Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 61 Keanehan diantara keanehan


__ADS_3

Luas dari interior bawah tanah terbesar sanhat besar, dimana setiap subruang yang ada di sana berkisar 3x4 meteran. Yang membuat duo assassin tersebut sedikit bertanya-tanya, bagaimana mereka membangunnya.


Dari sekian ruang dalam lorong bawah tanah tersebut, terdapat satu ruangan yang tetap tertutup rapat, seolah terpisah dari dunia luar. Melihat gadis aneh tersebut berjalan santai menuju ke arahnya, membuat Samantha berfikir kalau dia mungkin berada di sana. Sementara itu, di ujung lorong tersebut. Terdapat ruang lain yang berisi banyak kandang besar terbuat dari besi.


Mungkinkah mereka memelihara binatang buas disana? // Samantha bertanya dalam benaknya. Bertanya-tanya mengapa tidak ada penjaga disana. Sementara Noril bisa menebak penggunaan ruang tersebut dengan muda.


"Dan kita sampai. Kuharap kalian bisa mengendalikan emosi ketika melihat isi didalamnya." Kata gadis tersebut dengan senyum masam. Pipinya yang agak merona nampak jelas dalam lorong yang bercahaya remang-remang tersebut.


Keduanya hanya mengangguk pelan, bersiap untuk segala jenis kemungkinan terburuk.


(ngeeeek)


Suara derit engsel pintu yang dibuka terdengar jelas. Ruangan yang diterima cahaya magis segera nampak jelas dalam panjang 3 orang tersebut. Sebuah kamar dengan kasur besar, berisi 5 pria dewasa tanpa busana, mengitari seorang anak berkulit seputih susu yang terbaring tak berdaya.


Keduanya melihat anak di antara pria tersebut baik-baik. Ia telanjang dengan terikat diatas kepala, dan suatu benda di sumpalkan kedalam mulutnya. Melihat pemandangan tersebut, seketika itu juga darah kedua assassin tersebut seperti terbakar sampai ke ubun-ubun. Dengan sorotan mata tajam, aura membunuh merembes keluar dari badan keduanya.


"Silahkan." Kata gadis aneh tersebut seperti pelayanan yang mempersilahkan tamu masuk. Dengan senyum manis dengan emosi riang yang jelas.


"Hey? Siapa kalian?!!" Teriakan salah satu pria tersebut menarik perhatian rekan-rekannya yang lain.


Keduanya langsung merangsek masuk menggunakan kecepatan diluar nalar manusia.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa..." Leher pria tersebut bergeser dari tempatnya sebelum ia mulai selesai berbicara. Kemudian darah menyembur dari bekas potongan tersebut. Kemudian badannya runtuh menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, yang diikuti oleh para pria yang lain.


"Antares, kamu mendengarku?! Antares! Jawablah, Antares!" Samantha berteriak ketika dia menggoyangkan badan anak tersebut. Sementara Noril memotong ikatan pada tangannya. Namun Antares tidak menjawabnya sama sekali, bahkan matanya seolah tidak bisa melihat mereka seperti orang buta. Disisi lain, anak tersebut bernafas dengan kasar yang terdengar jelas dalam telinga tiga orang disana.


Kondisinya jauh lebih baik daripada gadis aneh yang pertama kali mereka temui. Tidak ada luka luar yang nampak, ataupun luka dalam. Hanya sedikit memar pada pergelangan tangan. Samantha mengambil benda yang disumpalkan dalam mulut Antares, dengan reaksi yang agak jijik dan marah. Kemudian dia melihat bagian bawah anak tersebut yang berdiri tegak, diikat dengan cincin magis kecil. Dia memberikan kode mata pada rekannya, meminta Noril untuk mengambilnya. Cincin itu, juga benda lain yang dimasukkan kedalam ***** Antares. Jujur saja, Samantha agak terkejut melihat ukuran "benda" tersebut yang agak besar dan tebal.


Bagaimana benda seperti itu masuk kedalam sana? Itu setidaknya sama dengan yang dimasukan dalam mulut! // Seru Samantha dengan agak khawatir.


