Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 48. Manjanya Rafael


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 48


Rafael berjalan dengan cara mengendap-endap di halaman belakang ndalem. Pemuda itu hendak menemui sang istri di kamar tidurnya. Namun, saat dia sedang berjalan sambil celingukan ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang, dia malah dikagetkan oleh orang lain.


"Maling! Maling!" Orang itu memukul badan Rafael memakai sapu lidi.


"Ampun! Aku bukan maling," teriak Rafael sambil melindungi kepalanya dan berlari menjauhi orang itu. 


Akan tetapi orang itu tidak mau melepaskan Rafael begitu saja. Dia mengejar pemuda itu terus sambil memukulkan sapu lidi pada badan kepalanya. Saat ini laki-laki remaja itu berlari ke arah samping kanan bangunan ndalem. Dia berusaha berlari mendekati kamar istrinya lewat jendela.


"Ning Annisa, tolong aku!" teriak Rafael berharap istrinya itu mendengarkan teriakannya.


"Hei, enak saja panggil anak gadis orang!" Orang itu begitu pantang menyerah untuk memberi pelajaran pada laki-laki asing.


Sementara itu, Ning Annisa yang sedang menunggu ke datangan Rafael, duduk di atas tempat tidurnya. Tiba-tiba saja dia mendengar samar-samar ada yang memanggil namanya. Dia pun beranjak dari sana.


"Ning Annisa, tolong aku. Ada orang gila!" terdengar suara teriakan suami dari gadis yang kini hendak membuka pintu kamar tidurnya.


"Ayang?" gumam perempuan bergamis polos. 


Ning Annisa pun berlari ke arah jendela karena sumber suara terdengar di sebelah sana. Dia pun membuka jendala itu lebar-lebar sampai terasa terpaan angin malam kepadanya. Perempuan itu pun celingukan dan melihat Rafael sedang kejar-kejaran dengan temannya.


"Dasar maling. Ngaku kamu!" teriaknya dengan napas terputus-putus.


"Enak saja. Aku mau bertemu dengan Ning Annisa," balas Rafael dengan napas ngos-ngosan.


"Hajar, hentikan! Dia mau menemui aku." Ning Annisa merasa kasihan melihat suaminya dikira maling. Namun, di satu sisi dia merasa terhibur oleh kelakuan kedua orang itu yang berkejaran di malam hari sambil membawa sapu lidi.


Orang yang dipanggil Hajar itu pun berhenti. Rafael juga akhirnya menghentikan laju larinya. Kedua orang itu melihat ke arah Ning Annisa yang sedang berdiri di dekat jendela dan menatap ke arah keduanya.


'Ning Annisa membuka cadarnya. Di sini 'kan, ada seorang laki-laki asing.' (Hajar)


Rafael pun berlari ke arah istrinya, tetapi sebelumnya dia meleletkan lidahnya kepada perempuan yang bernama Hajar itu. Senyum mengembang diberikan oleh sang suami pada perempuan yang kini tertawa melihatnya.


'Ning Annisa tertawa?' Hajar melihat heran pada temannya itu. Sebab, Ning Annisa bukanlah gadis yang suka umbar pesona kepada orang lain. Apalagi ini kepada laki-laki yang dirinya tidak dikenal.


"Ayang, kenapa kamu bisa di kejar-kejar sama Hajar?" tanya Ning Annisa sambil menahan tawanya.

__ADS_1


"Perempuan itu menyangka aku ini maling, saat akan masuk ke ndalem lewat belakang," gerutu Rafael sambil memeriksa luka-luka lecet akibat dari pukulan Hajar.


Tawa Ning Annisa akhirnya pecah juga sampai air matanya ke luar. Dia mengusap kepala suaminya agar tidak marah lagi.


"Kasihan sekali, ayangnya aku ini." Ning Annisa malah menggoda Rafael dengan menggelitik dagunya.


"Masuk ke kamar, aku akan obati luka-luka itu!" perintah gadis berjilbab merah marun.


"Cinta," panggil Rafael.


"Iya," balas Ning Annisa.


CUP 


Rafael mencium singkat bibir istrinya. Dia gereget karena perempuan itu tadi malah mentertawakan dirinya.


