut pada anak itu.
"Kau tidak tahu apapun tentang Ren, jadi diamlah! Kau pikir aku orang bodoh! Kau pikir aku tidak memahami posisiku?! Aku mengerti semuanya! Jadi diamlah!" balas Antares.
Dia tahu posisinya. Entah itu pelayan, anjing, alat, atau sekedar mainan, dia memahami semua itu. Tidak mungkin bagi Antares untuk melawan kehendak Ren, namun party yang memang kendali sendiri lebih memilih membiarkannya bebas. Ren bukanlah dewa, dia hanya seseorang yang memiliki kekuatan setara dewa, atau mungkin jauh lebih kuat daripada itu. Namun lebih dari itu, dia hanyalah anak kecil biasa. Apa yang orang luar ketahui tentang dia? Apa hak orang luar untuk mengatur dia dan tuannya? menggelikan.
"Oi, berhentilah, berhentilah... kita masih berada di rumahnya." Steve berbicara dengan wajah suram.
Mendengar suara si kakek, Percival akhirnya bisa meredam emosinya. Hal yang sama juga terjadi pada Antares.
"Lebih dari itu, dia memiliki julukan lain, dewa kesialan. Alasan dia memanggil kalian kesini, tidak, lupakan saja..." Antares menelan kembali kalimat yang ingin diutarakannya.
Ruangan tersebut tiba-tiba berubah menjadi suram dan hening, hingga Ren datang memecahkannya. Dia memberikan beberapa cemilan diatas meja dan juga beberapa jenis minuman. Tidak ketahui apakah dia bersikap acuh dengan keanehan yang menyebar diudara. Ataukah dia memang tidak menyadarinya sama sekali. Dia langsung membuka keripik lain, dan memakannya.
"Makanlah, ga usah malu. Anggap aja rumah sendiri." katanya dengan senyuman layaknya malaikat.
"Terimakasih, untuk makanannya." kata Percival dengan gugup.
Antares mengambil minuman kesukaannya, soda dengan sedikit rasa jeruk, dan meminumnya dengan sangat perlahan.
"Sudah mulai?" Ren melihat ke layar led besar yang menempel di dinding.
"Sudah, kamu mau lihat server lain?" Antares menscroll daftar dengan nama aneh yang tidak sedikit jumlahnya. Dia agak terkejut dengan semua nama itu. Seingatnya dia memang bisa memasuki server lain, namun Antares tidak ingat detail tentang mekanika perserver-an ini. Maksudnya, apakah memang terbuka secara umum atau harus memasukan RNG atau kode sejenisnya.
__ADS_1
"Terserah." Kata Ren sembari mengunyah keripik di mulut.
Dia segera mengambil konsol hitam di atas meja, lalu mulai menggerakkan avatarnya.
Sekali lagi, suara bising dari layar LED menguasai ruangan tersebut. Sampai waktu dimana Arthur yang telah berganti pakaian biasa datang dan memanggil Percival dan Steve. Dia memperhatikan kedua anak itu sesaat sebelum kembali ke kedalam sembari menggosok kepalanya dengan handuk.
Keduanya tetap diam sampai beberapa saat kemudian. "Kau juga mendengarnya kan, Ren."
Ren masih fokus pada layar didepannya, namun dia tidak menyembunyikan senyuman di wajahnya. "Kamu benar-benar anak yang baik ya, Antares."
Aku ingin mengusap kepalanya dan mencium pipinya! // kata tersebut seperti terpancar dari wajah Ren. Dan mengingat bagaimana sifat Ren, mungkin memang itu yang dia pikirkan.
"Ayo, katakanlah~"
"Woof~woof"
Senyuman Ren semakin lebar dengan perhatian penuh kepada Antares. Sampai titik itu terlihat menakutkan!
♦♦♦
Ketika sampai, semua orang sudah berada di sana. Berdiri dengan formal dan penuh kesopanan. Mengitari meja panjang yang dipenuhi hidangan. Ren langsung menuju ke kursi utama, diikuti Antares di belakangnya.
"Semuanya sudah menunggu rupanya, maaf kami terlambat."
