
Cahaya terang menusuk mata, ketika Antares akhirnya tersadar. Membuat si anak sedikit menggeliat dengan ekspresi unik.
Hal pertama yang ia lihat, ialah langit-langit dari papan kayu. Kemudian ruangan besar yang hanya berisi lemari dan meja kecil. Jendela di sisi kamar terbuka lebar, memperlihatkan langit biru cerah dan sedikit atap bangunan.
Antares segera bangun dari tidurnya, sembari memegangi kepalanya. Ia memiliki memori yang kuat, membuatnya mengingat setiap kejadian malam tadi dengan sangat jelas. Meski begitu ekspresinya tidak banyak berubah. Ia tidak memiliki ekspresi putus asa ataupun mata kosong ikan mati, dia tetap seperti anak biasa yang tak tahu menahu tentang dunia.
"Selamat pagi~" suara lembut tiba-tiba saja muncul dari belakang Antares, bersama dengan sepasang lengan yang merangkulnya dari belakang.
"Ren, kamu terdengar bersemangat." Kata Antares dengan tawa kecil.
"Melihatmu seperti 'itu' membuatku ingin terus membullymu, hehe~"
"Kamu mengerikan seperti biasa, ha?"
"Apa? kamu mau melakukannya?"
"Tidak hari ini."
Kemudian keduanya tertawa bersama-sama. Rem melepaskan rangkulannya, menyandarkan punggungnya pada bantal dan tembok dibelakangnya. Sementara itu Antares beranjak dari kasur, lalu pergi untuk membasuh mukanya.
Tak berselang lama, seekor kucing berbulu hitam masuk kedalam kamar melalui jendela yang terbuka. Tapi ketika kucing itu masuk, Ren sudah tidak ada di kamar tersebut.
Antares keluar secara bersamaan dengan kedatangan para petualang Red Vortex. Mereka kaget ketika melihat Antares keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala.
"Oi, sudah bangun to!"
"Kami baru saja mau membangunmu untuk sarapan."
"Kamu baik-baik saja, Antares."
Orang-orang tersebut datang dengan energi penuh, seperti memenuhi kamar tersebut dengan keceriaan. Melihat senyum mereka, wajah mereka, membuat Antares ikut tersenyum. Kebahagiaan tersebut seolah mengangkat beban berat di hati Antares, walau ia tidak mengerti beban tersebut.
Dibalik semua kegembiraan tersebut, seseorang menengah memindahkan meja kecil keatas karpet di tengah ruangan.
"Tenanglah, ini masih pagi kalian terlalu bersemangat."
"Apa maksudmu! pagi identik dengan semangat!"
"Benar, kami bawakan sup daging terbaik di penginapan. Makanlah selagi hangat!"
Samantha dan Percival segera mendorong Antares ke meja yang telah dipersiapkan.
Aroma sup yang kaya akan rempah seperti membangunkan perut Antares yang masih setengah sadar. Membuat si anak tersipu malu dibawah tatapan hangat para petualang tersebut.
"Ahahaha, perutmu lebih jujur daripada mulutmu Antares!"
Antares menggelembung pipinya seperti anak kecil. "Mhmm~"
__ADS_1
Dibawah dorongan para pemuda bersemangat tersebut, Antares akhirnya memasukan sesendok sup kedalam mulutnya. Awalnya rasa gurih ringan membasahi mulutnya, kemudian mengalir melalui kerongkongan, lalu menyebarkan rasa hangat kesetiap penjuru tubuh.
Apa ini... walau rasanya sedikit lebih baik daripada sup biasa... tapi... rasanya sangat enak...
Antares makan dengan lahap. Semua orang hanya diam ketika melihat reaksi Antares. Membiarkan anak tersebut menikmati makanannya sampai habis.
"Ah~ rasanya enak." katanya dengan suara lirih.
"Benarkan~ kuberitahu ya, itu sebenarnya masakan Thalia." Percival berbisik ke telinga Antares dengan suara keras.
"Ih, kenapa kamu memberitahunyan!"
"Apa yang membuatmu malu? kalian bertiga sangat khawatir padanya tadi malam hingga tidak bisa tidur, kan."
"Ahem, aku tidur nyenyak kok semalam."
"Nah, Antares tidur nyenyak sih jadi aku bisa beristirahat dengan tenang."
"Aku priest jadi sudah sewajarnya untuk mengkhawatirkan pasien."
"kamu priest bukan doktor."
"Tapi Antares, apa kamu baik-baik saja? bukannya aku ingin mengingatkanmu dengan luka lama, tapi, kau tahu..."
"Bagaimana dengan masa depanku?" Antares memasang ekspresi biasa. "Aku sudah memiliki rencana untuk itu. Dan aku juga tidak terlalu memikirkannya, sih. Bagaimana ya, intinya kalian tidak perlu terlalu khawatir padaku. Aku baik-baik saja."
"Thank!" Antares menerimanya dengan senang hati.
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?"
"Kalian sudah tahu tentang kakek Steve?"
"Tentu saja, menurutmu kami ini siapa, ha? mencari sedikit rumor bukanlah hal yang sulit terutama dengan Noril dan Samantha.
"Ah itu mengingatkanku pada malam itu, kamu yang menghubungi kami dengan telepati Antares? dan ini Noir?" Samantha menunjuk kearah kucing yang tengah menjilati kaki depannya diatas kasur putih.