Pipi Ning Annisa merona. Meski sekarang mereka sudah sering berciuman. Namun, tetap saja dia merasa malu dan deg-degan.


"Ayang, nanti ada yang melihat kita," desis adik dari Gus Fathir itu mengingatkan suaminya.


Rafael pun celingukan ke kanan dan kiri memeriksa apa ada orang atau tidak. Dia merasa tenang karena tidak ada siapapun di sana.


"Nanti di kira maling beneran, loh!"


Mau tidak mau Rafael pun masuk ke ndalem lewat pintu belakang. Tentu saja kedua mertuanya menyambut dengan senang.


"Mau ke mana, nih?" goda Kiai Akbar sambil tersenyum simpul saat Rafael mencium tangan kedua mertuanya.


"Cinta, katanya rindu sama aku, Abah," ucap Rafael dusta. Dia malu kalau dia sendiri yang sebenarnya ingin menemuinya.


"Abah, sepertinya selain putri kita, ada juga yang memendam rindu juga. Katanya dia tidak bisa tidur kalau tidak memeluk Ning Annisa," lanjut Bu Nyai Khadijah sambil tersenyum tipis.


"Abah dan Umma, seperti tidak pernah muda saja. Apalagi mereka ini masih pasangan pengantin baru. Pastinya sedang hot-hotnya," tambah Gus Gibran yang kebetulan sedang berada di rumah kedua orang tuanya.


"Astaghfirullahal'adzim, ternyata ada Gus Gibran juga." Rafael pun mencium tangan kakak iparnya ini.


Gus Gibran menelisik wajah Rafael yang terdapat beberapa luka. Selain itu rambutnya acak-acakan.


"Kamu habis dari mana? Kenapa penampilan kamu seperti ini?" tanya lelaki yang kini berusia menginjak kepala empat.


Rafael bingung harus menjawab apa. Tidak mungkinkan dia mengaku kalau tadi sudah disangka maling dan dikejar-kejar oleh seorang perempuan.

__ADS_1


"Ayang, kenapa lama? Ayo, aku obati dulu luka-lukanya." Ning Annisa membuka pintu kamar tidurnya.


"Loh, kamu sudah tahu kalau suami kamu terluka?" tanya Gus Gibran sambil menatap penuh selidik kepada pasangan itu.


Ning Annisa sempat melihat ke arah Rafael. Dia bisa melihat kalau suaminya itu meminta jangan menceritakan kejadian yang terjadi tadi.


"Iya, Mas. Makanya aku minta suamiku ke sini untuk diobati," jawab Ning Annisa dan langsung membawa Rafael ke kamarnya.


"Kenapa meski membawa dia masuk ke kamar segala? 'Kan, bisa mengobati di sini juga," lanjut Gus Gibran.


"Kamu itu suka usil. Biarkan saja, toh, mereka juga sudah jadi pasangan halal," balas Kiai Akbar menjawab keusilan putra sulungnya.


***


"Ini sakit, nggak?" tanya Ning Annisa sambil mengoles obat anti septik pada luka-luka lecet yang ada di wajah dan kedua tangan Rafael.


"Sakit," adunya merengek.


"Kasihan sekali suaminya aku ini. Sini aku kasih vitamin biar cepat sembuh," kata Ning Annisa, lalu memeluk tubuh Rafael.


"Masih ada yang sakit," rengeknya lagi.


"Hah!" Ekspresi wajah Ning Annisa mengaga.


'Ini anak kalau sifat manja lagi kambuh seperti ini, rasanya ingin aku karungin dan bawa pergi jauh saja.' (Ning Annisa)


"Mana yang sakit?" tanya Ning Annisa dan Rafael menunjuk pada bibirnya.


'Ish, modus ini bocah.' (Ning Annisa)


CUP


Ning Annisa mencium bibir suaminya. Namun, saat hendak melepaskan dirinya. Rafael menahan tengkuk perempuan itu dan memperdalam ciuman mereka. Ketika keduanya terbuai akan sentuhan penuh kasih sayang itu. Ada seseorang yang melihat perbuatan mereka di balik kaca jendela yang lupa di tutup lagi godennya oleh si pemilik kamar.


***


Siapakah orang yang ada di balik kaca jendela itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya yuk, baca, juga karya aku yang lainnya juga.


__ADS_1


__ADS_2