
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 53
Rafael dan Ronald sedang berdiri di lapangan tempat santri putra suka bermain sepak bola. Tadi sesaat sebelum mereka berjamaah salat Zuhur Ronald minta Rafael untuk menemuinya di lapangan.
"Ada apa?" tanya Rafael.
"Boleh tidak aku memukul wajahmu yang menyebalkan itu?" jawab Ronald dengan senyum miring.
Rafael mengangkat sebelah ujung bibirnya. Dia tidak suka dengan candaan temannya ini.
"Cepat katakan saja ada apa atau aku yang akan kamu keluar kamu itu?"
"Jawab dengan jujur semua pertanyaan yang akan aku ajukan kepadamu," balas Ronald.
Rafael yang berdiri saling berhadapan, menatap sejenak pada sahabatnya itu. Lalu, dia pun menganggukkan kepalanya.
"Apa hubunganmu dengan Ning Annisa?" tanya Ronald dengan tatapan matanya terarah pada wajah sang sahabat.
"Hubungan dalam hal apa yang kau tanyakan?" Rafael malah balik bertanya.
"Semuanya. Bukannya sejak dulu kita tidak pernah bermain rahasia," jawab Ronald.
Ya, itu benar. Rafael dan Ronald tidak ada yang pernah dirahasiakan dari mereka. Hidup sebagai anak tunggal dan orang tua yang sama-sama sibuk dengan pekerjaannya, membuat keduanya saling berbagi dalam hal suka maupun duka.
"Akan aku katakan semuanya. Asal saja kamu bisa menjaga mulutmu itu," ucap Rafael.
Ronald berdecih sambil bertolak pinggang. Dia merasa kesal kepada temannya ini, seakan dirinya bermulut ember yang suka mengumbar kehidupan orang lain.
"Kamu seakan tidak pernah tahu aku yang sebenarnya," geram pemuda berbaju koko putih.
Siapa yang hanya menyaring. Dia paling suka menjahili temannya ini.
"Aku dan Ning Annisa, dulu terjebak di dalam perpustakaan semalaman. Saat kamu ditemukan kepala sekolah menuntut kami untuk dinikahkan, demi menjaga nama baik sekolah dan keluarga."
"Apa? Kapan kejadian itu berlangsung?" Ronald sangat terkejut mendengar cerita ini.
__ADS_1
"Sekitar setengah tahun yang lalu. Aku lihat Ning Annisa yang sedang ada di perpustakaan masuk ke ruangan khusus. Karena penasaran aku pun masuk ke ruangan itu juga. Ternyata pintu ruangan khusus itu rusak dan tidak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya kami pun terjebak di sana sampai keesokan harinya. Sebenarnya Gus Fathir yang sedang mencari adiknya, ikut memergoki kami saat itu," ucap Rafael dan berbisik di akhir kalimatnya.
Terlihat mulut Ronald menganga. Dia tidak menyangka, hanya gara-gara terkurung di dalam ruangan khusus yang di perpustakaan, sahabatnya itu harus menikah dengan gadis pujaan hatinya.
"Lalu, kenapa kamu tidak jujur saat di kantin di waktu itu?" tanya Ronald setelah bisa menguasai dirinya.
"Apa kamu bodoh! Kantin itu 'kan, di lingkungan sekolah," balas Rafael dengan gemas akan ketidak pekaan sahabatnya ini.
Ronald pun manggut-manggut dan berkata, "Benar juga."
"Lalu?" Ronald meminta Rafael untuk lanjut bercerita.
"Ya, seiring dengan berjalannya waktu hubungan kami berdua semakin dekat dan akhirnya saling menyukai," balas suaminya Ning Annisa ini.
"Jadi, Ning Annisa menyukai dirimu juga?" tanya Ronald yang dalam hatinya terasa tersayat.
"Iya. Kita berdua saling menyayangi dan mencintai," jawab Rafael.
Ronald merasakan dadanya direm_as dengan kuat. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Maaf," kata Rafael dengan nada lemah.