"Benar itu Noir." Kucing hitam tersebut melompat ke pangkuan Antares dengan lincah, menggosokan badannya kepada tuannya. "Sebenarnya ini binatang magis yang cukup kuat. Aku menemukannya di jalan, lalu memutuskan untuk merawatnya.
Dan Samantha, memang aku yang mengirim pesan kepada kalian berdua, dalam keadaan setengah sadar."
" ..... .... begitu rupanya, mari lupakan tentang orang-orang itu untuk saat ini. Lalu dimana Steve saat ini? Mengapa ia tidak berada bersamamu?"
"Dia ditangkap pihak berwenang."
"Apa?!"
Setelah itu Antares menceritakan semua yang terjadi sejak ia dan Steve sampai di kota ini. Tentang hubungan mereka dengan Berbard. Juga rencana Antares dimasa depan tanpa menyembunyikan apapun. kecuali kemampuan Antares sendiri dan keberadaan para parasit.
__ADS_1
"Begitu rupanya. Tapi mendapatkan semua masalah tersebut sehari di kota...huhuhu."
"Bagaimana ya..."
"Kamu kurang beruntung..."
"Tertawalah selagi kalian bisa, orang-orang barbar."
"Hei, jangan libatkan aku didalamnya~ hahahahaha!"
(tok tok tok)
Suara ketukan pintu seperti menyiramkan air dingin kepada semua orang di ruangan. Wajah semua orang sedikit berubah karena kesal, kecuali Antares.
"Siapa?"
"Saya Bernard Gustav, senang bertemu dengan anda kelompok petualangan Red Vortex sekalian."
"Gustav? Saudagar yang kaya raya itu?" Celetuk percival.
Noril segera membuka pintu, memperlihatkan pria paruh baya dengan badan lebar yang tersenyum lembut. Dibelakangnya berdiri seorang kakek lanjut usia yang masih nampak bugar dengan badan atletis.
"bapak Gustsv! Steve!?"
"Oh, nampaknya kalian memang saling mengenal satu sama lain. hm, nak Antares juga berada disini rupanya, syukurlah. Saya pikir kamu telah ditangkap oleh para serigala itu. Syukurlah kamu baik-baik saja."
"Err ini... mengapa kalian tidak masuk terlebih dulu pak, kakek."
"Tentu saja. Tidur di penjara rasanya membuatku 10 tahun lebih tua." Steve menggerakkan lehernya, mengeluarkan bunyi retakan yang nyaring.
"Hoho, maaf menganggu."
Setelah itu Arthur menceritakan semua yang terjadi malam tadi, yang mana membuat Gustav sangat terkejut. Ia tidak menyangka akan banyaknya hal yang terjadi dalam rentang satu malam saja. Kemudian Gustav meminta maaf kepada Antares dengan tulus dan berjanji untuk membantunya mendapatkan ijin buka usaha dari asosiasi dagang. Sementara itu, Steve menanyakan beberapa detail dan tidak menggubrisnya lebih lanjut. Karena ia tahu, Antares akan membereskan semuanya sebelum matahari terbit.
Setelah itu mereka berbicara sampai matahari mulai mencapai area tertinggi. Lalu mereka pergi satu demi satu. Antares dan Steve kembali ke penginapannya, sementara Gustav pulang bersama para pengawalnya. Untuk para Red Vortex mereka akan beristirahat di penginapan mewah tersebut selama sehari sebelum mengambil misi lain.
Beberapa hari selanjutnya, berita menghilangnya sindikat terbesar di Rimun menggetarkan kota tersebut. Mulai dari orang biasa hingga orang paling berpengaruh mencoba mencari tahu kebenarannya. Sebagai hasilnya, orang-orang yang mengetahui markas Serigala Hitam hanya menemukan tulang belulang yang tergeletak di markas tanpa jejak satupun pelaku pemberantasan. Tidak peduli dengan cara apapun mereka mencari pahlawan tersebut, mulai dari informasi publik, informasi dunia bawah, hingga ramalan para penyihir dan pendeta, identitasnya tidak bisa ditemukan.
Memang benar ada misi untuk menghancurkan sindikat tersebut. Akan tetapi kertas misi tersebut masih menempel di dinding guild petualangan sampai hari ini. Walau begitu, rasa lega tetap terpancar dari wajah para penduduk, terutama mereka di distrik selatan. Dengan tirai hitam yang menutupi sosok tersebut, tidak ada yang berani untuk mengklaim prestasi tersebut, takut akan keberadaan tak dikenal tersebut. Sehingga menciptakan urban legend tentang pencabut nyawa yang mengintai dari bayang-bayang kota.
Sementara itu, orang yang bertanggung jawab atas semua kekacauan di kota justru tengah membuka rumah makan di sudut kota. Walau ukurannya tidak terlalu besar, namun restauran tersebut selalu ramai oleh pengunjung karena makanan yang enak, memuaskan, dan ramah di kantong. Toko tersebut dijaga oleh seorang kakek tua, dengan 2 remaja sebagai staff tetap, dan beberapa anak-anak lain sebagai pekerja paruh waktu. Para pelayan tersebut tentu saja inang parasit milik Antares. Untuk pemilik rumah makan itu sendiri, ia menjaga konter sembari memperhatikan keramaian dengan senyum manis, yang mana memikat hati orang-orang dengan mudah. Akan ada keributan sesekali, namun mereka dapat diatasi dengan mudah oleh para pelayan level tinggi.
Setelah itu Antares hidup dalan ketenangan selamanya. Setidaknya sampai beberapa bulan kedepan.
(buku 1 - selesai.)
♦♦♦
__ADS_1