Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 17 Mimpi dan Harapan


__ADS_3

(Bam!)


Suara pintu yang menabrak tembok terdengar nyaring. Sampai orang yang melihatnya bersyukur karena tembok rumah itu tidak hancur karena hantaman tersebut. Seorang kakek berusia senja dengan badan perkasa berjalan masuk seperti hendak mencekik seseorang. Raut Wajahnya sangat mengerikan hingga orang didalam rumah yang melihatnya akan menjerit histeris karena ketakutan. Akan tetapi rumah itu tetap sunyi.


Seorang anak yang nampak masih setengah sadar tengah duduk di kursi panjang di ruang makan sembari menahan dirinya untuk kembali terlelap. Seolah piring mangkuk dan sampah yang berserakan di meja tidak mengganggunya sama sekali.


Melihat anak tersebut, Steve tiba-tiba terdiam. Dia merasa bersalah karena tiba-tiba merangsek masuk dan membangunkan dia dari tidurnya. Steve lupa kalau Antares memiliki kebiasaan tidur setelah makan siang karena jam biologisnya yang agak kacau. Walau dia tidak pernah terlihat kelelahan, namun anak-anak masih tetap anak-anak.


"Oh, Steve... kamu sudah... kembali... (zzzzzzzzzt~)"


Orang-orang yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa kecil, terutama saga yang jelas tidak menyembunyikan senyumannya.


"Dia perlu lebih banyak istirahat." Steve masuk ke rumah tanpa membuat banyak suara. Kemudian dia mengangkat Antares dengan kedua tangannya, dan membawanya ke kamar.


"Kurasa kita harus menunggu sampai dia bangun. Walaupun aku masih ragu apakah anak itu bisa membantu." Hiiro berceletuk ringan.


"Aku merasa dia bisa melakukannya, hehehe, bagaimanapun juga anak itu sama denganku." Saga terus tertawa seperti kemasukan jin, yang mana membuat rekan-rekannya terkejut.


"Err, bisakah kamu menjelaskannya lebih detail lagi?" Tanya Arthia.


Saga hanya tersenyum, kemudian mengacungkan jarinya kearah lehernya. Tanda itu nampak jelas, garis lurus seperti potongan pedang dan garis-garis tegak layaknya belas jahitan. Seketika itu juga para petualang itu tersentak.


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" Kepala datang bersama dengan seorang dua orang penjaga. Keduanya mengangguk karena penasaran dengan topik tersebut.


"Sebenarnya ini bukan hal yang aneh, namun juga sangat langka." Arthur mengambil nafas sejenak. "Ketika seseorang menjadi hamba suatu dewa, biasanya mereka akan memiliki ciri khas. Thalia contohnya, keahliannya dalam sihir kehidupan dan druidic magic meningkatkan pesat karena dia seorang cleric dari Dewi Bumi, Liira. Dalam hal ini, mas Saga dan anak itu merupakan hamba dari Dewa Mimpi dan Kerahasian dengan tato itu sebagai tandanya."


"Dewa Mimpi dan Kerahasian? Saya hanya pernah mendengar namanya tanpa melihat pengikutnya secara nyata. Tidak disangka anda merupakan salah satu pengikut dewa tersebut, mas Saga."


"Menang benar orang-orang seperti kami sangat jarang. Kami bahkan tidak memiliki kuil untuk melakukan pemujaan." Saga hanya tertawa kecil.


"Mengapa bisa seperti itu? Apakah Dewa Mimpi ini semacam dewa jahat?" Percival bertanya dengan wajah serius.


"Mungkin saja, hahaha. Aku tidak akan terkejut bila dia memang semacam itu, tapi satu hal yang pasti, tidak akan ada berubah bahkan jika dia dewa jahat sekalipun." Saga kembali ke sifat seriusnya yang biasa, setelah mengatakan kalimat yang membuat rekan-rekannya merinding begitu saja.

__ADS_1


"Aku pernah baca kalau pengikut dewa mimpi itu gila, kurasa itu tidak sepenuhnya salah." Thalia menggelengkan kepalanya.


"Daripada gila, lebih tepat bila disebut ketidakmampuan untuk merasakan emosi. keselarasan kami sebagian besar Netral, daripada Jahat." Saga tidak terpancing sedikitpun.


"Lalu bagaimana kamu menjadi pengikut Dewa Mimpi, Saga?" Samantha yang ikut masuk ke rumah akhirnya buka suara.


"Hm, itu cerita panjang yang cukup membuatku trauma. Kamu mau mendengarkannya, Samantha?"


Samantha memberikan ekspresi bersalah, sementara Percival dan Hiiro mengiyakannya begitu saja. "Masa lalu kelam Saga, aku ingin mengetahuinya!"


Pada saat yang sama, Steve keluar dari kamar Antares. "Kondisinya sudah pulih sepenuhnya, biarkan dia tidur beberapa menit dan Antares akan kembali seperti semula." Katanya dengan lirih.


