
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 38
CUP
Ning Annisa pun memberikan ciuman kilat pada Rafael. Namun, pemuda itu tidak terima jika ciumannya hanya singkat begitu. Dia pun menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan dan langsung menciumnya mesra, sampai terdengar suara yang menghentikan kegiatan mereka.
Rafael dan Ning Annisa melepaskan tautan ciuman mereka karena bunyi perut sang suami yang keroncongan. Hal ini membuat Rafael malu setengah hidup dan Ning Annisa tertawa geli.
"Lapar?" tanya Ning Annisa yang masih tertawa kecil.
"Sepertinya," jawab Rafael dengan perasaan malu dan tangan yang diletakkan di perutnya. Dia mengusap-usap perutnya dengan pelan sambil menyeringai malu.
"Bukannya tadi sudah makan malam," ucap Ning Annisa masih dengan tertawa kecil.
"Sepertinya habis dipakai untuk berkelahi tadi," balas pemuda yang kini menggandeng tangan istrinya.
Rafael meminta sang istri untuk membuatkan makanan untuknya. Dia mau sesuatu yang hangat untuk dimakan malam ini.
"Ayang, jangan ganggu! Aku sedang masak, nih." Ning Annisa memasak mie instan pakai telur dan beberapa campuran sayuran.
"Biar romantis, Cinta. Seperti di tivi-tivi dan di cerita novel," balas Rafael.
Mendengar ucapan suaminya membuat Ning Annisa tertawa pelan. Dia selalu dibuat terkejut oleh pemuda yang kini sedang memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau kamu suka baca novel," kata Ning Annisa yang memalingkan mukanya ke belakang untuk melihat wajah suaminya.
"Ini karena dipaksa sama Rizal. Katanya ada cerita novel bagus karya author Santi Suki. Jadi, aku baca, deh! Eh, malah keterusan," aku Rafael.
"Oh, aku tahu Author Santi Suki. Aku juga baca," balas Ning Annisa.
Rafael baru melepaskan pelukannya saat perempuan itu mau menuangkan mie yang baru dimasaknya ke mangkuk yang berukuran lumayan besar. Mereka makan bersama karena Rafael ingin melakukan itu. Ini pertama kalinya mereka makan di satu tempat.
"Awww." Rafael merasakan perih saat memasukan mie ke mulutnya. Luka di ujung bibirnya terasa sakit.
"Mana yang sakit?" tanya Ning Annisa panik sambil memegang wajah pemuda itu.
Rafael membiarkan istrinya menyentuh lembut ujung bibir yang terluka. Dia merasakan rasa sakitnya berangsur menghilang saat perempuan itu melapalkan doa untuknya.
"Bagaimana? Apa aku buatkan bubur saja?" tanya Ning Annisa masih melihat pada wajah suaminya.
"Alhamdulillah. Sudah tidak sakit. Mungkin awalnya akan terasa perih, nanti juga akan terbiasa dan hilang rasa sakitnya," balas Rafael dan melanjutkan makannya.
"Jadi, ingat sama abah dan umma. Mereka itu kalau makan selalu dalam satu wadah, makan bersama," ujar Ning Annisa sambil mengaduk-aduk mie yang masih panas.
"Kalau begitu kita juga makan di piring yang sama mulai saat ini," pungkas Rafael sambil menatap ke arah istrinya.
Ning Annisa balik melihat ke arah wajah suaminya yang berjarak kurang dari 10 sentimeter. Bahkan badan mereka saling bersentuhan.
"Nggak. Nanti malah jadi bahan gosip orang-orang di sini," tolak sang istri.
"Bukannya Cinta sering bilang, abaikan omongan orang yang tidak ada manfaatnya buat kita. Makan bersama itu bisa menumbuhkan rasa cinta dan sayang, dan perhatian sesama pasangan. Hal ini juga bisa memperkuat perasaan di antara kita. Aku ingin istriku juga punya perasaan yang sama dengan aku," kata Rafael melemah di akhir kalimat.
__ADS_1
Hati Ning Annisa merasa tercubit oleh ucapan Rafael barusan. Dia menduga kalau suaminya mengira itu dalam hati dia tidak ada perasaan kepadanya.
"Apa Ayang tidak merasakan semua perasaan dari aku?" tanya Ning Annisa dengan nada tidak suka.
Pemuda itu menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyinduk mie dari mangkuk. Kini perhatian dia pada perempuan di dekatnya. Dia bisa melihat ekspresi wajah sang istri yang kecewa.
"Aku ... merasa kalau istriku ini belum mempunyai perasaan yang sama dengan aku," ucap Rafael dan membuat Ning Annisa langsung berdiri dengan kasar. Sampai-sampai kursi yang tadi didudukinya bergerak ke belakang.
"Aku kecewa sama pemikiran kamu itu," tukas Ning Annisa dan langsung pergi.
Rafael pun berdiri dan ingin mengejar istrinya. Namun, dia urungkan niat itu. Dia kembali duduk dan memikirkan lagi ucapannya barusan.
"Apa aku salah? Bukannya Ning Annisa itu belum mencintaiku. Kalau kasih perhatian dan sayang mungkin sudah ada. Tapi, cinta ...."
"Aku tidak pernah mendengar pengakuan perasaannya kepadaku. Jadi, wajar kalau aku merasa dia tidak punya perasaan yang sama dengan aku.
***
Rafael masuk ke kamarnya. Terlihat Ning Annisa tidur di sofa. Itu menandakan kalau dia sedang tidak ingin tidur bersama dengannya.
"Maaf. Bukannya aku berpikiran buruk. Aku tahu, Cinta sangat sayang dan perhatian sama aku. Buktinya mau mengajari aku sholat, mengaji, dan mengurus semua keperluan aku sehari-hari. Maksud aku tadi itu ... agar rasa cinta dalam diri istriku juga bisa cepat hadir. Aku sangat, sangat, mencintaimu. Aku juga berharap Cinta juga bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu," aku Rafael sambil duduk di lantai dekat perempuan itu dan berbicara dengan lembut.
Ning Annisa belum tidur, jadi dia bisa mendengar semua ucapan suaminya.
***
Apa yang akan terjadi pada Rafael dan Ning Annisa selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga novel kisah sahabatnya Ning Annisa.