Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 22. Kedatangan Gus Fathir


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 22


Rafael buka pesan yang masuk ke nomor handphone-nya. Dia tersenyum lebar saat mengetahui siapa si pengirim pesan.


^^^Pulangnya jangan terlalu sore!^^^


Lalu, dia membalas pesan dari istrinya itu. Tentu saja dengan gaya lebay ala anak ABG.


Kenapa Cinta? Kamu sudah sangat merindukan diriku yang tampan ini!


Tidak lama kemudian ada balasan masuk. Senyum Rafael semakin merekah.


^^^Ada Mas Fathir datang main ke rumah.^^^


Mendapat pesan balasan seperti itu membuat Rafael terkejut. Dia bingung harus berbuat apa nanti di depan kakak ipar.


'Gawat! Aku harus bagaimana ini? Bagaimana jika nanti aku diinterogasi oleh Gus Fathir?'


Teman-teman Rafael yang ada di sana, melihat dia dengan tatapan aneh. Mereka penasaran dengan chat yang membuat Rafael panjang bak rambutnya sendiri.


"Siapa yang kirim pesan?" tanya Rizal yang sejak tadi memperhatikan suami dari Ning Annisa.


"Orang dari rumah," jawab Rafael.


"Memang ada kejadian apa di rumah? Kenapa kamu terlihat gugup?" tanya Anton yang selalu merasa kepo dengan keadaan orang lain.


"Ada tamu penting yang berkunjung mencari aku," balas Rafael.


"Rafael," sapa Yasmin dengan senyum manis di bibirnya.


"Aku pulang duluan!" ucap pemuda berwajah campuran bule.


Kedatangan Yasmin membuat Rafael segera mau balikan badannya dan sekarang keluar dari cafe. Tentu saja diikuti oleh teman pemuda itu juga. Mereka pun memilih untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Hei, kenapa kalian selalu bersikap seperti ini kepadaku?" teriak Yasmin sambil mengikuti mereka.


Rafael pun langsung menaiki motornya dan persiapan meninggalkan kamu itu. Namun, Yasmin dengan cepat ikut duduk di bagian belakang.

__ADS_1


"Apa-apaan sih, kamu? Turun!" bentak Rafael kepada Yasmin.


"Tidak mau. Aku ingin ikut bersama denganmu," balas Yasmin sampai melingkarkan kedua tangannya di perut Rafael.


Sifat keras kepala dan manja yang dimiliki Yasmin membuat Rafael yang tidak suka terhadapnya. Selain itu gadis ini juga sering membuatnya kesal.


"Turun, nggak! Atau aku bawa kamu ke kantor polisi, biar kamu ada penjara sekalian. Karena sudah berbuat hal yang tidak menyenangkan kepada orang lain," hardik Rafael.


Mendapat teguran keras dari Rafael membuat Yasmin menciut. Tentu saja ini membuatnya turun dari motor, masih dengan perasaan enggan.


Tanpa menunggu lama-lama Rafael pun langsung melajukan motornya. Dia ingin cepat sampai ke rumah agar tidak mendapat nilai buruk di mata sang kakak ipar.


***


Begitu Rafael masuk halaman rumah terlihat ada mobil milik Gus Fathir. Dia pun memarkirkan motor miliknya ke garasi yang ada di bagian belakang rumah.


"Assalamualaikum," salam Rafael begitu masuk ke rumah.


"Wa'alaikumsalam," balas dua orang yang kini sedang duduk di ruang depan.


Terlihat ada Ning Annisa dan Gus Fathir sedang duduk di sofa. Lalu, Rafael cium tangan kakak iparnya sebagai tanda penghormatan.


Kini giliran Ning Annisa yang mencium tangan Rafael dan mendapat balasan ciuman di kening. Setelah itu pemuda yang memakai seragam sekolah, duduk di samping istrinya.


"Alhamdulillah, sehat. Lalu, bagaimana dengan Rafael sendiri? Sehatkan?" Laki-laki yang berstatus duda itu balik bertanya.


"Alhamdulillah, baik, Gus." Rafael melirik ke arah istrinya yang beranjak dari tempat duduknya. Dia menahan tangan perempuan itu.