"Mengerti, ayo bicara diluar kalau begitu." Arthur memberikan anggukan kecil.


"Ngomong-ngomong, bukankah kamu cukup perhatian dengan anak itu kakek? Apakah dia cucumu?" Hiiro bertanya dengan senyum jahil.


"Tidak, dia seperti hama yang selalu membuatku khawatir."


Semua orang hanya tertawa mendengar kata-kata Steve. Karena memang seperti itulah dia. Tidak peduli bagaimana penampilan luarnya, dia tetaplah orang tua yang lemah terhadap anak kecil.


"Kami sudah mengirim Noril dan Sigur untuk memantau area sekitar. Dan masih belum ada perubahan tertentu." Jawab Arthur dengan ringan.


"Kalian mengirim Barbarian sebagai mata-mata?" Tanya Steve setengah percaya.


"Benar, jangan remehkan Berserker kami! Selain itu kami akan menunggu sampai anak itu bangun, terimakasih kepada Saga. Dan akhirnya kami memiliki kesempatan untuk mengetahui masa lalu Saga, aku tidak akan melepaskan kesempatan ini!" Hiiro berbicara dengan menggebu-gebu seperti emak-emak saat lihat potongan harga.


Kemudian orang-orang itu keluar dari rumah Antares satu persatu. Mereka duduk di bawah pohon besar yang rimbun tidak jauh dari rumah Antares. Thalia merasakan nadi pohon melalui telapak tangannya, membiarkan energi kehidupan mengalir kedalam dirinya. Kemudian senyum merekah diwajahnya yang jelita. Dia tenggelam dalam sensasi tersebut sampai suara teman-temannya yang berisik dibelakang tidak lagi terdengar.


(pa!)


Kemudian Thalia dikejutkan dengan telapak tangan yang mendarat dipundaknya.


"Apa itu sebaik itu sampai kamu tidak mendengar panggilanku, Thalia?" Arthia bertanya dengan tawa kecil. Wajahnya yang cantik nampak bersinar dibawah langit cerah hari ini. Kini itu menjadi lebih sempurna dengan senyum lebar yang menghiasinya.

__ADS_1


"Ah maaf, aku terlalu tenggelam kepada keindahan alam. Kamu tahu, pohon ini dipenuhi oleh energi kehidupan seperti anak kecil yang tengah bersenandung kegirangan." Thalia kembali menatap pohon tersebut.


"Aku tidak memiliki kemampuan untuk merasakannya, tapi kamu tahu, bahkan seorang pertapa membutuhkan makan siang." Kata Arthia sembari menunjuk ke arah belalangnya. Disana sudah ada satu set makanan lengkap ala pedesaan yang nampak biasa, namun aroma yamg keluarkan membuat perut Thalia berteriak. Samantha tengah menghidangkan semangkuk sup hangat dengan kuah kental dan juga beberapa roti coklat.


"Baiklah." Thalia tersipu malu, sembari memberikan anggukan kecil.


Makanan kali ini disediakan oleh penduduk desa atas arahan dari kepala desa. Walau tidak ada kewajiban untuk melakukannya dari pihak guild. Tentu saja mereka masih bersedia untuk menjamu penyelamatan yang menyelamatkan nyawa mereka.


"Ah, selanjutkan kita harus membuat pesta untuk Antares, bukankah begitu?" Celetuk salah satu penjaga tanpa banyak berfikir.


"Tentu saja, pada faktanya aku sudah mempersiapkan semuanya, untuk malam ini! Dan karena Antares sudah bangun, kalian bisa mulai mempersiapkannya!" Bisik kepala desa kepada penjaga tersebut.


"Benarkah! Kalau begitu kita akan membuatnya sangat meriah hingga Antares tidak akan pernah melupakannya!"


"Jangan berfikir yang macam-macam, dia selamat dari gelombang monster dan justru mati karena kekenyangan!" Steve memarahi mereka dengan keras.


Para petualang hanya tertawa melihat interaksi antara penduduk desa tersebut. Terutama Hiiro yang terlihat paling tidak punya beban.


"Haha, bagaimana bisa mereka masih merencanakan membuat pesta dalam keadaan seperti ini? Bukankah mereka terlalu santai?"


"Entah mereka sepenuhnya percaya kepada kita atau yakin akan selamat untuk melihat besok." Percival ikut tertawa. "Tapi, sup ini sangat enak! Apa ini semacam sihir tertentu?"


"Mungkin, walau aku tidak begitu mengetahuinya." Athia hanya menggelengkan kepala. "Pak penjaga, bagaimana sup ini bisa begitu enak?"


"Apakah kalian ingin tahu rahasianya?"


Para petualang itu mengangguk kuat, menanti kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut si penjaga.


(bersambung.)


♦♦♦


Author note :

__ADS_1


Daripada bertanya seberapa kuat Ren sebenarnya, bukankah lebih menarik kalau pertanyaannya, mengapa Ren dianggap sebagai dewa?


__ADS_2