Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 16. Sholat


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 16


'Astaghfirullahal'adzim.' Ning Annisa terganggu ke khusyuk-an sholatnya gara-gara sarung Rafael yang melorot. Namun, dia masih melanjutkan sholatnya.


'Aduh, malah lepas lagi sarungnya.' Rafael bingung harus apa sekarang.


'Ya Allah, maafkan aku. Ini tidak sengaja.'


Rafael langsung menarik dan mengikat kembali sarungnya. Dia buru-buru ngikuti gerakan Ning Annisa yang kini melakukan gerakan sujud.


Namun, saat rakaat kedua, lagi-lagi sarung itu terlepas ikatannya. Rafael pun kembali mengikatkan sarungnya dan melanjutkan sholatnya.


Setelah salam, Ning Annisa melirik ke arah suaminya. Rasanya dia ingin tertawa lepas, tetapi takut membuat malu dan marah Rafael.


"Ayang punya ikat pinggang, nggak?" tanya Ning Annisa.


"Punya," jawab Rafael.


"Gunakan itu untuk mengencangkan sarungnya agar tidak melorot terus!" titah Ning Annisa.


Rafael pun segera mengambil sabuk koleksinya yang dia pakai untuk sehari-hari. Setelah itu dia kembali sholat mengikuti istrinya.


Setelah selesai sholat, Ning Annisa mengajari bacaan dzikir yang pendek-pendek terlebih dahulu. Lalu, dia mengajari mengaji Rafael untuk mengenal huruf Hijaiyah. Mereka belajar mengaji sampai adzan subuh berkumandang.


Kali ini sarung Rafael tidak ada drama melorot. Hanya saja setelah ruku rakaat kedua, Ning Annisa membaca qunut. Dia lupa memberi tahu pada Rafael tadi tentang ini. Jadinya, setelah ruku Rafael langsung sujud dan kembali berdiri lagi mengikuti istrinya mengangkat kedua tangan dan mendengarkan bacaannya itu dan mengucapkan 'Aamiin'.


'Aduh, lupa. Kemarin 'kan sewaktu di masjid juga ada bagian begini.'


Setelah selesai sholat Rafael ingin sekali bertanya pada Ning Annisa, kenapa sholat Subuh itu berbeda dengan yang lainnya. Namun, ke ingin tahuannya itu harus dia tahan sampai istrinya selesai berdzikir.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ning Annisa menatap suaminya.


"Kenapa sholat Subuh setelah ruku tidak langsung sujud, tapi malah mengangkat kedua tangan seakan sedang berdoa?" tanya Rafael.


Ning Annisa tersenyum tipis. Dia senang kalau pemuda yang terkenal pembuat onar itu, bertanya sesuatu yang tidak dia ketahui dan membuatnya penasaran.


"Itu namanya qunut, ibadah sunah. Mau memakai boleh, tidak juga, ya nggak apa-apa. Hanya saja qunut itu memiliki banyak keutamaan," jawab Ning Annisa.


"Apa saja itu?" tanya Rafael lagi karena penasaran. Saat ini dia sedang merasa kehausan akan ilmu agama.


"Aku akan bacakan dulu doa qunutnya," kata Ning Annisa.


Allahummah dini fii man hadait, wa 'afini fiman 'afait, wa tawallani fi man tawallait, wa barik li fi ma a'thait, wa qini syarra ma qadhait, fa innaka taqdhi wa la yuqdha 'alaik, wa innahu la yazillu man wa lait, wa la ya'izzu man 'adait, tabarakta rabbana wa ta'alait, fa lakal hamdu a'la ma qadhait, wa astagfiruka wa atubu ilaik, wa shallallahu 'ala sayyidina muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.


(Artinya: "Ya Allah tunjukkanlah aku sebagaimana mereka yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi. Berikanlah keberkahan kepadaku pada apa yang telah Engkau berikan. Selamatkanlah aku dari bahaya kejahatan yang telah Engkau tentukan. Engkaulah yang menghukum dan bukan dihukum. Tidak hina orang yang Engkau jadikan pemimpin. Tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi. Bagi-Mu segala pujian di atas apa yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-MU. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan karunia atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.")


Keutamaan Membaca Doa Qunut


Memberikan petunjuk. "Allahummahdinii fii man hadaiit" pada doa qunut subuh memiliki arti sebagai suatu permintaan seorang hamba kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk. Hal ini berarti Anda selalu mohon petunjuk kepada Allah SWT saat melafalkannya dalam salat.