"Tidak apa, kami mengerti anda ingin menikmati waktu bermain anda." Jawab pemuda yang mengenakan pakaian putih polos dan celana panjang dengan senyuman lembut.
"Duduklah kalau begitu, dan kita segera mulai makan malam hari ini." Ren mengangkat tangannya keudara. "Apa kalian terkejut dengan keahlian memasak Saga?"
"Tidak juga, kami sering melihatnya membuat makan kecil ketika mengerjakan quest. Rasanya juga selalu enak, walau menggunakan bahan seadanya. Hehehe." Arthia yang telah berubah menggunakan gaun yang anggun tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Benarkan, aku sendiri terkejut saat mencicipi makanan pertama Saga. Aku yakin dia menggunakan kentang sebagai bahan utama waktu itu--" Kata Ren sedikit memejamkan mata dengan tangan kanan di dagunya.
"Ehem, kupikir kamu salah mengingatnya. Mengapa kita tidak mulai saja makan malamnya?" Mulut Saga terasa berkedut hebat.
"Hmm~ " Ren tersenyum misterius kearah Saga, kemudian dia menggangkat bahunya. "Baiklah, baiklah, mari kita mulai saja."
Ren mengambil Entrée yang telah disiapkan untuknya. Dia tidak begitu pilih-pilih soal makanan asalkan rasanya enak.
Makanan malam tersebut berlangsung dengan hangat dengan Saga yang membuka topik pembicaraan. Tahu kalau Ren akan tetap diam dan menikmati makanannya. Pertanyaannya lebih ditujukan kepada Antares dan Steve, seputar pengalaman mereka selama menjadi penjaga atau keseharian didesa. Itu karena dia sudah mengetahui hampir seluk beluk dari Crimson Vortex, termasuk kode nuklir yang jarang diketahui oleh anggota pria yang lain. Dan tentu saja, dia tidak cukup bodoh untuk bertanya soal gua goblin saat tengah makan malam. Itu akan menyisakan rasa pahit di mulut semuanya, kecuali Ren.
Ren akan menceritakan kisah yang terus melompat ke sana kemari, hingga membuat orang-orang berdarah panas seperti Percival membelah kepalanya dan melihatnya secara langsung. Sementara anggota lain terbagi antara berkedut menahan emosi atau termenung karena berhenti mendengarkan. Seperti Thalia yang memilih melahap makanannya dalam diam, menganggap cerita Antares sebagai BGM.
"Ah, begitukah? aku tidak tahu kalau kehidupan didesa bisa sangat menyenangkan." kata Percival dengan senyum terpaksa yang sangat terlihat jelas.
"Tidak, itu karena kamu mendengarnya dari perspektif anak-anak. kehidupan kami jauh lebih berat daripada itu. Pada dasarnya kami harus bekerja ketika matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam. Kami hanya bisa makan roti keras yang rasanya seperti tanah. Dan selalu khawatir dengan serangan monster." Steve cukup kesulitan memberikan gambaran faktual yang terjadi di lapangan.
"Itu pasti berat untukmu, kakek." Orang yang mencoba menghiburnya justru Antares dengan ekspresi 'mm-mm-mm' yang komikal.
"Bajingan." Gerutu rendah terlepas dari mulut Steve tanpa dia sadari. "Ah, maafkan aku untuk ketidaksopanannya."
"Tidak, aku juga ingin menyampaikan kutukan yang sama dengan mu. Aku benar-benar mengerti." Percival berusaha menghilangkan semua ekspresi dari wajahnya
"Jujur saja, aku tidak tahu harus memilih pihak yang mana." Noril sedikit menggelengkan kepalanya yang diikuti anggukan oleh Samantha.
"Nah, mengapa kita tidak bertanya kepada yang terhormat, dewa mimpi?" Arthia terkekeh.
"Hm, tidak perlu terlalu formal padaku. Panggil saja aku Ren. Soal itu, aku juga tidak tahu. Bukankah masalah jelas, kalian terlalu lemah untuk membuat pilihan sendiri." Ren tersenyum.
Dan untuk suatu alasan, senyuman itu seperti menusuk relung terdalam dari Steve dan party Crimson Vortex.
__ADS_1
(Bersambung...)
♦♦♦