
" Selamat pagi Tuan ." Sapa asisten yang sedari tadi mengekor di belakangnya.
" Kau sudah mendapatkan jadwal nya ?" Tanya Pras lagi menoleh sebentar .
" Sudah tuan , tapi kita harus menunggu beberapa hari lagi ." Ucapnya yang membuat Pras berhenti dengan tiba-tiba.
" Aku tidak suka menunggu ." Ucapnya dengan tatapan tajam .
" Ss satu Minggu tuan , atasan mereka tengah bepergian untuk menyiapkannya ." Ucapnya cepat sedikit terbata.
Pras berjalan dengan langkah yang terdengar angkuh, detak langkahnya menggema di sepanjang jalan menuju ruangan di mana singgah sananya berada.
" Lihat saja apa yang akan ku lakukan Prayogo." Ucapnya dengan kedua tangan saling meremas.
__________
Pagi hari nampak tak seperti biasanya, Prayogo duduk dengan diam namun tidak dengan sang istri yang sibuk berbicara mengenai apa yang sudah di tetapkan . Menolak perjodohan mengenai Putrinya dengan pria dewasa yang bukan menjadi pilihannya.
" Mas , mas ini bagaimana sih , intan masih harus melanjutkan pendidikan nya . Belum lagi untuk memulai karir belum juga memikirkan masa depannya ." Ucapnya terus menerus.
" Paa , intan belum mau menikah ." Ucap Intan diselingi dentingan sendok garpu.
" Sudahlah , dia juga kaya bukannya kamu suka pria matang, dia juga punya banyak uang untuk mencukupi masa depan mu ." Kata Prayogo tak ambil pusing.
__ADS_1
" Tapi pa , kenapa tidak kak Andini saja kenapa harus aku ?"
" kakak mu juga sama , papa jodohkan dengan rekan bisnis yang lain . Jadi kalian sama-sama saling membantu . Tidak ada untuk tidak ada rugi ." Ucap Prayogo dengan nada tertahan.
" Justru kau yang lebih untung , tidak perlu bekerja lagi untuk jadi nyonya muda." Ucapnya lagi dengan menatap ke arah sang istri.
Hela nafas berat terasa menyesakkan, Prayogo nampak terlihat tenang dengan perasaan menggebu-gebu , di dorongnya kursi lalu bangkit berdiri berpamitan .
" Papa sudah selesai , kalian lanjutkan saja sarapannya ." Ucapnya lalu berlalu dari hadapan istri juga anak sambungnya.
Sepeninggalan Prayogo , Imelda nampak berbisik ,pada sang putri .
" Mama tidak akan ambil diam , kita harus bisa bersenang-senang tanpa harus menerima perjodohan mu ." Ucapnya yang di angguki cepat oleh intan.
" Intan sudah selesai ma , intan jalan dulu , mungkin intan pulang larut , ada yang perlu intan beli untuk membuat dokumentasi." Ucapnya seraya menyambar tas sandangnya berlalu meninggalkan Imelda.
Setibanya di kantor Prayogo di suguhkan beberapa laporan keuangan yang terus mengalami penurunan, dari berbagi divisi saling mengadu , membuatnya semakin tak karuan menanggapinya.
'' Astaga tuhan , kenapa harus seperti ini ." Keluhnya dengan mengacak-acak rambut yang kian memutih .
Tok
Tookk
__ADS_1
Ttoookkk
Ketukan pintu membuatnya terpaksa memasang wajah tangguh , merapikan sedikit penampilannya lalu mempersilahkan siapa yang berada di balik pintu kokoh itu.
" Masuk ." Serunya lalu pintu terbuka .
Ceklek
" Maaf tuan , ini laporan yang harus tuan periksa . Hari ini saya sudah mendapat dua kali panggilan dari asisten tuan Pras , beliau sangat meminta waktu tuan untuk bisa menemuinya ." Ucapnya pelan takut salah kata.
Hhhuuuffff
" Ya , terima kasih , apa kau sudah menjadwalkan nya , tapi jangan untuk waktu dekat ini , kita harus menemui investor yang cukup berpengaruh untuk perusahaan ." Ucapnya sembari menatap mata asisten nya.
" Baik tuan , yang jelas kita tidak bisa menolak lebih dari 1 Minggu ini tuan." Ucapnya lagi jujur .
Ancaman yang di berikan dari perusahaannya memang cukup menyita perhatian , satu-satunya investor yang masih menanamkan modalnya akan membuatnya mudah jika tidak segera menuruti keinginan mereka .
" Ya , apa masih ada yang lain?" .
" tidak tuan ."
Ucapnya undur diri , meninggalkan Presdir dengan berbagai masalah , entah pribadi maupun sosial.
__ADS_1
Hutang di mana-mana menjadikan hampir sebagian dari aset perusahaan ikut terjual hanya untuk menutupi hutang dari berbagai sumber.
_____________