
Teman-teman baca sampai selesai ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan segala urusannya.
***
Bab 56
Rafael mendatangi kamar Ning Annisa. Dia mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu dibuka sendiri.
"Assalamualaikum, Cinta," salam Rafael.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Ning Annisa yang baru ke luar dari kamar mandi.
"Masya Allah, Cinta!" Rafael langsung mengunci pintu.
Rafael melihat sesuatu yang sering dibayangkan olehnya. Setelah dulu dia sempat pingsan karena tidak kuat saat melihat tubuh molek dan mulus milik Ning Annisa.
"Ayang, balikan badan dulu!" pinta sang istri.Â
Ning Annisa langsung membenarkan pakaian yang dikenakan olehnya. Dia tidak mengira kalau suaminya sudah datang.Â
"Tidak mau! Aku tidak akan pingsan seperti dulu lagi. Sekarang aku sudah kuat," ucap Rafael sambil tersenyum lebar.
Betapa malunya Ning Annisa saat ini. Dia saat ini sedang memakai lingerie pemberian Aulia. Dia mendapatkan hadiah itu darinya. Niatnya ingin mencoba dan mematut di depan kaca, karena di kamar mandi tidak ada kaca yang besar. Namun, siapa kira saat ke luar dari kamar mandi, suaminya sudah ada di sana.
"Ayang, tunggu. Aku ganti baju dulu!" pinta Ning Annisa sambil membalikan badan dan hendak kembali masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Belum juga Ning Annisa masuk ke kamar mandi, ada dua lengan yang kokoh memeluknya dari belakang. Jantung dia seakan loncat dan terlepas dari tempatnya, selain itu tubuhnya juga terasa ada sengatan listrik yang menggetarkan seluruh tubuhnya.
"Ayang~." Ning Annisa merasa merinding saat Rafael mencium lembut tengkuknya.
"Aku tidak akan melewati batas. Masih harus bersabar enam hari lagi, sesuai perjanjian kita. Tapi izinkan aku untuk memeluk dan menciummu," bisik Rafael dan membuat tubuh Ning Annisa bergetar hebat.
Pemuda itu mencumbu lembut tengkuk dan pipi istrinya. Dia membalikan tubuh perempuan itu dan mencium kening, kelopak mata, hidung, pipi, dan bibir ranum yang sudah menjadi candu untuknya. Ciuman lembut dan menuntut dari Rafael mendapat balasan dari Ning Annisa. Mereka berbagi dan memberikan yang terbaik untuk pasangannya.
Tubuh kedua sejoli itu sudah mulai dibakar ga_irah. Takut melewati batas Rafael pun melepaskan ciuman dan pelukan pada tubuh istrinya.
"Ganti bajunya, Cinta. Kamu sangat cantik dan menggoda malam ini," bisik Rafael dengan napas memburu.
Ning Annisa yang merasakan kedua kakinya lemas pun memaksakan diri untuk melangkah. Dia pun ganti baju di dalam kamar mandi.
Rafael sendiri masih merasakan ga_irah sampai kepalanya terasa sakit. Dia banyak-banyak beristighfar dan berdoa agar bisa melewati godaan ini. Dia melihat ada beberapa baju yang teronggok di atas tempat tidur. Begitu dia angkat dan perhatikan baju berbahan lembut, tetapi begitu menerawang membuat dia semakin terbakar saja tubuhnya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi dengan ujian ini," lanjut Rafael.
"Allah itu tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuannya," bisik Ning Annisa di belakang Rafael dan tentu saja dia sangat terkejut mendengar suaranya.
"Cinta, kamu jangan membuat aku terkejut!" Jantung Rafael terasa copot saking terkejutnya dia. Dia sampai mengusap-usap dadanya yang terasa berdenyut keras.
Ning Annisa tersenyum manis dan mengajak Rafael duduk di tempat tidurnya. Dia membereskan semua lingerie pemberian Aulia dan Mutiara, ke dalam paper bag yang ada di sana.
Kini keduanya duduk saling berhadapan. Ning Annisa menyentuh sudut bibir suaminya yang terluka. Dia merasa miris dan kasihan pada suaminya yang suka terjebak dalam hal seperti ini.
__ADS_1
"Ini sakit?" tanya Ning Annisa sambil mengusap lembut.
"Tadinya sakit, tetapi setelah mendapatkan ciuman dari Cinta barusan sudah tidak terasa sakit lagi," jawab Rafael dengan senyum tipis.
"Kenapa Ayang berkelahi tadi?" tanya sang istri dengan tatapan mata khawatir,kecewa, dan penasaran.
Lalu, Rafael pun menceritakan semua apa yang sudah terjadi padanya sore tadi. Dia juga memberi tahu hukuman yang diterima olehnya.
"Maaf, padahal aku sudah berusaha untuk tidak terlibat dalam perkelahian lagi. Jadi, jangan hukum aku lagi," kata Rafael dengan tatapan memohon. Pemuda ini paling tidak mau jika dihukum oleh sang istri.
Ning Annisa hanya tersenyum tipis dan dikecupnya bibir Rafael yang terluka. Hal ini membuat sang suami diam mematung saking terkejutnya dia.
"Kedepannya jangan suka main adu jotos, jika masih bisa dibicarakan atau dimusyawarahkan. Ayang itu sudah besar dan sudah menjadi seorang suami, jadi biasakan untuk bersikap dewasa dan bijaksana. Jangan kalah oleh hawa napsu," ujar Ning Annisa dengan suara lembutnya dan itu membuat hati Rafael meleleh.
"Aku percaya kalau suami aku ini, orang yang cerdas dan pintar. Bisa berpikir dengan baik dan bersikap bersahabat dengan siapapun," lanjut Ning Annis.
Terlihat raut wajah Rafael yang melembut dengan mata yang berkaca-kaca. Dia pun memeluk tubuh istrinya.
"Aku akan terus menjadi orang yang baik dan memang pantas untuk menjadi pendamping dirimu," ucap Rafael dengan napas yang berat.
Ning Annisa membalas pelukan itu dan mengusap kepala Rafael. Seraya berkata, "Aku percaya kamu akan menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Meski akan banyak godaan dan ujian, Ayang jangan lupa kalau Allah itu selalu melihat apa yang kita perbuat."
Rafael dan Ning Annisa saling menatap dalam pelukan hangat itu. Lalu, saling mendekat dan saat bibir mereka tinggal satu sentimeter akan saling menyentuh. Terdengar pintu kamar diketuk dari arah luar.
***
__ADS_1
😆😆 Siapa yang sudah berani mengganggu keromantisan pasangan muda itu? Tunggu kelanjutannya, ya!