
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 9
Rafael dan Ning Annisa pergi ke sekolah dengan kendaraan masing-masing. Mereka diminta oleh pihak sekolah untuk menyembunyikan dulu pernikahan itu.
Saat berada di garasi Rafa melihat helm milik Ning Annisa. Dia merasa tidak asing dengan helm yang memiliki gambar Hello Kitty itu.
'Di mana Aku pernah melihat helm seperti ini, ya?' gumam Rafael sambil memegang helm berwarna pink.
'A-h, iya! Helm guru itu juga bergambar Hello Kitty.' Rafael baru ingat kalau perempuan itu menggunakan helm seperti ini hanya saja warnanya berbeda.
Ning Annisa yang kebetulan datang ke garasi dan hendak berangkat, merasa aneh karena Rafael memegang helm miliknya.
"Ada apa dengan helm milikku?" tanya Ning Annisa sambil menatap heran pada Rafael.
"Aku merasa tidak asing dengan helm seperti ini. Apa helm seperti ini banyak yang menjual?" tanya Rafael.
"Iya banyak. Mau di toko atau di pinggir-pinggir jalan juga ada, apalagi harganya sangat murah," jawab Ning Annisa.
Rafael dengan gentle memasangkan helm itu di kepala Ning Annisa. Dia pun tersenyum senang saat melihat Ning Annisa terdiam dan menatap padanya.
"Hati-hati di jalan, ya, Cinta." Rafael mencium helm Ning Annisa.
Diperlakukan seperti ini oleh Rafael membuat Annisa agak gugup. Lalu, dia pun mengambil tangan Rafael dan mencium punggung tangannya.
'Ya Allah, jantungku!' pekik bahagia Rafael dalam hati.
Rafael merasakan sengatan listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya. Jantungnya pun berpacu dengan cepat.
"Cinta, kamu nggak mencium bibirku," kata Rafael dengan jari telunjuk menyentuh bibirnya sendiri.
"Nih, cium!" Ning Annisa meletakkan boneka gantungan kunci motor ke bibir Rafael. Lalu, dia pun menaiki motor matic miliknya.
"Sekarang bisa begitu. Besok-besok akan ketagihan berciuman dengan aku," ucap Rafael sambil menaiki motor miliknya.
__ADS_1
Ning Annisa mendengar perkataan yang diucapkan oleh Rafael. Tentu saja ini membuat sejujur tubuhnya merinding.
***
Rafael mendatangi teman-temannya yang sudah datang terlebih dahulu. Mereka selalu duduk di parkiran sambil menunggu sumber bunyi. Banyak sekali anak laki-laki yang sengaja nongkrong di sana hanya untuk melihat para murid perempuan cantik yang datang ke sekolah. Lokasi yang paling bagus adalah di dekat pintu masuk bangunan sekolah karena semua murid pasti akan jalan lewat ke sana.
"Rafael kamu terlihat cerah pagi ini," kata Ronald. Sejak tadi dia terus memperhatikan Rafael yang sedang bermain game di handphone miliknya.
Mendengar ucapan temannya itu membuat Rizal ikut melirik ke arah Rafael. Dia bisa melihat mata Rafael yang berbinar berbeda dari biasanya.
"Kamu sedang jatuh cinta?" tanya Rizal sambil menepuk bahu Rafael.
"Si_al! Bisa tidak kau jangan mengganggu aku saat bermain game," balas Rafael dengan marah.
"Tenang, Bro. Kamu jangan emosi begitu, nanti cepat tua," ucap Rizal sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan berdamai.
"Hei, lihat tuh, Yasmin dan teman-temannya datang!" seru para siswa yang tidak jauh dari kelompok Rafael.
"Aku masuk kelas duluan," ucap Rafael karena sel masuk akan berbunyi kurang dari 3 menit lagi.
"Rafael!" panggil seorang perempuan bersurai panjang.
"Rafael, tunggu!" Yasmin berlari mengejar.
