Asisten Tuan Daniel

Asisten Tuan Daniel
Part 38


__ADS_3

Ponsel terus berdering , beberapa pesan juga nampak memenuhi layar monitor saat mata terpejam tak seolah tak bisa di buka.


" Siapa tengah malam begini mengganggu tidur ku ." kesal Bima sembari tangannya berusaha meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja kecil bersanding dengan lampu tidur berwarna kuning .


" Ada apa ini ? tidak biasanya tengah malam menelfon ku!" Ucapnya lalu membuka matanya lebar-lebar melihat nama Daniel menghiasi layar ponselnya.


" Ada apa? apa ada keadaan darurat ?" Tanyanya begitu mengangkat panggilan telfonnya.


" Apa tidak ada waktu baik untuk menelfon seseorang , kau menganggu tidur ku ." Ucap Bima lagi .


" Kau berani membantah ? oo , apa kau juga sudah bosan bekerja bersama ku ? Baik , akan ku beri tahu ayah mu jika memang ini keputusan mu ." Ucap Daniel dengan cepat.


" Astaga manusia satu ini , terbuat dari apa perasaannya." keluhnya lirih di sebrang telfon.


" Kau menggerutu?"


" Ehh , tidak ! bukan begitu tuan Daniel aku hanya sedikit terkejut , pasalnya kau tidak pernah menelfon ku di jam-jam malam seperti ini . Apa kau membutuhkan sesuatu?" Ucap Bima melunak , mau tak mau ia harus segera memperbaiki percakapannya , jika tidak entah apa nanti yang akan terjadi .

__ADS_1


" Segeralah datang ke rumah , bawa semua peralatan medis mu ." Ucap Daniel.


" Apa kau terluka ? apa kau baru saja mengalami kecelakaan? tapi kenapa seperti kau sedang dalam perjalanan ? "


" Kau menyumpahi ku? "


" Heyy ,, kalian ini kenapa malah bertengkar , apa tidak bisa besok saja kalian berkelahinya ." Kini Alex ikut menyimbrung, menyela di antara perdebatan yang sedang berlangsung.


" Bima , kau cepatlah ke rumah , Lala sedang sakit ." Ucap Alex pada intinya.


" Sakit ? Lalu sekarang apa yang dirasakan ?"


" Bisa kau berikan padanya sebentar ?"


" Nona manis , apa yang membuat mu menangis ? apa ada rasa tidak nyaman atau kau membutuhkan sesuatu?" tanya Bima bertubi-tubi.


" Jangan mencari kesempatan Bima ." Nada suara Daniel terdengar tidak enak.

__ADS_1


Di sudut lain , nampak Andini hanya terdiam menyaksikan ketiga pria yang sedang berdebat tanpa memperdulikan dirinya yang tengah memeluk tubuh kecil Lala yang tertidur setelah ia mendapatkan apa yang dia mau dengan susah payah.


" Ya Tuhan !! bagaimana ini ,hanya di dalam telfon saja sudah seramai ini !! " Keluh Andini tanpa bicara.


Menggelengkan kepalanya pelan seraya bercengkrama dengan dirinya sendiri menjelaskan bagaimana situasi jika tiga pria bak kucing dengan tikus berada dalam satu kandang.


" Sayang ? kamu tidak apa-apa ?" Tanya Alex begitu matanya tak sengaja melihat dari pantulan cermin di atas nya .


" Oh ehh iya aku tidak apa-apa kak . Eheheeee." Ucap Andini gelagapan .


Mobil terus melaju membelah cahaya lampu jalanan yang terang , suasana tenang berbanding terbalik saat matahari mulai nampak bersinar . Keramaian serta hiruk pikuk suasana kota besar kini senyap , sunyi hanya beberapa pengendara juga beberapa pedagang malam yang menjajakan kopi atau sebagai nya.


Andini memejamkan matanya saat rasa kantuk tak bisa di tahan lagi , menikmati malam sunyi dengan lembutnya suara mesin mobil serta hangatnya pelukan dari wanita yang kini tengah tertidur pulas dalam dekapannya bak anak yang memeluk ibunya malam hari.


" Bayi besar ku ." Ucapnya sembari terkikik kecil dengan mata yang terpejam.


Senyum kecil menghiasi wajah cantiknya , lembut dingin AC membuatnya terbuai dalam mimpi , melupakan sejenak peristiwa yang sempat membuatnya takut . Gelapnya langit malam dengan gedung tinggi tanpa cahaya , namun siapa sangka dengan jeda waktu yang sempurna bak sudah di persiapkan Andini tertolong oleh semua yang berada di dekatnya.

__ADS_1


" Terima kasih Tuhan , tadi sangat membuatku takut namun kau kirimkan manusia baik yang tidak pernah ku sangka ." Tuturnya tadi begitu ia melihat ke arah jendela kaca besar .


_______________


__ADS_2