Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 37. Doa Ning Annisa


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 37


Rafael memasukan mobilnya ke garasi dan langsung berlari ke kamar tidurnya. Dia tidak mau kalau sampai sang istri melihat keadaannya sekarang. Tangannya perlahan mendorong gagang pintu dan membuka pintu dengan pelan. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat lampu kamar masih menyala terang.


"Astaghfirullahal'adzim. Rafael!" teriak Ning Annisa saat melihat wajah suaminya.


Pemuda itu terlonjak karena terkejut mendengar suara istrinya. Dia pun merutuki dirinya.


'Pasti dia akan marah.' (Rafael)


Ning Annisa menatap nanar ke arah suaminya. Dia melihat adanya bekas luka yang tertutup oleh perban yang memar ditutupi oleh plester. Perempuan bersurai gelombang itu pun berjalan dengan cepat ke arah Rafael.


Keduanya beradu pandang dan saling menelisik. Ning Annisa melihat ada beberapa luka di wajah suaminya. Sementara itu, Rafael melihat netra sang istri memancarkan sorot khawatir dan kesal di waktu yang bersamaan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Rafael dengan suara yang mencicit.


"Kamu pikir aku akan mudah tidur, sementara suami aku pergi entah ke mana dan mau melakukan apa?" jawab Ning Annisa dengan dingin. Dia sangat kesal, marah, kecewa, dan kasihan kepada Rafael saat ini.


"Maaf," kata Rafael dengan penuh penyesalan karena sudah membuat istrinya khawatir.


"Lain kali kalau mau pergi bicara dengan jelas mau ke mana dan mau melakukan apa. Biar aku tidak terus memikirkan dirimu," kata Ning Annisa setelah dia membalikan badannya.


Baru saja Ning Annisa melangkah dua langkah. Tubuhnya sudah ditahan dalam pelukan Rafael. Pemuda itu memeluk dengan erat, tetapi terasa lembut dan nyaman.


"Aku janji besok-besok kalau keluar akan bicara sejelas mungkin kepadamu. Tadinya, aku takut kalau Cinta tidak akan mengizinkan aku pergi untuk menolong Anton yang sedang disekap oleh Demian," jelas Rafael dengan tangan yang masih dengan kuat merengkuh tubuh istrinya.


"Maksudnya?" Kini Ning Annisa membalikan badan dan saling berhadapan masih dalam pelukan suami tengilnya itu.


"Tadi siang Demian datang ke tempat aku dan teman-teman biasa belajar bersama. Lalu, dia datang dan menantang untuk melakukan balapan liar. Tentu saja aku menolak karena aku sudah janji pada istriku yang cantik ini akan merubah kebiasaan buruk. Namun, tadi dia mengirim pesan kalau Anton sedang berada dalam sekapan geng Demian. Tentu saja aku datang untuk menyelamatkan dia. Aku harus menang balapan malam ini untuk menyelamatkan temanku. Ternyata, Demian sangat terobsesi untuk bisa mengalahkan aku, sehingga dia melakukan berbagai cara untuk bisa mengalahkan aku. Dia juga membenturkan mobilnya ke mobil aku. A-h, mobil kesayangan aku kini bentuknya penyok," jelas Rafael dan tangannya melepaskan pelukan itu beralih menjambak rambutnya sendiri.


Ning Annisa hanya mendengarkan cerita sang suami. Dia juga pasti akan melakukan hal yang sama dengannya, jika hal itu juga menimpa dirinya.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan Anton sekarang?" tanya gadis yang kini memegang kedua pipi Rafael dengan lembut.


"Dia dirawat di rumah sakit. Badannya banyak mengalami luka memar karena dia di keroyok oleh mereka," jawab pemuda yang kini kembali memeluk tubuh istrinya.


Mata Ning Annisa berkaca-kaca saat melihat sudut bibir suaminya juga terluka. Dia berpikir pasti sakit jika dipakai untuk berbicara.

__ADS_1


"Ini sakit?" tanya Ning Annisa.


"Iya," jawab Rafael dengan nada sedikit merengek.


Perempuan yang memakai setelan piyama itu mengusap lembut ujung alis suaminya di mana ada perban yang menutupinya, sambil membacakan doa. "Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman." ("Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.")


Berbagi ilmu sedikit meski aku sering mengamalkan doa nomor 1 dan 5.



Berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA



Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman.


Artinya, “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H]).



Rasulullah SAW membaca doa ini ketika sedang meruqyah salah seorang sahabat



Artinya, “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H])



Doa yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak 7 kali dihadapan orang sakit



As’alullahal azhima rabbal ‘arsyil ‘azhimi an yassfiyaka.


Artinya, “Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H]).



Doa ini yang dibaca oleh Rasulullah SAW ketika menjenguk sahabat Salman Al-Farisi RA sebagaimana riwayat Ibnu Sunni berikut ini.


__ADS_1


Syafakallahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘afaka fi dinika wa jismika ila muddati ajalika.


Artinya, “Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H])



Rasulullah SAW menganjurkan membaca doa ini kepada mereka yang merasakan nyeri sambil memegang bagian yang nyeri tersebut



Bismillah, (dibaca 3 kali).


Artinya, “Dengan nama Allah.”


A‘udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru, (dibaca 7 kali).


Artinya, “Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.”


***


Rafael menutup matanya. Dia meresapi bacaan doa untuknya yang dibacakan oleh sang istri. Hatinya terasa tenang dan hangat. Dia benar-benar merasakan telah diperhatikan oleh orang yang sangat spesial dalam hidupnya. Setiap doanya selalu terselip rasa syukur karena berjodoh dengan Ning Annisa.


'Alhamdulillah. Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang membuat aku selalu merasa bersyukur bisa hidup di dunia ini.' (Rafael).


"Bagaimana rasanya sekarang?" tanya perempuan itu sambil menatap suaminya.


"Alhamdulillah, sudah tidak cenat-cenut lagi," jawab Rafael.


Ning Annisa pun tersenyum senang.


"Cinta, yang ini juga, dong!" Rafael menunjuk pada bibirnya.


Pipi Ning Annisa merona. Dia pun berkata dengan suaranya yang pelan, "Itu kamu obati sendiri."


"Tidak bisa. Harus sama Cinta diobatinya," rengek Rafael.


CUP


Ning Annisa pun memberikan ciuman kilat pada Rafael. Namun, pemuda itu tidak terima jika ciumannya hanya singkat begitu. Dia pun menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan dan langsung menciumnya mesra, sampai terdengar suara yang menghentikan kegiatan mereka.


***

__ADS_1


Bunyi apakah itu 🤔🤔? Tunggu kelanjutannya, ya! 😁😁


__ADS_2