
Pagi menyingsing , udara nampak sejuk setelah tetesan air hujan yang turun sejak semalam . Tubuh yang berbalut selimut tebal serta pelukan yang begitu hangat membuat Andini enggak untuk beranjak dari tempat tidur nya.
Mata yang masih begitu berat memaksakan tubuhnya untuk tetap di seret dari tempat yang begitu nyaman.
" Jam berapa ini ?" Tanyanya begitu ia menyipit menajamkan pandangannya pada layar ponsel yang telah menyala .
Dengan sangat hati-hati Andini mengangkat beratnya lengan Alex yang menindih tubuhnya. dengan begitu hati-hati nafasnya sedikit tertahan takut mengganggu tidur nyenyak laki-laki di sampingnya.
" Apa kita tidak bisa lebih lama di atas tempat tidur yang nyaman ini hmmm !." Tutur Alex dengan suara serak ,mata yang masih tertutup namun seolah tahu di mana posisi sang istri berada.
Degg
Deggg
Deggggg
Deggggggg
Deguk jantung yang seolah tiba-tiba menacu, pelukan serta hembusan nafas tepat di belakang telinganya seperti ada sesuatu yang menggelitik.
" Hah ! apa ini?" serunya dalam hati saat tonjolan yang begitu keras tertempel pada punggung yang berbalut piama .
" Mmmaaasss ." Ucap Andini sedikit berdesis.
" Aku menginginkannya ."
Gleek
Dua patah kata, Alex mampu membuat Andini tak mampu berbuat apa-apa. Tubuh kaku serta bayang-bayang entah dari mana asalnya membuatnya gugup bukan kepalang.
" Em Mas , kita kita harus berangkat bekerja." Tuturnya mencari alasan.
" Kita bisa mengambil cuti untuk beberapa hari."
" Ttt tapi semua orang belum mengetahui status kita !" Jawab Andini menghentikan semuanya.
" Yaa , kau benar sayang ! kita harus mengumumkan nya."
" hah ! secepat itu?"
" Kenapa? bukannya itu lebih baik?''
__ADS_1
" Tapi mas , apa kata orang jika kita mengumumkannya secara mendadak? pasti mereka semua mengira aku sudah ." Ucapnya terhenti , kata-kata nya seolah lenyap bersama ke***an sedikit tergesa dari Alex.
Cuupp.
" Jangan bicara yang tidak-tidak! aku sangat menyayangimu tidak ada satu orang pun yang berani mengatakan itu . Jika mereka menyinggung mu maka mereka akan berhadapan dengan ku ." Tutur Alex begitu melepas kec***nnya.
Cuupp
Lagi , kini suara lembut mengisi ruangan putih serta cahaya lampu kuning yang masih menyala . Hujan rintik-rintik kembali terjatuh seolah menjadi saksi pada dua insan yang kini tengah saling memberi kehangatan.
Detik jarum jam yang semakin meninggi serta layar ponsel yang menyala pertanda seseorang tengah menghubunginya.
" Mas ssshhh." Suara pelan hampir berbisik sembari mencengkram erat kaus putih yang di kenakan Alex. Mata yang terpejam menikmati hangatnya lidah yang saling membelit.
Jemari yang nampak begitu lihai tak melewatkan satu inci pun yang ada pada diri Andini.
" Aku mau sekarang juga , apa kau memberikannya?"
Ucap Alex lagi , kini kecu**nnya beralih pada leher jenjang Andini , memberi rasa luar biasa pada wanita yang nampak pasrah dengan apa yang terjadi.
Baju yang semula membungkus tubuh dengan hangat kini entah kapan ia terlepas dari tubuh Andini . Rasa dingin yang semula menyelimuti kini terasa begitu hangat dengan keringat yang keluar dari sekujur tubuhnya.
" Mas ?"
" Aku takut tidak bisa !" Tuturnya jujur pada Alex.
" Aku yang akan memimpin . Mungkin sedikit sakit tapi aku akan melakukannya secara perlahan." Ucap Alex menenangkan .
Anggukan kecil Andini menandakan persetujuan dari sang pemilik.
Semakin dalam , kini gerakan bibir yang semakin turun berhenti tepat di atas gundukan daging yang kenyal. Memainkan nya sangat lembut membangunkan sesuatu yang ada di bawah sana.
" Emmm mhhhh . Mmmaasss ." Des isnya begitu lid ah hangat menyentuh tepat pada lipa tan kaki . Tu bu hnya mulai bergetar , takut bercampur gugup kini lenyap entah kemana , bukan Andini yang tadi merasa ragu . Kini seolah tubuhnya mengingi nkan hal yang lebih.
" Mmmaaasss . Aakkuu ."
" Aku akan melaku kannya ! tenanglah akan ku lakukan dengan sangat hati-hati." Tutur Alex dengan suara parau.
Tub uh yang kini berada di atas wanita cantik yang terpejam . Kedua tangan yang nampak kuat menahan tubu hnya agar tak menimpa wanita yang beberapa hari lalu telah resmi menjadi istrinya .
" Aaa hhhhh ."
__ADS_1
" Sss ssaa kkiittt ."
Ucap Andini saat benda tum pul memaksa mas uk kedalam tubuh nya.
" Apa begitu sakit ." Ucap Alex menghentikan aktifitas nya.
Anggukan kecil Andini mengingatkannya untuk lebih perlahan .
" Apa sudah lebih baik?" Tanyanya dengan lembut sembari menatap pupil mata Andini yang nampak menggenang , tubuh yang kini berada di bawah kung kungan nya.
Gi gerakannya maju mundur secara perlahan begitu sangat hati-hati, desis halus masih begitu menyita perhatiannya.
" Buka mata mu sayang bernafas lah seperti biasa ." Tutur Alex mengomandoi .
" Mass ." Ucap Andini melepas kecup an nya .
" Emmm hhhhh ."
" Aku mau ." Ucapnya terhenti .
" Tunggu sayang , sebentar lagi aku menyusul mu ." ucap Alex dengan wajah penuh rasa.
" Aku tidak , emm hhh ."
" Ah hhhh , bagus sayang ." Ucap Alex begitu cairan vanila menyembur di dalam rahim sang istri berharap segera tumbuh benih yang baru saja ia taburkan.
Cupp
" Terima kasih sayang ." Ucapnya sembari mengecup kening Andini yang begitu banyak peluh .
" Cepatlah tumbuh ." Ucapnya lagi mengusap perut rata Andini sembari menyelipkan do'a.
Di benarkan selimut yang tergulung , menyelimuti tubuh polos tanpa sehe lai kain , saling memeluk memberikan kenyamanan sebelum mimpi menghiasi kembali.
" Nil , hari ini gue libur." Pesan singkat yang ia kirimkan sebelum ia memejamkan mata dengan satu tangan menjadi bantal kepala sang istri.
___________
Cerita sudah hampir selesai ya sayang .
Author begitu berterima kasih sudah mensupport author untuk menyelesaikan cerita ini 🤗
__ADS_1
Salam sayang 💌 semoga harimu menyenangkan 🥰