Bukan hal yang aneh bagi murid di sekolah itu, mereka tahu kalau Yasmin sangat menyukai Rafael. Namun sering mendapat penolakan dari pemuda itu.
"Aku salut dengan kegigihan Yasmin yang terus mengejar apa harus sejak mereka masih duduk di kelas 2 SMP," kata Ronald sambil berjalan mengikuti temannya.
"Padahal banyak sekali laki-laki yang suka pada Yasmin, tetapi dia terlalu obsesi terhadap Rafael yang jelas-jelas selalu menolak dirinya," lanjut Rizal.
Bel masuk pun berbunyi dan para murid berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masing. Rafael dan teman-teman yang duduk di kelas 3 IPS 2 mengawali harinya dengan pelajaran bahasa Indonesia. Saat pelajaran berlangsung, Rafael melihat Ning Anisa lewat depan kelasnya bersama dengan guru perempuan lain yang mengenakan jilbab. Tiba-tiba saja Rafa mengingat sosok perempuan berjilbab yang sudah membantunya saat melawan para preman.
'Siapa guru perempuan yang bersama Ning Annisa, ya?'
***
"Assalamualaikum, Ning Annisa," salam Ronald dengan senyum malu-malu saat melihat Neng Anisa lewat di depannya ketika mereka berada di kantin.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Ning Annisa dengan ramah.
Terlihat jelas di mata Ronald, kalau dia sangat menyukai Ning Annisa. Matanya tidak berhenti memperhatikan Ning Annisa yang sedang memilih menu makan siang yang ditawarkan di kantin itu.
Mata Rafael terbelalak, dia baru ingat kalau Ronald dulu pernah bilang dia itu menyukai perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan Ning Annisa. Dia tidak menyangka kalau perempuan incaran sahabatnya itu saat ini sudah berstatus sebagai istrinya.
'Aaaa-ahk, aku baru ingat. Bagaimana reaksi Ronaldo saat tahu kalau Ning Annisa itu adalah istriku?'
'Apa sebaiknya aku diam saja, ya? Dan jangan memberi tahu dahulu kepadanya, kalau Ning Annisa adalah milik aku.'
Rafael memperhatikan Ronald yang masih saja menatap ke arah Ning Annisa yang duduk di meja paling pojok. Ada rasa tidak suka menyusup dalam hatinya, saat melihat ada laki-laki yang terus memperhatikan istrinya itu.
"Ronaldo cepat habiskan makananmu!" titah Rafael.
"Kamu jangan mengganggu aku yang sedang melihat bidadariku yang sedang duduk di sana," balas Ronald dengan kesal.
Tangan Rafael pun mengepal dengan erat. Api cemburu mulai menyala di dalam hatinya.
"Apa kamu tahu kalau Ning Annisa itu sudah punya laki-laki yang sangat dicintai olehnya?" tanya Rafael sambil berbisik kepada Ronald.
"Apa? Jangan bohong kamu!" Ronald sangat terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Aku tidak bohong, karena tadi pagi aku melihat dia dan keluarganya sedang bersama dengan seorang pemuda tampan," balas Rafael dengan meyakinkan.
'Aku tidak bohong karena tadi pagi aku kan bersama dengan keluarga Ning Annisa,' kata berapa dalam hatinya.
Terlihat wajah Ronald yang berubah lesu. Dia merasa sudah ditolak sebelum menyatakan cintanya.
"Kamu jangan berputus asa seperti itu karena masih banyak perempuan lain yang cantik," ucap Rafael sambil menepuk bahu Ronald.
"Emang kamu tadi lihat Ning Annisa bersama seorang laki-laki itu di mana?" tanya Rizal penasaran.
'Mam_pus!' Kini giliran Rafael yang wajahnya yang memucat.
***
Rafael akan menjawab apa? Saat tiba-tiba saja ditanya seperti itu. Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu apa berikutnya, baca juga kayak teman aku ini. Ceritanya seru dan bagus, loh! Cus karyanya, yuk!