Asisten Tuan Daniel

Asisten Tuan Daniel
Part 41


__ADS_3

Derap langkah Andini nampak tergesa , raut wajah panik bercampur cemas menyatu dalam dirinya . Kakinya terus melangkah lebar mencari pria paruh baya yang menghubungi dirinya dengan kabar yang tak membuatnya nyaman.


" Pelan-pelan sayang , papa mu pasti baik-baik saja." Ingatkan Alex lalu menyambar lengan Andini , memeluk erat tubuh Andini yang bergetar dengan kabar yang ia terima.


" Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi kak kecuali papa ." Ucapnya tersedu dalam pelukan Alex .


" Sssttt , kau punya aku punya semuanya . Kau jangan takut ya . Papa pasti baik-baik saja ." Ucapnya mengusap lembut punggung Andini, membiarkan nya menyelesaikan tangis yang terus mengalir tanpa permisi.


Di dalam lorong rumah sakit , Andini melangkah tak begitu baik ,kakinya seketika terasa lemas saat telinganya terngiang ucapan dari salah satu petugas rumah sakit yang mengatakan jika papanya mengalami kecelakaan tunggal dan mengalami luka yang cukup parah.


Sialnya Andini tak begitu menyukai menerima kabar ini . Bukan tidak memberi kabar kepada istrinya, namun beberapa kali pihak rumah sakit telah mencoba menghubungi namun tidak ada respon, bahkan nomor Imelda tiba-tiba tidak bisa lagi untuk di hubungi.


Derap langkah terus terdengar dengan keramaian serta kepanikan dari beberapa pasien juga keluar yang datang.


" Sus atas nama Prayogo putra." Ucapnya begitu sampai di depan meja dengan beberapa wanita berpakaian putih.


" Apa anda perwakilannya?" Tanya nya yang di angguki cepat Andini.

__ADS_1


" Lurus saja nona , nanti silahkan belok kanan ada pintu geser . Disana ruangan tuan Prayogo." Ucap suster menjelaskan.


" Tapi maaf sebelumnya nona , bisa mohon untuk mengisi untuk biayanya." Ucapnya menyodorkan lembar kertas beserta pena.


" Pergilah nanti aku menyusul . Aku selesaikan dulu administrasi nya." Ucap Alex mengusap lembut pundak Andini.


" Terima kasih kak ." Ucapnya lalu berlari menuju ruangan sesuai dengan apa yang di ucapkan suster.


Berjalan cepat sembari mengusap kadar pipi basahnya , hidung mungil yang memerah dengan mata sedikit sembab .


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu putih dengan kaca kecil di bagian atasnya . selang infus juga selang oksigen yang terpasang dengan beberapa luka di tubuh laki-laki yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit membuat Andini Andini kembali menitihkan air matanya .


Andini masuk dengan gerakan lambat, menutup pelan pintu kayu lalu terhenti lagi. Sepersekian detik Andini berlari lalu memeluk erat tubuh ayahnya dengan air mata yang terus mengalir . Sesegukan tak mampu berucap hanya suara tangis yang bisa mengisi ruangan putih dengan beberapa alat medis yang terpasang di dinding dan menempel pada tubuh ayahnya yang membunyikan suara.


Ceklekk


" Maaf tuan say."

__ADS_1


" Papa , panggil papa kau anak ku sekarang." Ucap Prayogo memotong ucapan Alex yang kini berdiri di samping Andini.


" Iya , pa." Ucap Alex lalu menoleh ke arah Andini yang tersenyum manis.


" Terima kasih pa." ucapnya lalu memeluk lagi tubuh renta yang kini masih terbaring .


" Kenapa bisa seperti ini pa? selarut ini papa dari mana?" Tanya Alex yang di angguki Andini.


Senyum lemah terukir di wajah tua nya , lalu mengusap punggung tangan Andini.


" Maaf papa hampir menjodohkan mu dengan laki-laki yang salah. Dan berhati-hatilah dengan adik sambung mu ." Ucapnya.


" Intan ."


Di posisikan ya tubuh Prayogo , bersandar pada kasur yang sedikit di tinggikan . Meringis menahan sakit di bagian yang entah tak terlihat.


" Bisa papa jelaskan?" Ucap Andini dengan panik.

__ADS_1


" Begini ." Ucapnya hendak menceritakan.


__ADS_2