Mendapatkan perlindungan. "Wa’aafinii fii man ‘afaiit" yang artinya "Berilah hamba keselamatan sebagaimana hamba-Mu yang lain yang sudah diberi keselamatan". Allah SWT memberikan perlindungan dan memberikan keselamatan untuk hamba-Nya yang memohon.


Meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang didapat. Pada bacaan qunut terdapat doa "wabaariklii fiimaa a’thoiit", artinya "berkahilah kepada aku apa yang telah Engkau kasihi". Kalimat ini menjelaskan bahwa Allah akan selalu memberikan berkah kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur.


Terhindar dari penyakit. Dalam doa qunut ada kalimat "wa’aafini fii man hadaiit" yang diyakini memberi perlindungan berbentuk keselamatan. Bentuk keselamatan di sini bisa berupa kesehatan, di mana setiap hamba Allah SWT yang bertakwa akan mendapatkan perlindungan dari berbagai penyakit.


(Aku copas di Mbah gogel karena lagi ... 😑 Kalau ada salah, komen, ya. Nanti aku benarkan).


"Kalau kamu berjamaah, ucapan 'Aamiin' saat imam membacanya," jelas Ning Annisa.


***


Setelah berbincang-bincang mengenai berbagai macam-macam hal tentang yang menjadi dasar agama Islam, Ning Annisa pun pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Namun, ternyata ada koki dan pelayan yang sedang menyiapkan semua itu.

__ADS_1


"Ya, nggak jadi buat sarapan," lirih Ning Annisa.


"Ada apa, Sayang?" tanya Indira yang datang menghampiri menantunya.


Ning Annisa pun menoleh ke arah wanita paruh baya yang berdandan anggun. Tidak terlihat kalau ibu mertuanya itu sudah berkepala empat dan hampir berkepala lima.


"Eh, Mama. Tadinya mau buat sarapan, ternyata sedang di siapkan oleh koki," jawab Ning Annisa.


"Sayang, kamu tidak perlu repot-repot melakukan pekerjaan apapun di rumah ini. Tugas kamu itu buat cucu yang banyak untuk mama," kata Indira dengan semangat dan tentu hal ini membuat Ning Annisa sangat malu.


"Cinta~, ikut aku, yuk!"


"Tuh, tugas kamu itu buat anaknya si Rafael dan habiskan duitnya," bisik Indira. Lagi-lagi Ning Annisa merasakan panas di pipinya.


Rafael yang baru selesai berolah raga pun mendekati istrinya. Dia mengajak Ning Annisa jalan-jalan di halaman rumahnya sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi.


"Cinta, kamu jangan merasa canggung tinggal di rumah ini. Di sini itu sangat sepi. Papa dan Mama sebentar lagi juga akan pergi. Mereka itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dibandingkan dengan aku di sini. Eh, aku juga sebenarnya jarang tinggal di rumah juga. Tidur pun kadang di apartemen," ucap Rafael jujur.


"Aku harap mulai sekarang kamu jangan pergi ke mana pun tanpa mengajak aku. Sekarang kita sudah menjadi pasangan suami istri. Sudah selayaknya kalau kita selalu ada satu sama lain, apalagi di saat kita membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati dan pikiran kita. Aku tidak mau kalau kamu sampai berbuat sesuatu yang disesali di kemudian hari," tukas Ning Annisa.


"Aduh, bagaimana kalau teman-teman ingin ikut menginap? Kadang mereka itu datang ke sini atau ke apartemen aku, untuk ikut tidur atau kabur dari rumah saat keadaan rumah mereka genting," ucap Rafael sambil menepuk jidatnya.


"Lalu, kamu sendiri?" tanya Ning Annisa.


"Aku sama. Kadang tidak pulang-pulang ke rumah berhari-hari. Bahkan pernah hampir dua bulan aku tidak pulang ke rumah," jawab Rafael.


Ning Annisa terperangah saat mendengar mendengar pengakuan itu. Dia baru tahu kalau ada hal seperti itu di pertemanan suaminya. Selama ini dia tidak pernah berpikir kalau mereka tidak akan kabur jika ada masalah di rumahnya.


'Mereka itu masih labil emosi dan pikirannya. Apa Rafael juga begitu, ya?'


***


Apakah Rafael akan berubah bersikap dewasa karena sudah menikah? Atau masih tetap seperti dulu? Tunggu kelanjutannya, ya?

__ADS_1


__ADS_2