Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 36. Akhirnya Perkelahian


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 36


Saat Rafael dan ketiga temannya hendak pulang karena menurut mereka semua sudah berakhir. Suara teriakan menghentikan langkah keempat pemuda itu.


"Tunggu! Mau ke mana kalian?" Beberapa anak buah Demian menghadang langkah Rafael dan teman-temannya.


"Ya, tentu saja kamu mau pulang," balas Rafael kesal saat para anak buah Demian saling berjalan ke arahnya.


Kini mereka berempat di kepung oleh belasan anak buah Demian. Mereka juga membawa balok kayu dan pemukul softball.


"Tidak bisa. Kalian harus mempertanggungjawabkan atas apa yang menimpa Demian," kata salah seorang yang berdiri paling depan.


"Kenapa aku harus yang bertanggung jawab atas apa menimpa Demian. Itu semua karena ulah dari perbuatannya sendiri dan oleh kalian juga," ujar Rafael tidak gentar dengan kelakuan anak buah musuh bebuyutan yang sukanya main keroyokan.


"Serang!" komando orang tadi.


Tanpa ba-bi-bu lagi, anak buah Demian langsung melancarkan serangan kepada Rafael dan teman-temannya. Mereka pun mengayunkan balok kayu dan tongkat softball yang mereka pegang ke arah Rafael, Ronald, Rizal, dan Anton.


Rafael dan ketiga temannya yang merupakan anak-anak konglomerat sudah dilatih ilmu beladiri sejak kecil. Tujuannya untuk melindungi diri mereka saat diculik atau saat ada orang yang ingin mencelakainya karena saingan bisnis.


Rafael menahan tangan orang yang menyerangnya. Dia pun menendang dengan menggunakan lutut ke perut orang itu. Lalu merebut balok kayu yang sedang dipegang olehnya itu. Kini pemuda itu punya alat yang bisa dijadikan senjata.

__ADS_1


Hal yang sama dilakukan oleh Ronald. Dia juga menahan tangan orang yang menyerangnya, lalu membanting badan orang itu dan merebut tongkat softball sedang dipegangnya untuk dijadikan senjata.


Rizal juga menahan serangan lawannya. Dia menarik tongkat softball yang dipegang sang lawan dan menendang perut orang itu sampai terlempar jauh ke belakang. Senyum menyeringai tercipta di wajah tengilnya, karena berhasil merebut senjata lawan. Tanpa menunggu lama dia pun memberikan serangan balik kepada orang-orang itu. Pemuda yang memakai jaket hitam ini pun mengayunkan tongkat ke arah tubuh lawannya dengan gerakan cepat. Ternyata dalam waktu kurang dari satu menit, sudah banyak lawan yang dibuatnya tidak berdaya tergeletak di jalan.


Berbeda dengan Anton yang kondisi tubuhnya sejak awal sudah babak belur. Dia hanya bisa menahan serangan yang dilancarkan kepadanya. Untung ada Rafael yang berdiri di dekatnya sehingga dia bisa terlindungi.


Pukulan dari balok kayu dan tongkat softball saling beradu di antara mereka. Untungnya lawan mereka bukan ahli bela diri.


Para musuh itu hanya bisa berkelahi karena bergerak secara insting saja. Tanpa tahu taktik cara menyerang sekaligus bertahan. Ini mempermudah Rafael dan teman-temannya untuk melawan mereka.


Meski Rafael dan teman-temannya ahli beladiri, tetap saja mereka juga terkena serangan dari lawannya. Saat mereka menyerang secara mengeroyok dan bersamaan memukulnya.


Pelipis dan dan sudut bibir Rafael terluka akibat pukulan balok kayu. Dia tidak terima wajah tampannya terluka. Maka, membalas dengan memberikan serangan yang lebih gila pada musuh-musuhnya.


"Dasar orang-orang tidak berguna dan tidak tahu diri! Beraninya hanya mengeroyok kami dengan menggunakan senjata. Sementara kami, hanya berempat dengan tangan kosong, tanpa membawa senjata sama sekali," amuk Ronald yang wajahnya terdapat beberapa luka.


"Dasar sekumpulan para pengecut!" hardik Rizal yang kini sedang memvideo dan mengunggahnya di sosial media miliknya. Dia paling suka melakukan hal yang dianggapnya akan menjadi viral dikalangan anak muda.


Anton sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Tadi dia memaksakan diri untuk berkelahi. Dia tipe orang yang tidak suka menjadi hambatan atau beban orang lain.


"Anton!" teriak Rizal yang berdiri di sampingnya saat pemudi itu jatuh tak sadarkan diri.


"Kita cepat bawa pulang atau ke rumah sakit!" titah Ronald yang mobilnya dekat dari sana. Rizal pun menggotong tubuh Anton dan memasukkan ke mobil Ronald.


"Hei, kalian. Tolong aku!" teriak Yasmin yang masih duduk di kursi dengan terikat.

__ADS_1


Setelah Rafael membuka ikatannya, datang sebuah mobil. Lalu, terlihat turun dua pemuda yang merupakan Kakak dan sepupu dari Yasmin.


"Apa-apaan ini?" bentak laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Rafael.


"Adik kamu di culik oleh Demian dan dijadikan sandera," balas Rafael sambil menatap tajam ke arah laki-laki itu.


"Rafael, ayo!" teriak Ronald.


"Iya." Rafael pun melirik ke arah Yasmin dan berkata, "Sudah ada Kakak kamu. Berarti aman sekarang."


Setelah itu Rafael pun berlari ke arah mobilnya yang ada beberapa bagian yang penyok. Dia pun langsung melajukan mobilnya mengikuti mobil Ronald dan Rizal.


***


Jam dinding sudah menunjukan pukul 22.30.00 dan Ning Annisa masih mondar-mandir di kamarnya. Sesekali dia ke balkon kamar untuk melihat apa Rafael sudah pulang atau belum


"Ya Allah, ke mana suamiku pergi? Semoga dia selalu berada di dalam lindungan-Mu." Ning Annisa bergumam sambil menatap sendu pintu gerbang.


Saat Ning Annisa keluar dari kamar mandi, terlihat pintu kamar ada yang membuka dari luar. Masuklah sosok yang sejak tadi membuatnya khawatir.


"Astaghfirullahal'adzim. Rafael!" teriak Ning Annisa saat melihat wajah suaminya.


***


Apa yang akan Rafael katakan kepada istrinya? Bagaimana sikap Ning Annisa mengetahui keadaan wajah suaminya yang babak belur? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2