
" Ok , mari kita lanjutkan kesenangan mu . kakak ." Ucap intan yang kini berdiri tepat di depan pintu masuk yang tak jauh dari posisi sang kakak.
Dengan lirikan mata seolah tengah berinteraksi dengan seseorang dari tempat gelap yang memang sudah sangat larut dan semua keluarga sudah meninggalkan tempat acara.
" Bagus ,, kita lihat bagaimana nasib mu setelah ini ." Ucapnya lagi menunggu waktu tepat untuk melaksanakan skenario yang telah di siapkan.
Andini nampak duduk sembari menyeruput kopi Yaang di pesannya, menikmati malam panjang dengan jari yang terinci cincin manis yang membuatnya tersenyum saat matanya tak sengaja menatapnya.
" Sayang , tunggu sebentar ya aku ke toilet sebentar." Ucap Alex pada Andini.
Andini mendongak mengangguk cepat sembari memamerkan deretan gigi yang rapi.
" Kamu jangan kemana-mana, apa perlu kita pindah meja di dalam ." Ucapnya lagi memastikan.
" Sudahlah , aku sudah besar lagi pula kak Alex hanya ke toilet ." Ucap Andini menepuk lengan Alex yang masih berdiri di hadapannya .
" Baiklah kalau begitu." Ucap Alex lalu berlalu meninggalkan Andini dengan wajah berseri memandang cincin yang terselip di jemari tangan nya .
Andini duduk sendirian menikmati suasana yang tidak bisa di jelaskan, sedih bercampur senang kini semua ada di benaknya .
__ADS_1
" Baik lah , kalian bisa mulai dari sekarang." Ucap Intan melalui sambungan telfon nya.
Tak jauh dari tempat nya duduk Andini melihat wanita dengan perut membuncit tengah berjalan sembari membawa entah apa yang ada di dalam plastik yang berukuran cukup besar . Diamatinya tanpa berkedip lalu Andini cepat berjalan meninggalkan semua barang yang ia bawa .
" Astaga ." Ucapnya lalu mendekat ke arah wanita yang kini tengah terduduk di atas tanah sembari merintih , mungkin ada rasa tak nyaman di perutnya.
" Maaf Bu , anda tidak apa ."
" Eemmmmmm eemmmmm ." Ucap Andini tertahan saat tiba-tiba ada yang membungkam mulut juga hidungnya menggunakan kain yang entah apa aroma yang ia hirup , yang jelas kain itu terasa lembab dengan bau yang sangat menyengat membuatnya sedikit merasa tak nyaman lalu samar-samar semua nampak berkelip dan. Andini tak sadarkan diri dalam dekapan pria berpostur tinggi gemuk dengan pakaian yang serba hitam.
" Bagus ." Ucap Intan mendekat lalu mengarahkan pada salah satu kendaraan yang siap membawa mereka menuju tempat dimana mereka harus mengantarkan Andini.
" Kau sudah merasakan bahagia bukan ? Dan sekarang saatnya kau mengakhiri kebahagiaan mu . Kakak ." Ucap intan menekan kata kakak dalam kalimatnya yang tidak mungkin di dengar oleh gadis cantik dengan gaun berwarna pich.
Beberapa orang suruhannya nampak diam dengan mimik wajah yang cukup menyeramkan , wajah garang dengan kulit cenderung gelap juga kumis yang nampak melencit.
Mobil melaju dengan cukup kencang , berhubung jalanan yang mulai melenggang karena waktu memang sudah sangat larut membuat mereka dengan leluasa melaksanakan aksinya.
Dua jam berlalu , nampak mereka mengurangi kecepatan , berbelok pada salah satu gedung dengan suasana suram , beberapa pohon tinggi nampak pula menutupi sebagian gerbang masuk yang mereka lalui .
__ADS_1
" Nona , kita sudah sampai ." Ucap salah satu pria bertubuh besar.
" Heh , kalian yakin tidak salah tempat ? ini .. ini kenapa gelap seperti ini , kalian jangan main-main ya ." Ucap Intan yang merasa takut dengan suasana gedung yang di ucapkan Pras.
" Benar nona , tuan Pras sudah menunggu kita di dalam sana ." Ucapnya dengan nada dingin dengan mengarahkan pandangannya pada salah satu cahaya yang tak begitu terang yang berada lebih dari lima lantai itu.
Glek
Susah payah Intan menelan ludahnya , lalu menatap ke arah Andini yang nampak masih terpejam tak sadarkan diri.
" Ya , aku percaya tapi awas kalau kalian berani macam-macam ya." Ucap Andini sedikit mengancam .
Di langkahkan nya kaki intan secara perlahan , mengikiti dari belakang dua pria dengan postur sangat besar jika di bandingkan dengan dirinya.
" Maaf kak , kalau tidak seperti ini , aku tidak mendapatkan uang tambahan . Papa sudah mengurangi jatah bulanan ku gara-gara kakak tidak segera menikah dengan nya ." Ucap Intan setengah berbisik bahkan hanya dia yang bis mendengarnya.
" Om , jalannya jangan cepat-cepat." Ucapnya menarik salah satu dari mereka.
_____________
__ADS_1