Asisten Tuan Daniel

Asisten Tuan Daniel
Part 25


__ADS_3

Pagi dengan semua kegiatan masing-masing , nampak Lala juga nampak tengah berkutat di depan set kitchen bersama ibu juga bi Asih. Dengan cekatan ia membantu memotong juga menumis semua bumbu yang telah di haruskan.


" Sudah non biar bibi saja , pangeran non takut butuh bantuan ." ucap bi Asih setengah cekikikan.


" Pangeran ?" Tanya Indah dengan kening berkerut .


" Iya buk pangeran , pangeran non Lala dari negri dongeng katanya , hihihiiii ." Ucapnya lagi kini dengan suara setengah lantang.


" Ehehee , bi asih hanya bercanda Bu , maksud nya itu mas Daniel." Ucap Lala dengan malu saat mendapat tatapan yang cukup membuatnya tertunduk.


Di senggolnya pundak bi asih pelan seolah sedang berbicara namun tak mengeluarkan kata-kata.


Begitu selesai dengan acara memasak , Lala bergegas menyusul sang suami menuju lantai atas , begitu juga dengan indah nampak menyusul Surya yang kini sudah dengan pakaian rapih.


" Tolong di bereskan ya ." Ucapnya sebelum meninggalkan dapur.


" Baik buk ." Ucap bi asih dengan sopan.


Takkk


Taaakkkk


Tttaakkkkkk


Suara langkah dengan sepatu mengkilap menggema dalam kamar bernuansa alam , jendela kaca besar dengan gorden tinggi kini terbuka lebar menyuguhkan pemandangan asri dari halaman .


" Mas ." Ucap Lala begitu ia membuka pintu.


Senyum manis menghiasi wajah Daniel, tangannya yang semula memegang kerah leher kini di lepaskan nya lalu mendekat ke arah istri kecilnya .


" Tugas mu ." Ucapnya sedikit menunduk.


Tanpa bantahan Lala merapihkan kerah kemeja lalu mengikat dasi panjang Daniel dengan teliti.


Ccuupp


" mas , aku belum mandi ." Ucapnya malu.


" Mandi atau tidak kamu tetap cantik , bahkan lebih cantik jika keringat mengalir di dahi mu.


Ucap Daniel sembari mengusap nakal dahi juga leher Lala.


" Maass ,, ini sudah selesai mau kebawah dulu atau tunggu aku mandi sebentar ?" Tanya nya mengalihkan perhatian, jika tidak entah apa yang akan terjadi di pagi hari yang membuatnya tiba-tiba sedikit menghangat.


" Aku tunggu saja , jangan terlalu lama mandinya ." Ucap Daniel.


" Kalau lama ?" Tanya Lala sedikit mengejek.


" Akan ku mandikan ." Ucap Daniel lalu di balas langkah cepat Lala yang menutup pintu secara tergesa.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu , nampak Lala menyudahi mandi nya supaya semua tak terlalu lama menunggunya .


" Siiiallll ." Ucapnya kesal dengan wajah bingung .


Tokk


Ttoookkk


Ttoookkk


" Emm , sebentar mas ." Teriaknya sengaja nyaring agar terdengar.


" Bagaimana ini ?" Ucapnya lagi sembari menggigit jari.


" Kenapa lama sekali ? kau yakin tidak mengizinkan ku masuk hhmmmm ." Ucap Daniel tepat di balik pintu.


" eemmmm , sebentar mas akui."


" mencari handuk kimono mu ?" Ucap Daniel memotong ucapan Lala.


" Bisa mas ambilkan buat ku ?" Tanyanya kini dengan membuka celah sedikit yang menampakkan hanya sedikit matanya yang terlihat lalu menutupnya kembali.


Bbrrakk


" Bolehh , buka dulu pintunya ."


" Tidak mas , mas taruh saja di depan pintu.


Dengan nafas naik turun Lala mencoba memberanikan diri membuka sedikit lembar pintu kamar mandi , di ulurkan nya satu tangan sembari meraba tepat di depan pintu namun sayang ia tak bisa menggapainya sakera sedikit terlalu jauh .


" kenapa ?" Tanya nya lagi lalu mendekat .


Bbrrakk


" Terlalu jauh mas ." Ucapnya kini memelas.


" Ya ,baiklah ini sudah ." Ucap Daniel lalu di buka pintu dengan cepat .


Ggrreepp


" Aaaccchh ." teriak nyaring Lala lalu di tutup dengan lebutnya lu****n dari bibir Daniel , di tekannya tengkuk leher Lala dengan cepat .


Lembut kenyal juga hangat membuatnya sedikit lupa.


" Mmmaaa .. sssss ." Ucapnya terbatah dengan nafas panjang.


Ccuupp


" ayo ganti baju mu . Mereka pasti sudah menunggu ." Ucap Daniel lalu melepaskan pelukannya dengan senyum puas di bibirnya.

__ADS_1


" Hhuuufff ."


Hela nafas panjang sedikit lega nampak jelas terlihat , dengan cepat Lala berganti baju lalu menyusul ayah juga ibu nya yang pasti sudah menunggu.


Talk


Ttakkk


Tttaakkk


Turun mereka dari lantai dua , saling bergandeng dengan senyum merekah bak bunga yang baru saja terkena matahari.


" Pengantin baru memang beda ." Goda Indah pada Putri nya .


" Ibuuu ." Ucapnya manja lalu duduk berdekatan bersama Daniel.


" Pagi yah , Bu ." Sapa Daniel pada mertua nya .


" Pagi Nak" Balas Surya pada anak menantunya.


" Maaf sedikit terlambat ." Ucapnya berlanjut sedikit basa-basi lalu segera menyantap makanan yang telah di sediakan.


" Mau ini mas ?" Tanya Lala dengan lembut seperti apa yang ia lihat saat ibunya melayani ayah.


Senyum kedua orang tua nampak lebar , matanya seketika saling pandang , terangguk dengan mata berbinar.


Selesai dengan kegiatan sarapan pagi , nampak Lala turut beranjak , mengantarkan sang suami sampai depan pintu , bukan tak mau pergi bersama , hanya saja ada rapat bulanan yang harus dia hadiri , waktu terlalu pagi jika membawa Lala ikut bersamanya.


" Hati-hati mas ." Ucapnya lalu mencium punggung tangan Daniel.


" Iya , aku berangkat dulu ya ." Satu kecupan mendarat tepat di keningnya .


Begitu kendaraan yang membawa suami menghilang dari pandangan , Lala masuk kembali menuju meja makan , menyisakan dia dengan sang ibu.


" Sudah ?" Tanya Indah pada Putri nya.


" Sudah Bu ."


" Benarkah ? Sudah berapa bulan ?" Tanya Indah dengan wajah ayunya .


" Maksud ibu ?" Tanya Lala bingung .


" Sudah ada tanda-tanda belum?" Tanya nya lagi dengan lebih serius sembari menatap perut rata milik sang putri.


" Entah lah , mungkin belum ." Ucapnya kini tangannya terulur mengusap perutnya yang rata.


" Tidak apa-apa , ibu hanya bertanya jangan sampai membuat mu terbebani ya . Ibu juga butuh waktu mendapatkan mu dulu ." Ucap i dah lembut lalu memeluk erat tubuh Lala , gadis kecil yang membuat hidupnya lebih berarti.


" Terima kasih Bu ." Ucap Lala sungguh membalas pelukan hangat sang ibu.

__ADS_1


___________


__ADS_2