Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 58. Belajar Adab


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu


***


Bab 58


"Ustadz Azka, ini Ronald juga tertidur. Apa nggak dikasih pertanyaan juga?" tanya Rafael sambil menunjuk temannya.


"Ronald," panggil Ustadz Azka.


Ronald yang masih tidur langsung mendapat sikutan dari Rafael yang duduk di sampingnya. Membuat pemuda ini terkejut dan langsung berteriak.


"Kamu tidur?" Ustadz Azka kini sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


Sangat terlihat jelas wajah Ronald yang baru bangun tidur. Dia pun hanya tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Sebaiknya kalian semua jangan suka begadang. Tidurlah tepat waktu dan bangun sesuai waktu yang sudah ditentukan. Agar kalian tidak tidur saat jam pelajaran berlangsung," ucap Ustadz Azka.


Semua anak yang ada di sana dia mendengarkan ucapan dari guru mereka ini, memang benar adanya. Meski kebanyakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sebab, pada kenyataannya usia mereka suka melakukan begadang dan bangun siang. Ditambah saat di sekolah selalu tidur saat guru menerangkan pelajaran.


"Rafael … Ronald, sama kalian berwudhu dulu dan kembali lagi ke sini!" titah lelaki yang memakai baju muslim tangan tiga perempat.


"Ustadz Azka, bolehkah kami juga berwudhu ada mencuci wajah karena sangat ngantuk sekali?" pinta Revaldi.


Ustadz Azka tahu kalau pemuda ini yang kemarin berkelahi dengan Rafael dan teman-temannya. Lalu, dia pun mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu boleh pergi berwudhu atau mencuci muka, setelah Rafael dan Ronald kembali ke sini," balas guru itu masih dengan senyumannya.


Terlihat jelas dari sorot mata Revaldi yang kecewa. Sebenarnya dia hanya ingin membuat perhitungan dengan Rafael yang sudah membuatnya kesal.

__ADS_1


***


Setelah selesai pelajaran tarikh, mereka belajar ilmu akhlak yang diberikan oleh Gus Fathir. Dia mau minta semua muridnya keluar masjid dan memilih belajar di pelataran. Mereka bisa melihat pemandangan di luar, agar tidak suntuk. Bahkan laki-laki itu memberikan waktu 5 menit untuk mencuci muka atau berjalan-jalan di sekitar sana.


"Seorang muslim harus memiliki adab yang baik. sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Begitu juga oleh para sahabat dan para tabi'in." Gus Fathir memberi materi dan semua anak-anak remaja itu mendengarkan.


"Kita sebagai seorang muslim harus memiliki adab. Karena itu adalah dasar yang membedakan orang yang berkelakuan baik dan tidak." Gus Fathir mengajar sambil duduk di lantai sama dengan para santri itu.


"Minimal ada 5 dasar adab atau akhlak mulia yang harus melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari setiap muslim. Apa saja itu? Apa kalian tahu?"


Beberapa murid ada yang jawaban pertanyaan dari Gus Fathir. masih ada yang benar dan masih kurang tepat.


"Pertama, ini hal yang paling mudah untuk kalian lakukan, yaitu saling tersenyum. Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu. (HR. At-Tirmizi No. 1879)"


"Kedua." Gus Fathir mengacungkan jari jempol dan telunjuknya.


"Yaitu, menebar salam dan bertegur sapa. Mengucapkan salam merupakan sebab terwujudnya kesatuan hati dan rasa cinta di antara sesama muslim, sebagaimana kenyataan yang kita temukan. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Muslim No. 81)


"Yang ketiga adalah menjauhi prasangka. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain."(QS. Al-Hujurat: 12)


Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian prasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah memata-matai, mencari-cari kesalahan atau kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.


"Jauhilah prasangka. Sebab, prasangka adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian mencari-cari kesalahan, janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling marah, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Al-Bukhari No. 6229)


"Lalu yang keempat adalah menjauhi sifat dengki dan benci. Dari Abu Hurairah radhyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Kalian jangan saling mendengki, jangan saling memata-matai, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya.


Takwa itu di sini beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap orang muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya. (HR. Muslim No. 2564)


"Dan yang kelima adalah toleransi terhadap perbedaan pendapat. Seperti yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafii kepada Yunus ash Shadafi yang terkenal dengan nama Abu Musa, "Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah? (Siyar A lam an-Nubala , adz-Dzahabi, 10/16)"

__ADS_1


Pembawaan cara pengajaran yang santai dan diselingi tanya jawab membuat mereka larut dalam pelajaran itu. Bahkan satu setengah jam tidak terasa sudah mereka lewati. 


"Kalian boleh beristirahat sebelum melaksanakan sholat berjamaah Zuhur. Jangan keluyuran melewati batas area pesantren, ya. Kalau bisa kalian masih berada di kawasan asrama putra," kata Gus Fathir setelah mengakhiri pelajarannya.


***


"Kita jalan-jalan ke sebelah lapangan, yuk! Lumayan, loh, bisa cuci mata. Kadang para santri putri tidak memakai cadar, jika sedang berada di area asrama putri. Dari lapangan itu kita bisa lihat mereka," ajak salah seorang teman Rafael yang tinggal satu kobong dengannya.


"Cantik-cantik nggak?" tanya Anton.


"Banyak yang cantik dan bening," jawabnya.


Banyak anak-anak yang tertarik ikut dengannya. Lalu mereka pun berlarian ke arah lapangan sepak bola. Agar bisa diam-diam melihat ke arah asrama putri, meski jarak mereka jauh tetapi ada kemungkinan para santri putri itu juga menonton para santri putra yang sedang bermain sepak bola atau bola basket.


"Kamu mau ikut?" tanya Rizal pada Rafael.


"Tidak. Aku memilih tidur saja, sambil menunggu waktu adzan Zuhur. Nanti tolong bangunkan aku! Jika belum bangun setelah adzan berkumandang," pinta Rafael sambil membaringkan tubuhnya.


Rizal pun mengangguk, lalu dia mengalihkan perhatiannya kepada Ronald. Dia pun bertanya hal yang sama para sahabatnya ini.


"Aku juga mau tidur, masih ngantuk. Tolong bangunkan aku nanti, ya!" pinta pemuda yang kini merapikan bantalnya agar nyaman saat dipakai.


Selain Rafael, di ruangan itu ada beberapa orang yang sudah tertidur pulas. Kebanyakan mereka belum terbiasa tidur malam dan bangun saat masih dini hari.


"Baiklah kalau begitu aku memilih bermain bersama anak-anak yang lain di lapangan," ucap Rizal dan pergi dari Kobong menyusul teman-teman yang lainnya.


Tidak lama kemudian datang Revaldi dan beberapa temannya. Mereka masuk ke kobong secara diam-diam. 


***

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan oleh Revaldi dan teman-temannya di Kobong Rafael? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2