
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 57
Rafael dan Ning Annisa saling menatap dalam pelukan hangat itu. Lalu, saling mendekat dan saat bibir mereka tinggal satu sentimeter akan saling menyentuh. Terdengar pintu kamar diketuk dari arah luar.
'Siapa, sih! Ganggu saja.' (Rafael)
Ning Annisa pun beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu. Ternyata ada Gus Fathir sedang berdiri di sana.
"Ada apa, Mas Fathir?" tanya Ning Annisa.
"Rafael jangan terlalu lama di sini, Ketua kobong sudah mencarinya," jawab Gus Fathir.
"Iya, Mas. Akan aku suruh dia kembali ke kobong," ucap Ning Annisa.
Ning Annisa menutup kembali pintu kamar dan jalan ke arah tempat tidur. Terlihat Rafael sedang memandangi dirinya.
"Mas Adam sudah mencarimu, sebaiknya Ayang kembali ke kobong," suruh Ning Annisa kepada Rafael.
Rafael pun berdiri dan memeluk istrinya. Mau tidak mau dia harus kembali.
"Aku akan selalu merindukanmu," bisik Rafael.
"Belajar yang benar dan rajin agar bisa mendapatkan ilmu yang banyak dan bermanfaat," balas Ning Annisa.
Rafael merenggut, dia tidak menyukai istrinya akan bicara seperti itu. Dia pun gemas dan mencium bibir istrinya sebelum pergi.
"Doakan aku agar menjadi orang yang benar dan mengerti akan ilmu agama," balas Rafael begitu melepaskan ciumannya.
"Setiap doaku selalu menyebutkan nama kamu. Agar suami aku ini menjadi seorang imam yang mampu pemimpin aku dan keluargaku agar selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Allah," balas Ning Annisa.
"Makin cinta, deh, sama istriku ini!" Rafael memeluk tubuh Ning Annisa dan menciumi pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Sudah sana pergi! Nanti teman-temanmu yang lain mencari lagi," titah perempuan berjilbab warna pink.
"Assalamualaikum, Ning Annisa. Semoga terhindar dari mimpi buruk," ucap Rafael lalu mengecup singkat bibir istrinya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Suamiku tersayang." Pasangan suami istri itu pun berpisah dengan perasaan tenang dan bahagia.
***
Keesokan harinya, para peserta pesantren kilat memulai pelajaran mereka setelah selesai sholat Dhuha. Berbeda dengan para santri umumnya yang belajar di ruangan kelas. Para santri dadakan ini belajar di ruang luas seperti masjid, aula, atau di lapangan terbuka. Tergantung guru yang memberikan pelajaran. Sebab, mereka tidak akan suka oleh peraturan ketat lainnya.
Saat ini Ustadz Azka sedang memberikan materi kepada 100 anak remaja dari berbagai kalangan dan usia SMP dan SMA, antara 12-18 tahun. Kebanyakan peserta pesantren kilat itu anak-anak yang masih belajar dasar agama. Tentunya ilmu yang diberikan pun masih sekitar Rukun Islam, Rukun Iman, belajar ilmu tajwid, ilmu fikih, dan ilmu tarikh.
Ustadz Azka memberi pelajaran ilmu tarikh, pelajaran yang bikin kebanyakan para santri mengantuk. Sebab, menceritakan kisah sejarah Islam di masa lalu. Berbeda dengan anak-anak yang suka mendengar kisah sejarah, pastinya akan bersemangat seperti Rizal dan Anton. Keduanya mendengarkan dengan antusias kisah pertama kalinya Nabi Muhammad Saw, mendapatkan Wahyu, meski itu sudah mereka ketahui sejak masih kecil. Akan tetapi cara penyampaian Ustadz Azka yang menarik membuat mereka senang.
Sementara itu, Ronald dan Rafael terkantuk-kantuk karena semalam mereka begadang. Membicarakan tentang sesuatu yang antara bermanfaat dan tidak bermanfaat untuk mereka bahas.
"Rafael, surat apa yang diterima oleh Rasulullah untuk yang pertama kalinya?" tanya Ustadz Azka pada pemuda yang menundukkan kepala sejak awal pelajaran dimulai.
Tidak ada pergerakan dari Rafael, Rizal pun menyiku temannya itu agar bangun. Ternyata benar saja, Rafael yang sedang tertidur pun akhirnya bangun.
"Kamu ditanya, tuh!" bisik Rizall.
Orang-orang yang duduk di dekatnya menatap ke arah suami Ning Annisa ini. Nyawa yang masih belum terkumpul semua, masih berada di antara dunia nyata dan dunia mimpi. Membuat Rafel kelimpungan tidak tahu meski jawab apa, karena tidak tahu apa yang sudah ditanyakan tadi oleh gurunya di depan.
"Sepertinya kamu tidak mendengarkan pelajaran yang saya sampaikan," ucap Ustadz Azka.
"Maafkan saya, Ustadz Azka. Karena sudah ketiduran di saat Anda memberikan pelajaran," aku Rafael jujur.
"Kalau boleh, mohon ulangi lagi pertanyaannya!" pinta Rafael.
'Sudah kepalang tertangkap basah, jujur saja sekalian.' (Rafael)
"Aku tanya surat pertama yang diterima oleh Rasulullah?" kata lelaki itu dengan suaranya lebih tinggi dari biasanya.
Rafael cukup terkejut saat mendengar suara tinggi, laki-laki yang biasanya bicara dengan lemah lembut dan sopan. Namun, dia mengerti karena sudah berbuat salah.
__ADS_1
"Surat Al-Alaq ayat 1-5," jawab Rafael.
"Coba kamu bacakan dan terjemahkan!" perintah Ustadz Azka, kini dengan suaranya yang lembut.
Rafael pun memulai dengan membaca taawudz dan melanjutkan membaca surat Al-Alaq dari ayat 1-5.
Iqra` bismi rabbikallażī khalaq
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"
Khalaqal-insāna min 'alaq
Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."
Iqra` wa rabbukal-akram
Artinya: "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,"
Allażī 'allama bil-qalam
Artinya: "Yang mengajar (manusia) dengan pena"
'Allamal-insāna mā lam ya'lam
Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Terlihat Ustadz Azka puas dengan jawaban Rafael. Dia menduga kalau pemuda itu tadi hanya tertidur sebentar.
"Ustadz Azka, ini Ronald juga tertidur. Apa nggak dikasih pertanyaan juga?" tanya Rafael sambil menunjuk temannya.
'Biar nggak aku saja yang dikasih pertanyaan.' (Rafael tertawa dalam hatinya)
***
Akankah Ronald juga mendapatkan pertanyaan dari Ustadz Azka? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1