
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 14
Rafael menengadahkan kepalanya dan tersenyum lebar. Dia pun berkata, "Benaran, ya? Jika aku sudah bisa menjadi seorang imam sholat kamu. Maka, kita akan melakukan malam pertama kita," ucap Rafael dengan semangat.
"Tapi, ajari aku, ya!" pinta Rafael dengan memasang puppy eyes yang sangat menggoda di mata Ning Annisa.
"Iya aku akan mengajarimu cara-cara sholat dan bacaannya," kata Ning Annisa pada Rafael.
Rafael merasa senang karena istrinya tidak memandang rendah padanya. Meski dia itu masih bodoh akan ilmu agamanya. Setidaknya ini memberikan semangat yang positif untuk dirinya belajar dan mencari ilmu.
"Tapi sebelum itu aku punya keinginan," ucap Rafael dengan tatap mata yang tidak lepas dari istrinya.
Ning Annisa pun mengangguk tanda isyarat untuk Rafael untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin kamu punya panggilan sayang juga kepadaku," ujar Rafael.
Ning Annisa agak terkejut dengan permintaan Rafael ini. Dia juga sebenarnya sudah memikirkan hal seperti ini saat masak tadi. Melihat kedua mertuanya yang saling memanggil dengan mesra, membuat dirinya juga punya keinginan seperti itu. Meski saat ini dia belum mencintai Rafael. Setidaknya dia memanggil suaminya itu dengan panggilan yang baik dan penuh hormat.
"Kamu ingin dipanggil apa?" tanya Ning Annisa.
Rafael pun merasa bahagia. Kini senyum tampan terukir di wajahnya yang tengil.
"Panggil aku, Sayang," bisik Rafael dengan senyuman itu terus melekat pada parasnya.
Ning Annisa merasa merona dan panas pipinya. Dia tidak menyangka kalau suaminya ini meminta dirinya untuk memanggil seperti itu.
"Aku panggil kamu 'Ayang' saja, ya?" lirih Ning Annisa dengan pipi yang merona semakin jelas.
Rafael menjadi gemas melihat pipi chubby istrinya yang bersemu merah itu. Rasanya dia ingin menciumnya.
"Ya, boleh. Coba aku ingin mendengar kamu panggil aku dengan sebutan itu!" pinta pemuda yang kini bersedekap tangannya di dada.
"A-ayang," lirih Ning Annisa sangat pelan.
__ADS_1
Perempuan itu merasakan jantungnya bertalu-talu. Ini pertama kalinya dia memanggil seseorang dengan seperti ini. Sebelum-sebelumnya dia tidak pernah punya panggilan khusus pada laki-laki manapun.
"Panggil aku sekali lagi, Cinta!" pinta Rafael yang merasakan banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
"Ayang," panggil Ning Annisa lagi. Kini muka dia berubah merah padam. Dia merasa sangat malu.
***
"Cinta, bolehkah aku mencium kamu … di pipi saja," kata Rafael dengan tatapan memohon.
Mendengar permintaan suaminya itu, Ning Annisa jadi kepikiran sebuah ide. Dia berharap hal ini bisa menjadi penyemangat Rafael dalam belajar agama Islam.
"A-yang boleh mencium pipiku, jika hafal surat Al Fatihah," balas Ning Annisa.
Rafael mengangakan mulutnya. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan mengajukan sebuah syarat.
"Kalau begitu ajari aku bacaan surat itu," pinta Rafael dengan malu-malu.
Bukannya dia tidak tahu surat Al Fatihah. Hanya saja dia merasa bacaannya belum fasih.
Lalu, Ning Annisa pun melantunkan bacaan surat Al Fatihah dengan diawali Ta’awwudz (A’udzu billahi minasy syaitanir rajim) dengan suaranya yang merdu. Hal ini malah membuat Rafael terpesona, bukanya mengikuti bacaan itu.
"Alḥamdu lillāhi rabbil'ālamīn (Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam).
"Ar raḥmānir raḥīm (Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang).
"Māliki yaumid dīn (Pemilik hari pembalasan).
"Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn (Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).
"Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm (Tunjukilah kami jalan yang lurus).
"Sirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ ḍāllīn ((Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat padanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat).
Ning Annisa pun mengakhirinya dengan bacaan tasdiq (shadaqallahul azhim).
"Suara istriku sangat indah. Aku benar-benar terpesona," puji Rafael.
__ADS_1
Sebenarnya Ning Annisa merasa sangat senang mendengar pujian dari suaminya. Namun, saat ini dia sedang punya misi untuk mengajari Rafael, jadi harus berusaha tegas.
"Coba kamu ulangi bacaan tadi!" perintah Ning Annisa.
Rafael mematung. Dia lupa apa yang sudah diucapkan oleh Ning Annisa tadi karena dia malah terpesona oleh suaranya.
"Bismillahir-rahmanir-rahim
Al-hamdu lillahi rabbil-'alamin
Ar-rahmanir-rahim
Maliki yaumid-din
Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in
Ihdinas-siratal-mustaqim
Siratallazina an'amta 'alaihim gairil-magdubi 'alaihim wa lad-dallin."
Rafael mengulangi bacaan surat Alfatihah dengan terbata-bata dan panjang pendeknya masih salah (anggap saja begitu).
Ning Annisa pun tersenyum. Meski belum sempurna, tetapi untuk ukuran orang yang tidak pernah mengaji sudah lumayan.
"Mulai besok Ayang harus mulai belajar mengaji. Agar bacaan Al-Qur'an-nya semakin bagus," kata Ning Annisa.
"Jadi, apa sekarang aku boleh mencium … pipi kamu?" tanya Rafael dengan menahan senyum takut di tolaknya.
Ning Annisa pun mengangguk dengan perasaan malu. Dia memejamkan matanya saat Rafael mendekatkan wajahnya.
CUP
Rafael mencium pipi chubby istrinya dengan lembut. Ini pertama kalinya dia mencium seorang perempuan. Perasaan yang dia rasakan saat ini adalah deg-degan, tetapi merasa sangat senang.
Begitu juga dengan Ning Annisa. Dia merasa jantung berdebar tidak menentu detakannya. Ini pertama kalinya bagi dia dicium oleh seseorang yang bukan dari keluarganya.
'Ya Allah, jangan sampai aku pingsan!'
__ADS_1
***
Bisikan hati siapa itu? 😆. Apakah akan pingsan beneran atau tidak? Tunggu kelanjutannya, ya!