
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 20
Rafael memajukan kepala dan menjadikan bibir Ning Annisa sebagai sasaran. Dia ingin merasakan kelembutan bibir istrinya yang terlihat begitu menggoda.
CUP
Rafael berhasil mencium jari tangan Ning Annisa yang digunakan untuk menutup bibirnya. Mata Rafael melotot karena dia gagal mengenai sasaran. Terasa aura mencekam dari tubuh istrinya.
Ning Annisa mendorong wajah Rafael, lalu memutar tubuhnya dan mendorong sampai jatuh di atas tempat tidur. Posisi saat ini adalah Rafael telungkup di atas kasur dengan tangan terkunci di belakang punggungnya.
Sementara itu, Ning Annisa menahan dengan kuat kuncian itu sampai Rafael menyerah dan meminta maaf kepadanya.
"Berjanjilah kalau kamu tidak akan melakukan hal itu lagi tanpa seizin aku," ucap Ning Annisa dengan suara tegasnya.
"Iya, Cinta! Iya, aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti tadi tanpa seizin dari kamu," balas Rafael.
"Sayang, kita akan makan malamβ" Indira masuk ke kamar mereka di saat yang kurang tepat.
Indira memergoki sang menantu sedang berada di atas tubuh putranya. Tentu saja dia merasa senang karena hubungan keduanya sudah sampai sana.
"Ooops, mama salah masuk kamar." Indira pun dengan cepat menutup pintu kamar.
Baik Rafael maupun Ning Annisa yang sedang dalam posisi bikin orang salah paham, malah tercengang bercampur dengan perasaan terkejut dan malu. Ning Annisa pun melepaskan cengkraman tangannya.
Kini keduanya berdiri dengan perasaan canggung dan malu. Mereka sama-sama menundukkan kepala.
__ADS_1
"Aku mau ambil air wudhu," kata Rafael memecah kecanggungan mereka begitu mendengar suara adzan maghrib.
Ning Anisa pun menyiapkan baju koko dan sarung untuk Rafael. Begitu juga mukena untuk dirinya.
Mereka pun sholat Magrib bersama dan tentunya Rafael yang masih belajar mengikuti gerakan Ning Annisa. Lalu, mereka belajar mengaji sampai adzan Isya berkumandang.
***
Keluarga Rafael makan malam bersama di luar. Mereka menghadiri pembukaan sebuah restoran milik Regan yang baru saja dibuka malam ini.
Ning Annisa berpenampilan anggun dan menarik. Dia dan Rafael menggunakan pakaian couple yang sudah disiapkan oleh mertuanya.
"Aduh, Sayang. Mama tidak tahu kalau kamu makan di tempat umum begini masih harus memakai cadar. Mama tidak menyangka kalau penutup wajah itu ada banyak macamnya," kata Indira dengan penuh penyesalan karena tidak tanya-tanya dulu pada menantunya.
"Tidak apa-apa, kok, Ma. Aku bisa makan di dalam mobil saja," balas Ning Annisa.
Restoran itu sangat ramai oleh pengunjung dan ruang privasi tidak disediakan di sana. Ini yang menjadi 'PR' Regan untuk membuat restoran yang menyediakan ruang khusus.
"Tidak apa-apa, kok, Pa! Aku suka dengan dekorasi restoran ini. Begitu juga dengan menu makanan khas Nusantara dari berbagai daerah yang disajikan di sini," balas Ning Annisa.
Rafael pun mengusulkan untuk makan berdua di dalam mobil. Katanya biar terlihat romantis. Padahal dia tidak mau membuat istrinya kecewa.
Rafael selalu menyadari kalau dirinya benar-benar sangat beruntung bisa mendapatkan Ning Annisa sebagai pasangan hidup. Sebab, dia selalu menjaga dirinya dari pandangan orang lain terutama laki-laki yang bukan mahramnya.
'Betapa beruntungnya aku mendapatkan dirimu sebagai pandangan hidupku.'
Rafael dan Ning Annisa makan berdua di dalam mobil. Justru hal ini dimanfaatkan olehnya dengan berwajah dan ingin disuapi oleh gadis cantik ini.
"A_aaa." Rafael membuka mulutnya dan Ning Annisa pun menyuapinya.
__ADS_1
Keduanya saling melempar senyum. Ning Annisa tidak menolak saat Rafael minta disuapi olehnya. Justru baginya menyenangkan hati suami merupakan suatu ibadah. Dia bisa mengabulkan keinginan Rafael yang dirasa tidak akan merugikan dirinya.
"Cinta, aku juga ingin menyuapi kamu," ucap Rafael yang memang ngambil sendok yang ada di piring istrinya. Jadinya, mereka saling menyuapi satu sama lain.
Malam itu pun mereka habiskan waktu dengan perasaan bahagia. Bahkan tidur pun mereka sangat pulas dan tanpa sadar saling berpelukan.
***
Seperti malam sebelumnya Ning Annisa pun membangunkan Rafael untuk melakukan salat tahajud bersama. Setelannya dia mengajari ilmu dasar-dasar agama Islam. Dia melakukannya setahap demi setahap dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pemuda itu.
"Oh, iya. Ada yang mau aku tanyakan," kata Rafael.
"Apa itu?" tanya Ning Annisa.
"Apa setan itu juga menyembah Tuhan?" tanya Rafael.
"Setan itu adalah mahkluk Allah yang perbuatannya itu selalu melanggar perintah dari Allah," jawab Ning Annisa.
"Lalu, apa bedanya jin dan setan?"
"Jin adalah makhluk Allah yang diciptakan dari api. Mereka juga punya tugas seperti makhluk Allah lainnya yaitu untuk menyembah diri-Nya" jawab Ning Annisa dan dia menghela napasnya.
"Setan itu ada di dua golongan yaitu dari golongan jin dan golongan manusia," lanjut perempuan yang kini duduk berhadapan dengan Rafael.
"Apa? Jadi, ada juga setan dari golongan manusia!" pekik Rafael tidak percaya.
"Bukannya sudah tadi aku sebutkan kalau setan itu adalah makhluk Allah yang berusaha menyesatkan hamba-Nya dari jalan yang lurus sesuai perintah dari Allah," jelas Ning Annisa.
"Aku baru tahu. Berarti jika aku mengajak teman-temanku untuk berbuat sesuatu yang melanggar hukum dan perintah dalam agama, maka aku ini termasuk setan dari golongan manusia, dong?" Rafael memegang kepalanya dengan keduanya.
__ADS_1
***
Apakah Rafael akan mengajak teman-teman pada hal yang baik agar tidak termasuk golongan setan? Tunggu kelanjutannya, ya!