Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 10. Pengakuan Ronald


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 10


"Emang kamu tadi lihat Ning Annisa bersama seorang laki-laki itu di mana?" tanya Rizal penasaran.


'Mam_pus!' Kini giliran Rafael yang wajahnya yang memucat.


Rafael berusaha terlihat tenang agar teman-temannya tidak curiga. Dia pun memasang wajah pura-pura sedang berpikir. Aku tidak tahu tepatnya di mana, karena aku melihat mereka sambil berlalu," jawab Rafael dengan menyakinkan.


"Jadi, maksud kamu kalau Ning Annisa itu sudah punya calon suami?" tanya Ronald.


'Calon suami? Yang benar itu adalah sudah punya suami.' Rafael menggerutu dalam hatinya.


"Hmmm. Aku tidak tahu kalau dia itu calon suami atau sudah menjadi suami beneran. Yang jelas aku melihat Ning Annisa terlihat sedang berpelukan dengan mesra bersama laki-laki itu," balas Rafael sambil mengusap-usap dagunya.


Dada Ronald bagai terkena tusukan sembilu yang tajam. Sangat sakit, tetapi tidak terlihat adanya luka atau tusukan itu, yang ada hanya rasa sakit dan sesak.


Rafael merasa kasihan pada sahabatnya itu, tetapi menurut dia ini adalah yang terbaik. Daripada dia terus berharap pada perempuan yang sudah jadi istri orang lain.


"Begitu, ya. Aku doakan dia semoga pisah dengan laki-laki itu dan kelak akan menjadi milikku," ucap Ronald dengan senyum miring dan pancaran mata yang nanar.


Rafael emosi mendengar sahabat baiknya sendiri mendoakan perpisahan dirinya dengan Ning Annisa. Tanpa banyak kata dia langsung memberikan sebuah pukulan di pipi Ronald sampai terjatuh dari kursinya.


"Kyaaa_aak!" teriak beberapa siswa yang duduk di dekat meja Rafael dan Ronald.


"Rafael, kamu kenapa memukul Ronald?" tanya Rizal dengan histeris.


Terlihat ekspresi wajah Rafael yang marah. Sementara itu, Ronald memasang ekspresi wajah yang sebaliknya. Dia menganga karena sangat terkejut dan tidak tahu kenapa teman baiknya sampai melakukan hal seperti ini padanya.


Orang-orang yang ada di kantin pun melihat ke arah meja Rafael yang tiba-tiba ramai oleh jeritan. Kini semua mata tertuju ke sana.

__ADS_1


"Rafael, kenapa kamu marah dan tiba-tiba memukulkan tanganmu kepadaku?" tanya Ronald yang masih duduk di lantai.


"Itu untuk menyadarkan dirimu, agar kamu tidak sampai menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain. Biarkan saja perempuan itu bahagia dengan suaminya. Kalau kamu memang benar-benar cinta padanya. Seharusnya kamu doakan kebaikan untuk dia, bukan mendoakan sesuatu yang buruk untuknya!" bentak Rafael dengan suara yang tinggi.


"Apa Ronald mau menjadi seorang pembinor?" bisik seseorang yang tidak jauh di sana.


"Kayaknya Ronald itu seorang berondong dari tante-tante yang sudah punya suami," 


"Apa? Dia seorang berondong? Berarti dia suka sama yang tua-tua,"


"Bini orang itu sangat menggoda,"


"Yang tua, lebih menggoda."


Bisikan murid-murid yang ada di sana membuat Ronald marah bercampur malu. Semua itu karena ulah teman baiknya semenjak masih menggunakan popok.


"Siapa yang pembinor? Siapa yang merebut istri orang? Siapa yang jadi berondong tante-tante? Perempuan yang aku sukai adalah Ning Annisa, guru ekonomi kelas satu," bantah Ronald dengan bersuara keras.


Bagi Ronald sudah kepalang basah, berenang saja sekalian. Daripada di sebut yang tidak-tidak oleh orang lain. Lebih baik dia mengaku saja dengan jujur.


Semua orang yang ada di sana sangat terkejut mendengar pengakuan Ronald. Termasuk Ning Annisa sendiri yang ikut memperhatikan kejadian itu.


