
Setibanya di halaman parkir nampak Imelda menutup pintu dengan cukup keras di susul dengan intan yang turut merapihkan penampilannya , menepuk sedikit pipi juga memijit hidungnya yang sebelumnya telah ia oleskan pelembab bibir agar seolah ia benar-benar bersedih.
Tap tap tappp
Langkah di buat lebar , raut panik kini menghiasi wajah kedua wanita yang berlari menuju ruangan sang suami.
" Mas ." Ucapnya dengan nafas tersenggal sembari membuka pintu kamar.
Pria yang semula masih terlihat bugar kini nampak bak boneka yang tengah di mainkan seorang anak kecil , beberapa kabel tertempel pada tubuhnya, selang oksigen juga turut menghiasi wajah yang tengah tertidur di atas kasur tinggi dengan tangan yang terpasang selang infus.
Duduk intan pada sofa yang tersedia dalam kamar inap , menatap sang ibu lebih mendekat ke arah wajah lemah pria yang akrab ia panggil papa.
Di dekatinya ranjang halus milik sang ayah , intan berjalan dengan pelan , lalu mencondongkan tubuhnya menatap lekat wajah pucat yang terlelap.
" Kenapa bisa seperti ini pa ." Ucapnya dengan sendu.
" Kau iba ?" Tanya Imelda dengan ketus.
" Ma , bagaimana pun dia papa intan juga kan ." Ucap intan sembari menatap pupil Imelda yang nampak tak suka .
" Kau tau mas , andai kau tidak seperti ini , aku pasti masih menyayangi mu . Tapi sekarang , lihat menghirup udara pun kau harus menggunakan alat bantu." Ucap Imelda dengan berbisik.
Intan memposisikan tubuhnya , di tegakkan punggungnya lalu menatap heran pada sang ibu yang terlihat begitu tak menyukai pria yang menjadi suaminya.
Cukup lama Imelda dan intan duduk di kursi yang telah di sediakan, dengan tiba-tiba kenop pintu terputar lalu masuk Alex dengan wajah sedikit heran.
__ADS_1
" Ngapain kamu disini ?" tanya Imelda dengan ketus.
" Maaf nyonya , sayang tengah merawat papa mertua saya . Lalu ada apa nyonya datang kemari ?" Kini giliran Alex yang bertanya.
" Cihh , pasti semuanya sudah direncanakan oleh nya ." Ucap Imelda dalam hati.
" Ini suami saya .Ohh , jadi ini menantu ku ya ." Ucapnya dengan senyum di paksa.
" Ma , sudah ayo kita pulang tidak perlu membahasnya disini ." Tarik intan menyeret lengan Imelda.
" kau tau , pasti tua bangka itu sudah di peras olehnya . Kita tidak boleh ambil diam kita harus merebut kembali harta kita." Ucapnya dengan geram.
" Tapi ."
" Baik sus ." Ucap Alex lalu mempersilahkan Imelda utuk meninggalkan tempat dengan gerakan tangannya.
Dengan kesal Imelda keluar bersama anak gadis yang nampak menciut dengan tiba-tiba.
" Manis sekali ucapannya ." Ucap Alex dalam hati dengan nada sinis .
Masih di dalam ruangan putih dengan selang infus yang menancap pada punggung tangan wanita cantik berkulit bersih . Mata indahnya kini mulai terbuka dengan kening yang di kerutkan.
" Astaga , dimana aku ?" ucapnya kini sembari memegangi kepalanya seng terasa berdenyut.
" Sayang , kau sudah bangun?"
__ADS_1
" Dimana aku mas?"
" Kau masih ingat kita sedang menemani Andini dan Alex?" Tanya Daniel dengan lembut .
Tangannya terus mengusap lembut rambut sang istri dengan wajah yang nampak berseri.
" Iya aku ingat , tapi seingat Lala ." ucapnya sembari menganggukkan kepalanya.
" Sudah jangan di pikirkan lagi , beristirahat lah yang baik kasihan anak kita jika ibunya kelelahan !" Kini Daniel benar-benar tidak bisa membendung rasa bahagianya.
" Anak ? Anak kita ?" Tanya Lala lalu mengikuti arah pandangan sang suami dengan tangan yang mengusap pelan perut ratanya .
" Aku ? apa aku ?" Ucap Lala tak bisa melanjutkan ucapannya dengan Nurul yang ia tutup menggunakan tangan kanannya.
" Ya sayang , kita akan menjadi orang tua ."
Cuuppp.
Sri kecupan hangat penuh kasih sayang mendarat tepat di atas keningnya, bulir air mata kini nampak menggenang di sudut matanya. Senang bercampur haru tatkala titipan Tuhan yang kini berada dalam rahimnya.
" Terima kasih sayang . Terima kasih sudah bersedia menjadi ibu untuk anak-anak ku ." ucap Daniel sungguh lalu memeluk erat tubuh istri kecil yang menjadi tempatnya berpulang.
" Ini sudah menjadi kewajiban ku mas. Tetaplah bersama ku untuk membesarkan anak-anak kita ." Tutur Lala dengan satu tangan mengusap perutnya.
_________
__ADS_1