
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 21
Rafael sekarang jadi lebih bersemangat dalam belajar baik itu pelajaran sekolah maupun agama. Ini semua tidak lepas dari peran Ning Annisa. Setiap Rafael mencapai suatu prestasi atau nilai yang bagus, maka istrinya itu akan memberikan hadiah. Apalagi kalau bukan memeluk atau mencium pipinya.
"Cinta, kalau aku ingin mencium bibir kamu, prestasi apa yang harus aku capai?" tanya Rafael sambil memeluk tubuh Ning Annisa.
"Hafal juz amma, baru kamu boleh mencium bibir aku," jawab Ning Annisa.
Rafael semakin mengeratkan pelukannya. Dalam hatinya dia merasa merana. Punya istri, tetapi tidak bisa mencium bibirnya. Sementara itu, teman-temannya yang lain mereka sudah sering berciuman dengan pacar mereka masing-masing.
"Bisa-bisa sampai rambut aku beruban nggak akan pernah bisa merasakan ciuman di bibir kamu, Cinta," lirih Rafael mengasihani dirinya sendiri.
"Aku percaya kalau Ayang pasti bisa. Karena kamu adalah seorang pemuda yang hebat!" ucap Ning Annisa dan menguraikan pelukannya.
Mendapat pujian seperti itu dari istrinya membuat perasaan Rafael melambung tinggi. Senyum bahagia tersungging, sorot mata berbinar, dan tentu saja dalam perutnya terasa banyak kupu-kupu yang beterbangan.
Saat ini keduanya saling memandang satu sama lain. Tentu saja dengan pikiran yang berbeda.
'Ya Allah, itu bibir rasanya ingin aku sosor sekarang juga. Gemes banget melihatnya.' (Rafael)
'Ya Allah, semoga suami hamba-Mu ini selalu diberikan petunjuk dan semangat dalam menjalankan ibadah kepada-Mu.' (Ning Annisa)
"Apa aku terlihat seperti itu di matamu, Cinta?" tanya Rafael tidak percaya.
__ADS_1
"Iya tentu saja. Buktinya hari ini nilai ulangan kamu dapat nilai sempurna. Dan hadiahnya boleh memeluk aku selama lima menit," jawab Ning Annisa.
"Kalau dalam sehari aku dapat tiga nilai sempurna, berarti aku bisa mendapatkan tiga hadiah?" tanya Rafael.
Ning Annisa terdiam sejenak, lalu dia pun mengangguk. Betapa terkejutnya dia saat Rafael mengangkat tubuh dan memutarkan tubuh mereka.
"Ayang, turunkan aku!" pinta Ning Annisa sambil memeluk.
"Terima kasih, Cinta. Aku akan semakin bersemangat untuk mendapatkan nilai sempurna," ucap Rafael dengan tawa bahagia.
Rafael pun menurunkan tubuh perempuan itu dan mencium keningnya. Dunia terasa indah bagi dirinya sekarang. Kalau dulu dia tidak merasakan hal seperti ini. Hidupnya terasa hampa, tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan dirinya. Kedua orang tua yang katanya menyayangi dia, selalu saja disibukan oleh bisnis dan segudang pekerjaan yang lain. Teman-teman yang selalu bersenang-senang dengannya, tidak bisa memberikan kehangatan kasih sayang dan perhatian. Namun, semua itu dia dapatkan setelah menikah dengan Ning Annisa.
***
Rafael juga selalu mengajak dan mengingatkan ketiga temannya untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik, demi kebaikan dan kebahagiaan mereka. Meski kadang selalu terjadi perdebatan di antara mereka. Namun, mereka merasa iri pada Rafael yang kini hidupnya lebih bahagia dan selalu optimis.Β
"Aku punya kepikiran untuk mengisi liburan semester kali ini untuk tinggal di pesantren. Penasaran saja kehidupan santri itu seperti apa?" ucap Rafael.
"Aku dengar-dengar kalau jadi santri itu nggak enak. Bangun sebelum subuh, aktivitas sangat padat, mengaji dan menghafal Al-Qur'an, lalu tidur hampir tengah malam," ujar Anton.
"Mandi harus antri atau rebutan saat ingin ke kamar mandi. Lalu, makan juga rebutan, tidur di kamar dengan banyak orang. Aku yakin tidak akan kerasan tinggal di sana," sahut Rizal yang rebahan sambil membaca.
"Aku penasaran kehidupan di pesantren, tetapi tidak mau ikut kegiatan di sana," kata Ronald akhirnya setelah sejak tadi diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tadi pagi Rafael berbicara dengan ayah mertuanya. Kini dia mempunyai jadwal menelepon Kiai Akbar untuk belajar agama kepadanya setiap pagi setelah selesai olahraga. Meski cuma sekitar 15 menit setiap hari, tetapi itu sangat bermanfaat dan berarti bagi dirinya. Mertuanya juga menyuruh datang ke pesantren untuk belajar agama dan bersilaturahmi dengan keluarga istrinya.
"Aku mau coba belajar agama di pesantren saat liburan nanti. Terserah kalian mau ikut atau enggak. Mumpung masih muda, aku ingin melakukan hal-hal bermanfaat yang baru dan belum pernah aku lakukan," ujar Rafael.
__ADS_1
Terlihat ketiga teman lainnya sedang memikirkan keinginan Rafael. Satu sisi mereka juga sangat penasaran dengan kehidupan di pesantren. Namun, mereka tidak mau jika harus menghafal banyak ayat Alquran maupun hafalan ilmu agama lainnya.
***
Rafael dan teman-temannya pergi ke cafe baru yang dibuka beberapa bulan yang lalu. Setelah menikah, dia mulai menjalankan usahanya sendiri. Mulai dari membuka cafe untuk tempat nongkrong anak muda. Bengkel motor dan mobil, dia mempekerjakan anak-anak muda lulusan SMK otomotif. Salon khusus laki-laki, biasanya cukur rambut, keramas dan creambath.
"Eh, lihat ada Yasmin!" seru Anton dan ini tentu membuat Rafael kesal.
"Mau apa dia kesini?" tanya Ronald.
"Entahlah. Dia hampir setiap hari datang ke sini. Setelah tahu kalau cafe ini milik aku," jawab Rafael.
"Rafael Sayang!" teriak Yasmin sambil melambaikan tangan.
'Coba yang begini itu Ning Annisa. Pastinya aku akan senang.'
Ada pesan masuk ke handphone milik Rafael.
***
ππRafael tidak mau termasuk setan dari golongan manusia, maka dia selalu mengajak teman-temannya pada berbuat baik ππ.
Apa isi pesan itu? Siapa yang sudah mengirim pesan itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik. Cus, kepoin karyanya.
__ADS_1