
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 28
Rafael menatap dengan perasaan heran kepada Ronald. Temannya itu melihat ke arahnya dengan sorot mata tidak suka.
"Ada apa dengan kamu? Kenapa menatap aku seperti itu?" tanya pemuda yang kini sedang makan mie ayam di kantin bersama dengan teman yang lainnya.
"Aku tidak menyangka kalau kamu itu orang munafik dan suka menjilat ludah sendiri!" jawab pemuda yang duduk saling berhadapan.
"Maksud kamu?" tanya Rafael tidak mengerti dengan lirikan mata memicing.
"Kamu menyuruh aku menjauhi Ning Annisa. Tapi, nyatanya kamu malah bersama dengannya. Bahkan tertawa dan bercanda dengannya," jawab Ronald dengan mendesis penuh dengan amarah.
Rafael sungguh kesal pada sahabat sejak masih orok. Dia merasa bebas mau apa saja bersama istrinya. Kenapa ini malah menimbulkan masalah di antara mereka.
"Aku bilang kepada dulu jangan berharap kepadanya. Karena memang dia sudah punya pasangan. Kamu tanya saja sendiri kepadanya. Aku melakukan hal ini karena tidak mau melihat kamu yang mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebaiknya kamu cari saja perempuan lain yang bersifat atau mirip Ning Annisa. Tapi, jangan dia!" ucap Rafael dengan tegas.
Ronald berdecih mendengar ucapan dari sahabat baiknya yang selalu bersama sebelum bisa tengkurap sampai sekarang bisa berlari di lapangan basket.
"Memangnya kamu pikir perasaan itu mudah dibuat dan mudah dihilangkan?" bentak Ronald kepada Rafael.
"Tergantung orangnya. Jika dia mau dan bertekad kuat, serta doa yang selalu dipanjatkan. Semua itu akan terjadi dengan mudah," balas Rafael.
__ADS_1
"Kalau begitu buktikan kamu juga bisa mencintai Yasmin!" tunjuk Ronald tepat di muka Rafael.
Suami dari Ning Annisa ini tidak terima dengan sikap temannya ini. Dia pun menepis tangan Ronald dengan kuat sampai menyenggol gelas minuman.
"Jaga bicaramu yang ngawur itu! Asal kamu tahu saja. Aku sudah punya perempuan yang sangat aku cintai. Kedua orang tua kami sudah memberikan restu. Jadi, tidak ada niatan untuk berpaling darinya." Kini giliran Rafael yang menunjuk muka Ronald.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Ronald. Pemuda itu tidak suka jika ada yang menunjuk mukanya. Maka, dia pun menepis tangan Rafael. Namun, ternyata bisa ditahan dan kini kedua orang itu saling menepis dan terlihat seperti berkelahi.
"Hei, kalian berdua berhenti!" teriak Rizal yang baru menyelesaikan makanannya karena tadi dia merasa kelaparan jadi membiarkan kedua temannya itu adu mulut dan adu menepis tangan.
"Tuh, dilihatin sama teman!" lanjut Anton sambil mengalihkan edaran penglihatannya ke seluruh ruangan kantin.
Keributan kedua pemuda itu memancing para siswa dan guru yang sedang makan di kantin. Mereka pada penasaran apa yang kini mereka perselisihkan.
Ning Annisa yang kebetulan di sana juga ikut mencari tahu apa yang sedang terjadi di sisi belakang tempat duduk dia. Betapa terkejutnya dia saat melihat suami dan teman saking menepis tangan dengan cepat.
Ning Annisa ingin sekali dia mendatangi suaminya dan menanyakan ada masalah apa dia dengan teman baiknya itu. Namun, saat ini dia tidak boleh melakukan hal yang mencolok seperti itu. Dia terus memperhatikan ketika Anton dan Rizal sedang berusaha melerai keduanya.
'Semoga saja bukan masalah yang serius.' (Ning Annisa)
Keributan Keempat laki-laki berseragam putih abu-abu sewaktu di kantin mendapatkan teguran keras dari pihak sekolah. Lagi-lagi mereka kena skorsing selama seminggu karena sebentar lagi mau ujian semester.
Rafael, Ronald, Rizal, dan Anton berdiri di depan wakil kepala sekolah. Mereka saling melirik satu sama lain dan berkata lewat tatapan mata. Jika diartikan tatapan mereka adalah seperti ini;
'Semua gara-gara kalian berdua! Kami juga harus ikut menanggung akibatnya.' (Rizal)
__ADS_1
'Dasar wong gendeng! Kami jadi kena hukuman. Nasib … nasib, punya teman ed-an begini.' (Anton)
'Semua ini gara-gara Rafael. Aku yakin kalau dia juga suka sama Ning Annisa. Sudah punya orang yang dicintai dan sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua mereka! Cuih. Aku ingin melihat perempuan seperti apa yang mau sama dia.' (Ronald)
'Ya Allah, semoga saja istriku tidak marah mengetahui suaminya ini lagi-lagi melanggar peraturan sekolah.' (Rafael)
***
Kini Rafael sedang berdiri tegak di dekat anak tangga. Dia diberi hukuman tambahan oleh Ning Annisa setelah sampai di rumah.
"Ayang, kamu ini sudah besar. Seharusnya bisa bersikap dewasa. Jangan kekanak-kanakan seperti tadi!" ucap Ning Annisa dengan memasang wajah kecewa.
"Maaf. Lagian aku ini masih kecil. Kalau sudah besar apalagi dewasa pasti aku sudah diizinkan menyentuh kamu, Cinta," bantah Rafael.
Mendengar ucapan suaminya membuat Ning Annisa malu. Dia rasanya ingin mengacak-acak rambut pemuda yang kini tersenyum tampan padanya sambil menarik turunkan kedua alisnya.
"Hukuman tambahan. Nanti malam kita tidak akan tidur bersama di ranjang," ujar Ning Annisa dengan tegas.
"Nggak mau!"
Perempuan itu pun berlalu pergi ke lantai atas. Dia mengabaikan panggilan dari suaminya.
"Tidak mau, Cinta! Pokoknya aku ingin tidur sambil memeluk kamu!" teriak Rafael dan ini membuat para pelayan yang sedang memperhatikan drama majikan mereka, malah tertawa cekikikan.
***
__ADS_1
Apakah Rafael berbesar hati menerima hukuman tambahan? Atau tetap melanggarnya? Tunggu kelanjutannya, ya!