
Satu hari berlalu , kini langit mulai menggelap jejeran gedung-gedung tinggi mulai nampak bercahaya serta lampu-lampu jalanan yang mulai menyala . Perjalanan yang entah bagaimana bisa terasa l big panjang dari biasanya serta hening yang membuat Andini semakin canggung.
" Sayang .Mas ." Ucap mereka serempak lalu tertawa sedikit mencairkan suasana lalu hening kembali.
" Bicaralah , tidak perlu sungkan . Mas suka Andini yang banyak bicara juga galak ." Kata Alex kembali bersuara setelah beberapa detik suasana menjadi diam.
" Mas !"
" Aauuu ."
" Ya , ini baru Andini ku ." Ucap Alex lagi sembari berpura-pura meringis sakit.
" Maaf mas , Andini tidak bermaksud begitu." Katanya sedih dengan tangan mengusap lembut lengan pria yang baru saja ia pukul dengan tangannya.
" Tidak apa-apa.Jangan sungkan begitu ,nanti kamu akan terbiasa ." Tutur Alex lembut lalu mengusap pipi Andini yang memamerkan senyum cantik nya.
Tepat di depan apartemen yang mana biasanya Andini akan turun terlebih dahulu, kini berubah atas permintaan Alex.
" Tidak seperti ini juga kan mas . Aku malu." ucap Andini berbisik sembari berjinjit.
" Kenapa harus malu . Toh secepatnya semua akan mengetahui ." Kilah Alex yang tetap bersikeras menggandeng jemari lentik milik sang istri.
" Selamat malam mbak , tuan ." Sapa security dengan senyum ramah .
__ADS_1
" Selamat malam pak." Balas Andini sembari menyembunyikan genggaman Alex di belakang yg tas yang ia sandang di bahu kanannya.
Tak ingin di sembunyikan Alex berusaha mengayunkan tangannya, dengan jahil pula jemarinya menggelitiki telapak tangan yang ia genggam.
" Ehehee , kita duluan ya pak permisi ." Ucap Andini cepat lalu menarik tangan Alex yang kini ia genggam dengan erat. Ekspresi penuh kemenangan kini menghiasi wajah gagah Alex lalu menyunggingkan senyum gerak mata memamerkan pada genggaman erat dari istri lalu di balas dengan wajah bingung dari pria paruh bawa berseragam hitam yang kini tangannya menggenggam kunci mobil milik Alex.
" Tolong dulu ya pak ." Ucap Alex lalu menghilang bersama tarikan kuat dari tangan istri kecilnya.
" Kenapa mereka ?" Pria paruh baya itu pada diri sendiri.
langkah kian melambat tanpa sadar Andini terus menggandeng telapak tangan Alex dengan erat , menekan tombol di salah satu lift lalu masuk begitu pintu terbuka.
Ggrreeppp
" Mmaaasss .. eeeemmhhh ." Ucap Andini dendak memberontak saat gerakan tiba-tiba Alex.
Ting
Pintu terbuka ,dengan sigap Alex berdiri tegap seolah tak terjadi apa-apa, dengan Andini yang nampak gugup tersenyum kaku pada Cleaning service yang seolah takut untuk segera masuk membersihkan pagangan tangan yang berada di dalam lift tersebut.
" Silahkan tuan , Nona ." Ucap wanita berkuncir kuda tertunduk merasa bersalah.
" Oh masuklah mbak , tidak apa-apa, mau kelantai berapa ?" Tanya Andini seolah mendapatkan penyelamat.
__ADS_1
" Ayolah , setidaknya dia tidak melakukannya disini." Tutur Andini dalam hati dengan mata sedikit memohon.
" Tidak Nona ,maaf sssaya salah masuk lift ." tuturnya gugup saat mendapati tatapan Alex yang seolah menyuruhnya untuk pergi.
Dengan wajah penuh kehilaga , Andini mengangguk sembari tersenyum lesu , bak seorang pemancing yang kehilangan ikannya.
" Kenapa sayang ? kenapa murung begitu!" Ucap Alex yang sudah tau kemana arah pemikiran sang istri.
" Gapapa mas ." Ucapnya tersenyum .
" Nanti , kita mau makan apa?" tanya Andini mencari pembicaraan.
'' Aku mau makan kamu saja , bagaimana?" balas Alex dengan jahil.
" Hah ."
Dengan nada sedikit syok Andini menjawab lalu memojokkan tubuhnya sedikit menjaga jarak kepada Alex .
" Eheheee , aaaa aakkuu bukan makanan mas ." Imbuhnya sembari tertawa garing lalu diam sembari meremas kedua jemarinya ,meneguk salivanya dengan susah dengan raut wajah yang pasti di ketahui oleh pria di sampingnya.
Tingg
" Ayoo , aku sudah lapar ." Ajak Alex begitu pintu lift terbuka , menggandeng sedikit paksa jemari Andini yang entah sejak kapan terasa begitu dingin.
__ADS_1
___________