"Ya, aku akui menyukai dan mencintai Ning Annisa sejak beberapa bulan yang lalu. Setahu aku dia masih sendiri dan belum menikah. Jika, benar Ning Annisa sudah menikah, berarti dia sudah mengisi daftar riwayat hidupnya dengan kebohongan. Karena di sana jelas tertulis kalau dia seorang mahasiswi single yang sedang kuliah S2 dan saat ini sedang membuat tesis. Juga mengabdikan diri untuk mengamalkan ilmunya di sini," jelas Ronald dengan menatap pada orang-orang yang berdiri memperhatikan dirinya.


Ning Annisa sangat terkejut mendengar pengakuan Ronald barusan. Kini banyak orang yang ada di sana mengalihkan perhatian kepadanya. Dia sangat malu sampai menundukkan kepala.


Mata Ronald dan Rafael saling beradu belum juga Ronald mengeluarkan ucapannya lagi, bel masuk dan tanda berakhirnya istirahat berbunyi. Akhirnya, mereka semua bubar dengan perasaan masih penasaran kenapa Rafael sampai memukul Ronald.


Rafael sangat kesal kepada Ronald, dia tidak mau kalau kehidupan rumah tangganya nanti direcoki oleh sahabatnya sendiri. Dia berbuat begitu agar Ronald sadar diri kalau Ning Annisa sudah ada yang punya.


Selama jam pelajaran berlangsung Rafael dan Ronald saling mendiamkan. Hal yang tidak pernah terjadi dalam persahabatan mereka selama ini.


Suasana kelas menjadi hening selama sisa pelajaran hari itu. Bahkan guru pun merasa sangat aneh dengan keadaan di kelas itu.

__ADS_1


"Apa ada yang kalian tidak mengerti?" tanya guru pengajar, tetapi semua murid terdiam.


"Kalau begitu kalian kerjakan soal-soal, lalu kumpulkan!" perintah guru itu.


Semua murid baru mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka disuruh untuk mengumpulkan hasil pekerjaannya. Lalu, menyuruh ketua kelas untuk mengantarkan tugas itu di ruang guru.


Begitu kelas selesai, Rafael keluar kelas untuk mencari Ning Annisa. Dia ingin membeli peringatan kepada istrinya itu, agar jangan sampai jatuh ke dalam pesona Ronald.


'Cintaku sekarang ada di mana, ya?'


Rafael berjalan menulusuri lorong jalur kelas 1 tempat Ning Annisa biasa mengejar. Saat di depan kelas 1-2 pintu itu terbuka dan penampakan istrinya yang melangkah keluar.


"Astaghfirullahal'adzim. Ada apa?" tanya Ning Annisa.


"Aku mau membicarakan sesuatu yang penting," jawab Rafael.


Rafael pun membawa Ning Annisa ke ruang laboratorium yang ada di ujung lorong kelas satu. Setelah mereka masuk, Rafael menutup pintu itu agar tidak ada yang melihat mereka berdua di sana.


"Ada apa, sih? Kenapa harus bersembunyi seperti ini?" tanya Ning Annisa pada suami berondongnya.


"Aku mau mengingatkan kamu kalau Ronald benar-benar mencintaimu sudah dari beberapa waktu yang lalu. Aku harap kamu jangan menanggapi dia, jika Ronald berusaha mendekatimu," jawab Rafael.


"Tentu saja. Buat apa aku menanggapi perasaan laki-laki lain. Dia bukan suamiku, jadi tidak punya hak untuk cinta yang aku miliki," ucap Ning Annisa.


Mendengar ucapan istrinya ini membuat jantung Rafael serasa sedang berdisko dengan sangat kencang. Senyum melebar pun langsung terpasang dari paras pria campuran itu.


"Berarti hanya aku laki-laki yang berhak atas cintamu," bisik Rafael dan menarik pinggang Ning Annisa sampai menempel pada tubuhnya.


Ning Annisa yang terkejut dan gugup, berusaha melepaskan diri dari jerat dekapan suaminya. Bahkan saat ini wajah mereka berjarak kurang dari 5 sentimeter.


***


Ehem-ehem ... kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya kepada mereka berdua? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya aku yang lainnya.



__ADS_2