
Di dalam gedung tinggi pula nampak pria dengan anak-anak rambut di bagian dagu nampak tak menyukai informasi yang di berikan oleh sang asisten . Memutuskan bahkan membatalkan sebuah janji tanpa persetujuan nya . Nampak sejumlah lembaran kertas yang semula tersusun rapih kini telah berpindah tempat di atas lantai keramik bersih bersatu dengan beberapa barang.
" Kurang ajar !" Teriaknya nyaring menggema di dalam ruangan tertutup . Sang asisten yang sedari tadi hanya mampu diam tak berkutik , jantungnya seakan terpacu , teriakan serta cacian keluar dari mulut pria yang seakan tengah di rasuki roh jahat kini tengah menunjukkan jati dirinya.
" Aaarrggghhhh !!! Atur ulang jadwal saya dengan dia ! saya tidak mau tau bagaimana caranya ! " dengan lantang Pras Maher berteriak membabi buta.
" Tapi tuan ." Ucap sang asisten hendak memberi tahu lagi.
" Cepaatttt ! " ucapnya lagi kini dengan mata yang seperti hendak keluar.
" Bbb baiikk tuan ." Ucapnya buru-buru lalu menutup pintu cepat seolah baru saja keluar dari sarang ular .
Huh hah huh hah
Nafasnya tersengal naik turun jantungnya tak bisa berdetak normal . sembari mengusap cepat dadanya nampak Tio asisten yang sudah faham betul bagaimana sifat Presdir namun tidak membuat jantungnya terbiasa saat amarahnya keluar setiap kali apa yang ia inginkan tidak berjalan sesuai rencana.
__ADS_1
" Huhh , dasar bos gila ." Ucapnya menengok ke belakang pada pintu yang sudah tertutup rapat.
Berjalan ia menuju ruangannya masih dengan tangan yang sibuk mengelus dada lalu menggaruk kepala yang tiba-tiba terasa gatal.
___________
Pagi yang cerah , langit biru tanpa ada noda awan sedikitpun membuat nya terlihat sayang terlihat menantang. Matahari meninggi bersama jam yang terus berputar , Andini tersenyum sembari menenteng tas yang selalu ia bawa .
" Aku sudah siap ." Ucapnya begitu sampai di depan pintu.
" Yuk ." Ucap Alex dengan menganggukkan kepalanya pelan.
" Kemana kak ? "
" Nikah !" Celetuk Alex yang di hadiahi mata melotot karena terkejut.
__ADS_1
" Kerja sayang kerja . Aku harus punya cukup uang untuk menikahi mu ." Ucap Alex gemas kini dengan mengapit kedua pipi Andini yang nampak lucu.
" Huh , Kakak ini ." Ucap nya dengan wajah malu.
" kenapa ? apa aku salah ? kan benar memang aku bekerja untuk menikahi mu . Setelah menikah aku juga akan mempunyai anak pasti harus siap memenuhi kebutuhan kalian bukan ?" Ucap Alex enteng namun penuh keyakinan.
Di peluknya erat lengan kekar milik Alex , menundukkan kepalanya menghirup dalam-dalam aroma tubuh lelaki yang b rada di sampingnya.
" Terima kasih kak . Terima kasih buat semua ." Ucapnya kemudian menatap lekat pupil Alex dengan penuh bangga.
" Sudah ayo , jalanan bisa macet nanti. " Ucapnya lagi lalu mengakhiri drama yang terjadi di apartemen yang nampa rapih.
Perjalanan nampak ramai lancar , dengan diam Andini menatap jalanan yang menampilkan sejumlah aktivitas rutin khas ibu kota namun tidak dengan otaknya yang entah sedang berada di mana . Senyum yang terkulum tertahan tidak ada yang tahu sebabnya terkecuali dirinya sendiri.
Memikirkan masa depannya mungkin . Atau sedang memikirkan gaun mana yang akan ia kenakan nanti , atau malah pikiran nya melayang jauh saat malam pertama datang . Yang jelas kini mimik wajahnya menampilkan kegembiraan yang membuatnya tersenyum juga menahan geli sendiri.
__ADS_1
__________