
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 59
Setelah kepergian Rizal dan Anton, tidak lama kemudian datang Revaldi bersama beberapa temannya. Mereka masuk ke kobong Rafael secara diam-diam.Β
"Dia lagi tidur, jadi bagaimana?" tanya salah seorang teman Revaldi yang memakai baju koko putih.
"Tinggal bangunkan saja dia! Apa susahnya," jawab Revaldi sambil mendekat ke tempat tidur Rafael.
Dilihatnya sang rival sedang tertidur lelap. Lalu, Revaldi pun menggoyangkan badan Rafael.
"Woi, bangun!" ucap pemuda yang memiliki suara bas.
Merasa ada yang menggocangkan tubuhnya rafaela pun membuka mata. Dia melihat ada Revaldi dan beberapa temannya sedang berdiri di dekat tempat tidur.
"Apaan, sih! Orang lain sedang tidur jangan ganggu!" ujar Rafael dan kembali memejamkan matanya karena masih mengantuk.
"Bangun, aku mau ngomong sama kamu," kata Revaldi sambil menggoncangkan kembali tubuh Rafael.
Merasa tidurnya terganggu terus akhirnya Rafael pun bangun. Dia duduk dan tatapan mata menyipitΒ kepada orang yang sudah mengganggunya.
"Mau apa?" tanya Rafael galak.
"Kami mau meminta maaf," jawab Revaldi.
Mendengar perkataan dari rivalnya itu membuat Rafael tercengang. Dia takutnya salah dengar karena baru bangun tidur.
"Bisa kamu ulangi lagi! Aku takut salah dengar karena masih ngantuk," pinta Rafael dengan wajah yang kusut khas orang yang dipaksa bangun tidur.
"Kami ke sini mau minta maaf," kata Revaldi mengulang.
'Ternyata yang aku dengar tadi benaran? Aku kira tadi salah dengar.' (Rafael)
"Iya, sudah aku maafkan. Jangan ulangi sekali-kali lagi!" ujar Rafael, kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan melanjutkan tidur yang sempat terganggu.
"Dia serius itu serius, tidak? Orang sedang meminta maaf, dia malah molor lagi," gerutu Revaldi.
"Dia sudah mau memaafkan kita. Sekarang sebaiknya kita pergi!" ajak temannya.
Sebenarnya Rafael belum tidur, dia sedang malas berbicara dengan orang-orang itu. Tadi dia sempat ragu akan ketulusan mereka meminta maaf.
__ADS_1
'Ternyata mereka datang ke sini hanya untuk meminta maaf. Baguslah kalau begitu. Tapi kenapa mereka tiba-tiba menjadi jinak eperti ini, ya? Apa ada sebab di balik semua ini?' (Rafael)
***
Bukan Rafael namanya jika tidak bisa menyusup masuk ke kamar sang istri. Setelah selesai shalat Isya, sudah menjadi kebiasaan orang ini mendatangi kamar Ning Annisa.
Sehari saja tidak memeluk dan mencium istrinya, serasa ada yang kurang. Ibarat tidak makan nasi dan minum air putih. Sesuatu yang harus dia lakukan setiap hari.
"Assalamualaikum, Ning Annisa. Istriku yang sangat cantik," goda Rafael begitu masuk ke kamar istrinya.
"Wa'alaikumsalam, Ayang. Ada apa?" balas Ning Annisa yang sedang memegang buku karena sedang membaca.
"Apa aku tidak boleh datang?" Rafael merajuk.
Ning Annisa pun meletakkan bukunya dan berjalan ke arah pemuda itu. Lalu, dia memeluknya. Cara ini adalah salah satu untuk meluluhkan emosi Rafael.
"Tentu saja boleh. Hanya saja mulai malam ini akan ada bagian keamanan yang berpatroli keliling asrama. Jika, ketahuan kamu berkeliaran di luar maka akan mendapat hukuman," jelas Ning Annisa sampai mana kamu aja sang pemilik hati yang lebih tinggi dari dirinya.
"Cinta, masa kamu tidak ingin bertemu denganku? Aku saja selalu ingin menemuimu," rengek pemuda berbaju muslim dengan tangan panjang.
"Setiap hari kita selalu bertemu saat menuju masjid," balas Ning Annisa menggoda suaminya.