Ronald yang memalingkan wajahnya kembali menatap sang sahabat . Dia agak terkejut mendengar ucapan Rafael ini.
"Iya. Mungkin saja kamu adalah lelaki yang memang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya," kata Ronald dengan senyum yang dipaksakan.
"Aku juga benar-benar mencintainya," aku Rafael.
"Aku tahu perasaanmu itu dari cara menatapmu kepadanya. Apalagi cara menciummu yang panas seperti itu," sindir Ronald dan merasa puas saat melihat terkejut di wajah Rafael.
Mata Rafael terbelalak dengan mulut terbuka. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu pernah memergoki dirinya sedang berciuman dengan sang istri.
"Ka-kapan kamu mau lihat kamu sedang berciuman?" tanya Rafael dengan gagap dan malu.
Ronald tertawa terkekeh, saat melihat ekspresi wajah Rafael. Seperti orang yang sedang kepergok maling.
"Semalam saat aku mencarimu. Aku tidak sengaja lewat di depan jendela kaca kamar Ning Annisa. Saat itu aku sangat shock melihat kamu dengan dia berciuman dengan sangat mesra," jawab pemuda yang sedang patah hati ini.
"Ja-di ini alasan kamu marah terhadapku sejak semalam?" tanya Rafael.
__ADS_1
"Iya."
***
Setelah kesalahpahaman dirinya dengan Ronald selesai. Masalah baru muncul pada Rafael.Â
Saat sore hari dia berjalan-jalan di kompleks pesantren. Saat itu dirinya sedang bosan karena mandi harus antri. Sambil menunggu giliran dia pun berkeliling asrama putra.
"Hei, kau!" panggil salah seorang santri putra yang sama dengannya mengikuti kegiatan pesantren kilat. Namun, berbeda Kobong dengan Rafael.
"Ya, ada apa?" tanya Rafael sambil menatap wajah pemuda itu.
"Aku dengar tadi kamu adalah orang yang mengalahkan tim basket dari kelompok kami," jawab si pemuda remaja yang seusia dengannya.
Rafael kemudian teringat kejadian setelah pertandingan dengan Ronald tadi berakhir. Ada sekelompok anak remaja yang menantang dirinya, untuk bermain. Meski Rafael ingin menolak ajakannya itu, tapi ada waktu 15 menit sebelum mereka sarapan. Selain itu, teman-temannya juga sangat antusias. Maka mereka pun bermain meski hanya sebentar dan hasilnya kelompok Rafael menang.
"Oh, yang tadi pagi."
"Kamu sekolah di mana?" tanya laki-laki itu.
"Kamu tidak sopan sekali. Seharusnya kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu, baru bertanya yang lainnya," ucap Ronald.
"Aku Revaldi, kamu Rafael, 'kan?"
"Senang bisa kenalan dengan kamu. Iya, aku Rafael dari SMA ALEXANDRIA," jawab Rafael jujur.
"Waw, kebetulan sekali. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu," kata Revaldi.
Rafael tidak mengerti maksud dari ucapan laki-laki yang ada di depannya ini. Dia merasa tidak kenal sama sekali dengan dirinya.
"Apa kamu lupa dengan pertandingan basket di GOR Sri Dewi satu tahun yang lalu?"Â
Banyaknya pertandingan basket yang diikuti oleh Rafael membuat dia lupa. Jadinya dia hanya menggelengkan kepala.
"Saat itu sekolah kalian sudah mempermalukan sekolah kami. Aku yang sedang terkapar di rumah sakit pun merasa sangat kesal dan marah terhadap kalian. Rasanya ingin mengulangi kembali pertandingan itu."
Meski laki-laki itu sudah banyak bicara, Rafael sama sekali tidak ingat. Jadi dia hanya manggut-manggut saja.
"Ayo kita tanding ulang di sini sekarang!"
__ADS_1
***
Akankah Rafael menerima tantangan dari Revaldi? Atau menolaknya karena saat ini mereka sedang berada di lingkungan pesantren? Tunggu kelanjutannya, ya!