Anak yang malang... Tapi, bukankah ada terlalu banyak kejadian aneh ditempat ini? Pertama-tama, bagaimana bisa anak itu ditangkap oleh mereka? // Noril berteriak keras dalam hati, tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Reaksi tersebut wajar saja, mengingat kekuatan yang diperlihatkan Antares dalam pertarungan Gua Goblin beberapa minggu yang lalu.


"Dia mungkin berada dalam pengaruh obat zat tertentu yang membuatnya tidak sadar." Kata Noril dengan nada yang jelas. Alasan lain yang terbesit di kepalanya ialah, mental breakdown.


"Benar, kita bisa membiarkan Thalia mengeceknya nanti." Kata Samantha dengan ekspresi serius, sembari mengeluarkan kain dari dalam kantong kecil di pinggang. Menutupi anak tersebut, lalu mengusap wajahnya dengan lembut untuk menutup matanya. kemudian dia mengangkatnya dengan kedua tangannya.


Noril merasa agak tidak nyaman dengan ekspresi yang ditampilkan oleh gadis tersebut. Karena si gadis nampak tidak berempati sedikitpun kepada Antares.


"Jika kalian sedang terburu-buru, maka kami akan membunuhnya secara perlahan. Dengan cara yang paling menyakitkan yang pernah ada." Katanya tanpa kehilangan senyumannya, akan tetapi tidak ada kehangatan sedikitpun yang terpancar darinya.


Gadis tersebut memancarkan aura membunuh dan kebencian dan cukup besar hingga membuat Noril dan Samantha bergidik ngeri. Kemudian dia menoleh kearah Antares. Ia mendekatinya, kemudian memberikan kecupan manis kepada anak tersebut. Ia berbisik dengan lembut kepadanya, "Semuanya akan baik-baik saja."


Noril dan Samantha hanya bisa termenung. Hati mereka seakan terasa tergerak, seolah kata-kata tersebut ditujukan untuk keduanya.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana keputusan kalian?"


"Kalau begitu kami akan kembali, segera menyembuhkan anak ini jauh lebih penting bagi kami." Kata Noril.


"Mhmm, aku mengerti. Kalian tidak perlu lagi mengkhawatirkan soal Carlos. Karena kami tidak akan melepaskannya, meski kami harus mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun." si gadis melangkah ke samping, mempersilahkan kedua assassin tersebut pergi. Kemudian dia membungkukan punggungnya, "Dan, terimakasih untuk bantuan yang telah kalian berikan."


Melihat wajah tulus pelayan tersebut, Samantha sedikit panik dan tidak tahu harus berkata apa.


"Kami hanya datang untuk membantu rekan, seharusnya kami yang berterimakasih atas bantuan mu dan rekan-rekanmu." Noril memberikan sedikit membungkuk punggungnya, untuk memperjelas ketulusannya.


Setelah itu, keduanya segera keluar dari ruang bawah tanah tersebut. Mereka agak curiga karena tempat tersebut sangat sunyi, namun memilih untuk tidak menghiraukannya. Kemudian mereka segera melesat kearah penginapan mewah tempat Red Vortex menginap.


♦♦♦


Teman kah... // Salah satu avatar Antares berwujud remaja wanita melihat kepergian Noril, Samantha, dan dirinya yang asli dari atap salah satu bangunan. Ia merasa senang karena mereka mengakuinya sebagai teman, walau para remaja tersebut telah mengungkapkan kata yang sama berkali-kali di desa Astera. Tapi hari ini, kata tersebut terasa sangat berbeda. Perasaan yang membuatnya tersenyum dan tertawa tulus.


"Nah, lupakan itu. Apa yang harus kita lakukan pada pria itu?" Avatar Antares mulai memikirkan serangkaian metodologi untuk membuat Carlos menderita. Ada terlalu banyak ide yang muncul di pikirannya,sendiri ia tidak bisa memutuskannya.


(bersambung...)


♦♦♦

__ADS_1


Crimson Vortex -> Red Vortex


lebih nyaman bacanya saja xD


__ADS_2