Rafael pun melepaskan kedua tangan sang istri yang melingkari pinggangnya. Dia pun balikan badannya dan hendak mau buka pintu untuk pergi.
"Maaf, ya. Aku sudah mengganggu kamu malam ini," kata Rafael.
"Ayang, jangan marah. Kamu tidak mengganggu aku, kok. Aku tidak ingin kamu mendapat hukuman lagi," kata gadis berjilbab marun.
Ning Annisa membawa Rafael untuk duduk di tempat tidur. Lalu, dia memberikan kecupan di kedua pipi dan bibir sang suami.
Dalam hati Rafael, dia merasa sangat senang. Kalau dia pun menarik tubuh istrinya dan membalas ciuman tadi dengan lembut dan menuntut. Kedua larutan dalam lautan rindu.
"Ayang sudah tidak marah lagi padaku, 'kan?" Ning Annisa bicara di sela-sela ciumannya.
"Iya. Mana mungkin aku bisa marah lama terhadap dirimu," balas Rafael dengan napas yang berat, sebelum dia kembali mema_gut benda lembut berwarna pink segar.
Rafael lihat buku yang tadi dibaca oleh Ning Annisa. Buku itu berjudul, "Jadikan Rumahmu Surgamu". Pemuda itu pun membuka buku itu, banyak sekali membahas tentang menjalani kehidupan rumah tangga yang baik agar bisa hidup bahagia bersama pasangannya.
"Cinta," panggil Rafael pada Ning Annisa yang sedang menyimpan baju hasil lipatannya tadi.
"Iya, Ayang. Ada apa?" tanya sang istri sambil berjalan ke arah suaminya.
"Ini buku milik siapa?" tanya Rafael sampai menunjukkan buku yang tadi dibaca oleh Ning Annisa.
__ADS_1
"Itu punya aku. Pemberian dari seseorang, kenapa?" tanya perempuan yang kini sudah duduk di depannya.
"Tidak, hanya ingin tahu saja," jawab Rafael.
"Cinta," panggil Rafael mesra.
"Iya, Ayang. Ada apa?" tanya Ning Annisa lagi.
"Cinta, tau gak bedanya kamu sama buku?" Kali ini Rafael yang bertanya.
Mendengar pertanyaan dari sang suami membuat Ning Annisa mengerutkan kedua alisnya. Dia merasa suaminya sudah mengajukan pertanyaan yang aneh.
"Ya, tentu saja beda. Aku adalah makhluk hidup dan buku itu adalah benda mati," jawab perempuan itu.
"Salah, Cinta~," ucap Rafael.
Ning Annisa memberenggut karena tidak mengerti. Baginya itu sudah jawaban yang benar.
"Menyerah?" Rafael tersenyum nakal.
"Iya ... iya, aku menyerah," balas Ning Annisa agar suaminya senang.
"Bedanya kamu dengan buku adalah ... kalau buku adalah gudangnya ilmu, sedangkan kamu adalah gudangnya rindu," bisik Rafael dengan tatapan mata yang berbinar jenaka.
Mendengar ucapan suaminya barusan, membuat jantung Ning Annisa, terasa melompat-lompat. Ada rasa senang, bahagia, dan malu mendengar gombalan barusan. Membuat pipi mulus itu merona.
Rafael yang gemes pun menarik tubuh Ning Annisa dan menjatuhkan tubuh mereka. Kini keduanya berbaring dengan kaki terjulur ke lantai.
"Aku sangat bahagia bisa menikah dengan kamu, Annisa," ucap Rafael dengan serius.
"Apa kamu merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan saat ini?" tanya Rafael.
Ning Annisa pun mengulurkan tangannya sambil tersenyum tipis. Belum juga membalas jawaban suaminya, terdengar ketukan pintu.
"Dek, apa Rafael ada di dalam?" terdengar suara Gus Fathir di balik pintu.
"Tuh, dicari sama Mas Fathir," ujar Ning Annisa sambil bangun.
"Ada apa, ya? Tumben." Rafael pun bangun dengan terburu-buru dan tanpa sengaja menarik bantal sampai jatuh.
"Isssh." Rafael pun mengambil batal itu dan hendak menyimpannya lagi ke atas kasur.
"Apa ini?" Rafael menatap tajam pada istrinya.
__ADS_1
***
Apa itu π€π€π§π§? Kenapa Rafael terlihat marah? Tunggu kelanjutannya, ya!