"Aku mau ambilkan minuman untuk Ayang," jawab Ning Annisa beradu pandang dengan Rafael.


Hati Rafael berdesir mendengar istrinya memanggil dirinya dengan panggilan kesayangan untuknya, di depan orang lain. Padahal selama ini dia sering memanggil panggilan itu di saat berada di kamar saja.


Gus Fathir memperhatikan interaksi kedua orang di depannya. Dia merasa kalau hubungan adik dan suaminya itu terjalin dengan baik.


"Bagaimana dengan kegiatan sekolahmu?" tanya Gus Fathir saat beradu pandang dengan Rafael.


"Alhamdulillah, baik," jawab pemuda yang kini sedang menyimpan tasnya di pojok sofa.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Pria dewasa yang berparas rupawan di pertengahan kepala tiga.


Ning Annisa datang dengan membawa segelas air teh hangat dan dua toples kue yang dia buat sepulang sekolah tadi. Cemilan ini sangat di sukai oleh kedua mertua dan suaminya.

__ADS_1


"Wah, buat kue lagi!" Mata Rafael berbinar melihat ada kue kesukaannya.


"Aku buatkan karena suamiku ini suka dengan kue buatan aku," balas Ning Annisa.


Gus Fathir tersenyum saat hendak minum. Dia tahu kalau adiknya itu sedang berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik bagi Rafael. Dia juga salut sama Ning Annisa yang sabar dalam mendidik suaminya.


"Terima kasih, Cinta," balas Rafael dengan kedipan sebelah mata.


Melihat hal itu membuat Gus Fathir tersedak. Untungnya tidak menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. Betapa terkejutnya dia saat mendengar panggilan Rafael kepada Ning Annisa.


"Mas, hati-hati," kata Ning Annisa.


Rafael pun langsung memberikan tisu kepada kakak iparnya. Kebetulan posisi dia yang paling dekat kepada Gus Fathir.


"Apa tidak ada panggilan lainnya?" tanya Gus Fathir merasa geli.


Mendengar pertanyaan Kakaknya, membuat Ning Annisa malu sebenarnya. Namun, dia menghargai panggilan yang diberikan oleh Rafael. Baginya itu tidak buruk, bisa saja menjadi doa untuknya.


"Itu panggilan yang paling bagus, menurut aku. Cinta. Siapa tahu Ning Annisa nantinya semakin cinta sama aku," jawab Rafael dengan lirikan nakal pada istrinya.


"Benar juga. Dek, kamu harus bisa membuka hati kamu untuk Rafael," kata Gus Fathir.


"Insha Allah, Mas. Aku juga sedang berusaha," ucap Ning Annisa.


Mendengar ucapan perempuan bercadar itu, membuat Rafael semakin merasa tertantang untuk menaklukan hati istrinya. Dia saja sekarang sudah mulai jatuh cinta pada Ning Annisa.


'Akan aku buat kamu mencintai diriku. Dan hanya aku yang bisa membuat kamu tidak berdaya dalam pelukanku.'


***


Akankah Rafael mampu membuat Ning Annisa jatuh cinta kepadanya? Cara apa yang akan dia gunakan untuk merebut hati istrinya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cekidot ke novelnya.


Blurb:


Ini bukan kisah di mana CEO jadi peran utama, tapi ini hanyalah kisah dari seorang laki-laki sederhana, Dameshta Agung namanya. Seorang pemuda dengan kisah cinta yang begitu pelik bersama, Puspita Putri.


Kisah cinta yang terjalin selama dua belas tahun, terpaksa pupus saat di mana kata-kata tidak direstui keluar dari mulut orang tua Agung lantaran perbedaan sosial, pendidikan, dan agama yang menjadi sebuah alasan.


"Apa semua akan kau biarkan berakhir seperti ini, Dek? Apa kamu tega ninggalin, Abang setelah dua belas tahun kebersamaan, kita?" Agung bertanya dengan nada bergetar pun mata yang sudah memerah.

__ADS_1


"Abang orang yang baik, berpendidikan, dan dari keluarga berada. Jadi, akan lebih baik untuk Abang jika menikah dengan wanita yang sederajat. Jadi, kita cukup sampai di sini."



__ADS_2